
Prov Aiman Mahmued.
Ketika keikhlasan sudah bicara maka semuanya akan terasa nyata.
Dimana hanya ada sebuah ketulusan yang aku inginkan bukan paksaan yang suatu hari nanti akan ada yang tersakiti. Itu bukan diriku yang tega menyakiti cinta yang sudah lama tertumpuk di hati.
Hingga aku memutuskan untuk memilih mundur dan pergi bersama ayah kembali ke Turki karna bagiku semuanya akan hanya saling menyakiti jika di teruskan.
Tapi lihat-lah Allah begitu maha besar yang tidak bisa aku jabarkan atas kebesaran nya. Menunjukan jalan 'Jangan mengharapkan sesuatu pada mahluk karna itu akan sia-sia tapi tumpuk lah harapan pada Allah yang berhak atas segala jiwa' Aku percaya janji Allah tidak akan pernah dusta.
Bahwa jodoh, mati dan kehidupan Allah yang memegang segala-nya. Jangan takut bahwa dia akan pergi tapi percayalah jika dia jodoh-mu maka tidak akan kemana.
Halnya yang aku rasakan atas nikmat Allah yang maha besar ketika hati ini ku serahkan takdir Allah yang mana yang akan Allah tunjukan .
Hingga datanglah berita yang membuat aku terkejut, ketika kepasrahan telah menjadi kekuatan.
Tepat dihari Aku dan ayah memutuskan akan berangkat kembali ke tempat Aku di lahirkan.
"Nak... apa kamu yakin akan ikut dengan ayah? "
"Sudah Aiman putuskan Yah "
"Apa kamu tidak mau berusaha untuk mendapatkan-nya "
"Biarlah takdir yang menjawab Aiman hanya sedang belajar ikhlas "
"Maka tersenyumlah dengan apa yang sudah kamu perbuat "
Aku hanya diam mendengar ucapan ambigu ayah yang tidak aku mengerti 'Yang sudah aku perbuat ' aku mengulang kata itu tetap saja aku belum mengerti .Memang apa yang sudah aku perbuat, pikirku menggeleng ayah ada-ada saja.
"Tersenyum-lah Nak..! "
Deg....
Benarkah dia menerimanya, ini bukan mimpi kan,batinku menggenggam erat ponsel Ayah dengan mata yang membulat sempurna membaca pesan yang om Azam kirim pada ayah ,benarkah ini bukan mimpi bahwa pujaanku menerima lamaran itu.
__ADS_1
Tapi entah kenapa seketika ada rasa sedih terselip di hatiku, kenapa dia tiba-tiba menerima !Apa karna terpaksa atau cuma sebatas rasa sedih, pikiran ku terus berputar mencari jawaban.
Kalau itu benar ada nya sama saja aku telah menyakiti hatinya.
"Ada apa Nak ? inikah yang kamu pinta pada Allah, lalu kenapa kamu bersedih ?"
"Aiman takut dia hanya sebatas kasihan atau terpaksa yah "
"Berhusnudzon-lah pada Allah bahwa berita ini adalah ketentuan-nya "
"Yah bolehkah Aiman mengatakan sesuatu! "
Ku lihat Ayah hanya diam dia malah menelisik diriku membuat aku sedikit salah tingkah apa aku salah bicara sehinga ayah menatapku seserius itu.
"Katakan-lah "
"Bantu-lah Aiman mengatakan-nya Yah 'Jangan Ais menerima jika Ais terpaksa' karna Aiman akan senang jika Ais menerima dengan kata hati Ais sendiri. Bukan karna mamah atau bujukan om Azam dan tante Rahma "
"Baiklah Ayah akan mengabulkan-nya"
"Maka bersiaplah besok kita ke rumah om Azam "
Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisku ketika aku keluar dari mobil. Kedua mataku memandang bangunan yang sudah lima belas tahun yang lalu aku menginjakan kaki di kediaman Ahmad tepatnya rumah om Azam dan kini aku menginjakan kaki-ku lagi .
Semakin dekat aku melangkah semakin dadaku bergemuruh dengan rasa gugup yang kian menjadi, padahal ketika aku sidang skrifsi tidak seperti ini, batin ku.
"Jangan tegang Nak.. "
Aku hanya mengangguk ternyata Ayah dari tadi memerhatikan ke gugupan ku.
Kedatangan ku dan ayah di sambut ramah oleh om Azam dan tante Rahma yang dari dulu keluarga ini terpandang keluarga yang sangat ramah dan baik.
Aku hanya diam mendengarkan percakapan antara ayah dan om Ilham. Tanganku mengatuk-ngatuk lututku karna rasa gugup semakin melanda dengan nyaringnya suara langkah kaki mendekat.
Aku hanya terus menunduk dengan rasa yang terus bergemuruh berusaha menormalkan ke gugupan-ku.
__ADS_1
Dimana om Ilham menyuruh sang pujaan duduk di sebelahnya membuat dadaku kian berdetak kencang. Lama aku berusaha menormalkan kegugupan ini tak lama terdengar suara yang mengucapkan salam.
"Loh Bang ada disini ? "
" Bagai mana kabar kamu Adam "
Aku tidak menyangka ternyata Adam adalah adik-nya Ais, jadi yang sering Adam ceritakan tentang kakak nya yang manja, merajuk dan bar-bar adalah Aisyah khoer el-qolayuby orang yang akan Aku persunting.Sungguh dunia begitu sempit,batinku.
Tapi aku sedikit lega dengan celotehan yang Adam keluarkan membuat aku sedikit bisa menghilangkan rasa gugup hingga Aku menegang kembali ketika ayah berbicara semuanya manpak hening tidak ada yang bicara, semua mata tertuju pada Ais termasuk aku yang sesikit melirik satu kata tertangkap dari mataku Ais begitu gemetar mungkin sama sepertiku yang sedang gugup.
"Te...teteh me.. menerima-nya"
Deg....
"Alhamdulillah "
Hatiku sungguh bergetar mendengar dua kata yang Ais ucapkan ,sungguh besar karunia-nya hingga bibirku kelu untuk sekedar mengucap asma Allah yang maha indah karna saking besarnya nikmat-nya hingga aku tak bisa menjabarkan-nya.
Sujud sukur ku panjatkan dengan linangan air mata dengan kasihnya , ayah memelukku erat ku balas tak kalah erat dari ayah.
"Semoga mamah bahagia di sana, Aiman janji akan menjaga-nya seperti yang mamah minta,andai mamah ada pasti Ainam jauh merasa bahagia tapi Aiman yakin mamah ada di sini memeluk Aiman seperti apa yang ayah lakukan I Love Yuo Mom " jerit batinku.
Ku hapus sisa air mataku sambil tersenyum memandang Ais yang sendari tadi menunduk, apakah Ais akan kaget atau tidak ketika melihat wajahku.Wajah yang sering dia pandang walau hanya sebatas mencuri dari balik pundak teman-nya atau dia akan menggandeng tangan Air ketika melewatiku dengan rasa gugup nya.
"Teh"
"Emmz iya Bi ? "
"Sekarang teteh angkat wajah nya dan lihat lah wajah calon suami teteh "
Aku semakin tersenyum ketika Ais semakin gugup untuk mengangkat wajahnya, ku lihat dia perlahan mengangkatnya dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan tante Rahma membuat aku gemas saja. Diamna Ais yang berani ketika di kampus membalas orang yang mengusik nya sekarang dia seperti kucing kecil yang menggemaskan.
Mataku mengunci kedua matanya membuat Aku semakin tersenyum melihat Ais melebarkan kedua matanya hingga sukses melotot mungkin karna terkejut.
Membuatku gemas saja rasanya ingin sekalih mendekapnya erat tak mau untuk melepaskannya tapi apalah daya aku masih belum halal bagi dirinya.
__ADS_1
"Terimakasih... "
Ucapku perlahan.