Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesod 5


__ADS_3

Sudah satu minggu kepergian Dinda membawa luka yang sangat dalam bagi Aiman dan Ilham tapi kedua lelaki itu terus berusaha bangkit, apa lagi Ilham yang tidak mau terus berlarut dalam kesedihan karna masih ada anak nya yang masih membutuh kan nya.


Apa lagi profesi Ilham sebagai kepala Rumah sakit terbesar di Turki harus segera kembali karna banyak pasien yang membutuhkan nya.


"Nak"


Ilham memanggil Aiman yang sedang berjalan ke arah dapur langsung menengok kearah ayah nya.


"Iya, ada apa yah? "


"Kamu tau kan permintaan terakhir mamah mu?"


"Aiman tau yah"


Likir Aiman seperti menyembunyikan sesuatu, ada rasa yang tidak bisa Aiman jabarkan. Ilham hanya menghela napas karna paham apa yang sedang anak nya pikirkan.


"Ayah tidak akan memaksa mu nak, hanya saja itu amanat mamah mu"


"Aiman tau yah, sebenarnya Aiman mau tapi.. "


Aiman menunduk merasakan sakit di hatinya mendengar pakta bahwa wanita yang sudah lama dia tunggu menolak perjodohan itu.


"Ayah yakin Ais pasti menerima nya nak"


"Tapi Aiman tidak mau memaksa kan kehendak walau itu amanat dari mamah, Aiman takut menyakitinya jika dia terpaksa... "


"Allah yang maha tau nak, banyak lah berdo'a.. "


Puk.. puk..


Ilham menepuk pundak anak nya dan langsung meninggalkan Aiman seorang diri. Aiman hanya termenung sambil melihat punggung ayah nya yang menghilang di balik pintu kamar.


"Hamba tidak mau memaksanya ya robb walau itu amanah mamah, tunjukanlah petunjuk mu.Jika dia memang jodoh hamba maka perdekatkan lah tapi jika bukan , hamba mohon gantikanlah dengan wanita yang menerutmu baik untuk hamba.. "


Batin Aiman sambil mengusap wajah nya kasar, Ais adalah wanita yang sudah lama Aiman inginkan,karna dulu Dinda berkata " Nak lihat lah calaon istrimu begitu cantik " ucap Dinda pada Aiman kecil.


"Mah kan Aiman masih kecil bagai mana dia akan jadi istri Aiman?" tanya balik Aiman kecil yang begitu polos sambil memegang selembar poto Ais kecil yang sedang cemberut dengan mata berkaca-kaca.


" Nanti ketika kamu sudah besar, kamu maukan nikahin dia dan menjaganya.. "


Aiman kecil hanya mengangguk walau sebenarnya tidak mengerti waktu itu, tapi Aiman akan selalu menuruti apa yang mamah nya katakan. Hingga di saat itu sampai sekarang Aiman mengklaim bahwa Ais adalah calon istrinya.


"Mah orang yang suruh mamah jaga dia tidak mau mah,apa yang harus Aiman lakukan?.. "


Gumam Aiman sambil mengingat perkataan sang mamah pas Ainman waktu kecil.

__ADS_1


Di sisi lain Aiman berharap bahwa Ais menerimanya, cinta kedua sesudah sang mamah.


Yah Aiman memang mencintai Ais dari dulu karna memang diam-diam Aiman selalu memerhatikan Ais dari kejahuaan bahkan satu tahun yang lalu Aiman memutuskan untuk satu kampus dengan Ais agar bisa melihat calon istrinya dari dekat .


Tapi nyatanya cintanya bertepuk sebelah tangan calon istri yang sudah diharapkan nya tidak mau menerimanya, sungguh miris bukan.


*****


Sedangkan Rahma menatap heran akan raut wajah anak nya yang di tekuk tidak seperti biasanya yang selalu ceria.


Setelah mencium punggung tangan Rahma dan Azam Ais langsung pergi kekamar nya sedangkan tangan Air di cekal oleh Rahma.


"Apa yang terjadi dengan teteh Dek? "


"Lagi galau mi"


Jawab asal Air yang membuat Rahma semakin di buat heran sedangkan Azam hanya biasa saja. Air menghela nafas pelan umi nya ini tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, apa ini waktu yang tepat untuk menceritakan nya? pikir Air langsung menatap serius abi dan umi nya.


"Mi, bi sebenarnya teteh lagi sedih orang yang teteh suka sudah satu minggu gak masuk kampus "


"Apa! "


Pekik Rahma dan Azam membulatkan kedua matanya pasal nya baru tau kalau anak nya sedang jatuh cinta, apa itu alasan Ais menolak perjodohan itu pikir Rahma dan Azam.


"Kenapa Adek baru kasih tau umi kalau teteh menyukai seseorang"


Lilir Rahma merasa bingung kalau begini jadinya harus bagai mana? di sisi lain itu permintaan terakhir dari Dinda tapi di sisi lain juga Rahma tidak mau mengorbankan kebahagiaan anak nya.


"Siapa anak nya? "


Kini Azam yang bicara dengan nada serius membuat Air sedikit takut kalau Ais akan marah besar nanti padanya.Dan kalaupun tidak bicara yang ada malah semakin runyam, ah.. lebih baik aku bilang,batin Air.


"Adek juga kurang tau bi, yang jelas namanya Am si kutub buku"


"Am Si kutu buku?"


Ulang Azam yang merasa heran.


"Anak kampus suka panggil dia Am si kutub buku karna dia anak nya pendiam dan jarang bicara, waktunya Am habis kan hanya untuk belajar. Kemana-mana yang ada di tangan nya hanya buku. "


Jelas Air karna segitu yang dia tau bahkan latar belakang nya Air pun tidak tau walau Air berusaha mencari tau tetap saja tidak menemukan nya.


"Mas"


"Kita coba saja sekali lagi bicara sama teteh,semoga teteh berubah pikiran "

__ADS_1


Ucap tegas Azam membuat Rahma hanya mengangguk saja karna kepalanya sedikit pusing.


Hingga malampun tiba,dimana suasana yang begitu tegang membuat Ais terus menunduk karna rasa takut yang menggerogoti dirinya.


Apa yang harus aku lakukan? batin Ais.


"Teh, teteh sudah mendengar kan rekaman suara tante Dinda sebelum dia pergi,Aiman insyaallah laki-laki yang baik "


"Ta.. tapi dia lebih muda dari teteh mi, Dia masih kecil.. "


"Bukan nya kedewasaan tidak di lihat dari usia "


"Sebenar nya apa yang membuat teteh menolak? "


Deg...


Kini suara Azam yang terdengar tegas membuat Ais seketika gugup dan takut. Ais bukan anak yang membangkang hanya saja Ais benci kata perjodohan karna kata itu yang membuat Ais kehilangan sosok sahabat dan menguak rasa sakit di hatinya lagi.


"Apa karna kematian Ana "


Jeder....


Seketika membuat Ais semakin menegang dan gemetar kedua matanya memerah menahan tangis, sedangkan kedua tangan nya mengepal erat .


"Itu su... "


"Tidak umi Ais tidak mau di jodoh kan titik " protes Ais pada umi dan abi nya lalu dia pergi ke kamarnya.


"Teteh"


"Te.. "


Bruk...


"Astagfirullah "


Teriak Azam dan Air yang dari tadi hanya diam langsung berlari kearah umi nya yang sudah tergeletak pingsan yang berusaha mengejar Ais.


Deg...


Ais langsung berhenti berlari mendengar pekikan abi dan adik kembar nya. Ais langsung berbalik seketika dada nya semakin sesak melihat sang umi lagi-lagi pingsan gara-gara dirinya.


"Teteh.. "


Lilir Rahma di sela rasa sakit bagian kepala dan perut nya hingga suasana menjadi gelap.

__ADS_1


"Bi umi pendarahan"


Duarrr....


__ADS_2