Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 91 Koma


__ADS_3

Wajah panik begitu terlihat jelas di wajah Ais tetkala mendengar dari sang adik kalau sang Umi tidak ada di panti dan sama sekali tidak kepanti.


Bahkan ponselnya juga tidak aktif membuat Ais semakin cemas. Ais hanya bisa menangis dengan sang abi sudah diberi tahu kalau sang umi tidak ada, Entah kemana perginya sang umi.


Aiman dari tadi menenangkan sang istri yang tak kunjung berhenti menangis karna rasa kewatir sang umi tidak ada dimana-mana.


Dan bahkan Air juga tak bisa dihubungi hanya sang asisten saja yang bisa dihubungi tapi itu juga tak bisa berbicara pada Air karna sedang ada pertemuan.


"Sayang sudah yah jangan menangis terus kasian baby, Sekarang sayang makan dulu dari sore belum makan kata bi Sumi."


"Bagai mana Ais bisa makan By, kalau Ais tak tau keberadaan Umi sekarang.Dimana? .. "


"Hubby akan mencarinya tapi sayang makan dulu.. kasihan Baby nanti ikut sedih.."


Ais pasrah saat sang suami menyuapinya dengan sabar, Ais seakan tak ada selera makan membuatnya lambat mengunyah seakan makanan itu tidaklah enak.


"Udah By.. "


"Yasudah sekarang minum vitamin dulu.. "


Ucap Aiman lembut terus setia membantu sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Mungkin Umi pulang kerumah sayang, atau memang masih ada urusan.. "


"Tidak ada By, bahkan Abi juga tidak tau keberadaan umi.Abi masih belum pulang lagi katanya masih ada urusan yang tak bisa Abi tinggalkan. Aneh banget kan By, biasanya Abi akan panik ! "


"Mungkin Abi hanya sedang menutupi rasa paniknya sayang. Udah jangan berlebihan Hubby yakin Umi baik-baik saja. Sekarang Sayang istirahat, biarkan Fatih bersama Omnya melepas rindu karna mungkin di minggu ini juga Adam pasti berangkat lagi ke China.. "


"Ta.. tapi.. "


"Sayang.. "


Ais menghela nafas pelan tetkala nada sang suami sedikit berubah, terkesan dingin tapi ada kelembutan didalamnya membuat Ais merasa bersalah.


"Maafkan Hubby, Sayang. "


Batin Aiman, Aiman hanya tak ingin melihat istrinya terus sedih karna takut terjadi apa-apa pada calon baby kedua. Aiman hanya berusaha menjadi suami siap siaga demi kebaikan sang istri juga, walau bagai manapun kesehatan sang istri adalah nomor satu.


Sedangkan dirumah sakit Air sedang membantu sang umi makan dan minum,bahkan Air juga membantu sang umi kekamar mandi karna takut terjadi apa-apa.


Hati Air begitu perih melihat keadaan sang umi yang selalu menutupi rasa sakitnya dihadapan anak-anaknya terutama dihadapan Sang kakak. Karna umi Rahma tau putrinya orang yang paling lemah diantara kedua saudaranya membuat umi Rahma takut jiwa anaknya terguncang seperti apa yang umi Rahma rasakan dulu.


"Apa kepalanya masih Sakit Mi, biar Air pijitin.. "


"Tidak, Nak. Umi hanya ingin Abimu.. "

__ADS_1


Lilir umi Rahma seakan dirinya hanya tinggal menghitung hari saja tinggal di dunia ini.


"Abi mungkin sebentar lagi datang, jika umi butuh sesuatu bilang aja biar Air bantu.. "


"Terimakasih, Nak. Apa Teteh baik-baik saja! Umi mohon jangan sampai Teteh dan adikmu tau keadaan Umi saat ini.. "


"Akan Air usahakan, Mungkin bang Aiman akan sangat sulit membujuk Teteh.Umi kan tau sikap Teteh bagai mana. "


"Itulah yang umi takutkan, Semoga abangmu bisa mengatasinya. "


"Dek.. "


Umi Rahma tersenyum melihat siapa yang datang, orang yang dari tadi umi Rahma tunggu kehadirannya kini orang nya ada didepan mata dirinya dengan pakaian yang berantakan tapi tetap saja tak menghilangkan kegantengan dan kegagahan walau sudah dimakan Usia.


"Apa yang terjadi!


"Adek baik-baik saja Mas.. "


Ucap Umi Rahma lembut sambil mencium punggung tangan sang suami dengan Khidmat. Air keluar membiarkan umi dan abinya berdua karna tak mau mengganggu kemesraan kedua orang tuanya.


"Kenapa bisa begini, maafkan Mas yang sudah membuat Adek kelelahan kemaren hingga jadi begini.. "


"Bukan salah Mas, ini sudah Takdir. Perjalanan Surabaya -Bandung tak membuat Adek lelah. Karna semua itu tanggung jawab Adek menemani Mas kemanapun Mas pergi.. "


"Kalau begitu Mas kan tinggal dirumah,biar perusahaan Air yang menghendel semuanya.. "


"Dia akan terbiasa, dan mungkin ada yang membantunya! "


Ucap ambigu abi Azam membuat umi Rahma tak mengerti.


"Tapi tidak ada hal yang serius kan? "


Selidik abi Azam membuat umi Rahma hanya tersenyum saja sambil menyandarkan kepalanya yang diperban ke pundak sang suami pelan.


"Alhamdulillah tidak ada Mas.Karna ada gadis cantik yang membantu Adek.. "


"Yasudah sekarang Adek istirahat .."


Umi Rahma menurut saja ketika sang suami membantunya berbaring. Jujur rasanya jantung abi Azam mau lompat melihat keadaan sang istri tapi sekuat tenaga abi Azam menahannya karna tak mau menambah kesedihan sang istri.


"Kau wanita kuat yang Mas kenal, sikafmu turun pada Putri manja kita. Tapi Mas yakin Ais pada akhirnya akan menjadi wanita tangguh seperti Adek. Cukup Putri kita merasakan sakit semoga dia bisa belajar dari rasa sakit itu. "


Lilir abi Azam melihat sang istri yang sudah tertidur, abi Azam menghapus cairan bening yang keluar begitu saja di pelupuk matanya. Melihat keadaan sang istri rasanya separuh jiwa nya ikut terguncang.


" Mas yakin Allah baha baik, dia tidak akan mengambil Adek ketika keadaan Mas masih rapuh. "

__ADS_1


Abi Azam ikut tertidur disamping sang istri, dengan pelan abi Azam mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang dan Cinta.


Hingga mengantarkan mereka pada alam mimpi yang indah dan tidak ada satu orang pun yang tau hanya mereka dan Allah lah yang tau.


"Aku tak bisa mencengkal tanganmu untuk sekedar mencegahmu pergi karna kita bukan Muhrim. Tapi aku Airumi Khoer Al-qolayuby mengajak Mona Lin ber-Ta'aruf agar aku bisa menggenggam tangamu menuju sunah Rosulullah.. "


Kata-kata itu terus berputar di kepala Mona membuatnya susah tidur dari tadi padahal jam sudah menunjukan pukul Sebelas malam.


"Kau begitu unik, kemana saja waktu itu ketika aku mengemis Cintamu dan kau hanya bersikap dingin dan cuek dan malah kata-katamu selalu membuat aku sakit.. "


"Apa karna aku sekarang seorang Muslim atau kata yang pernah kau ucap dulu adalah kebenarannya.. "


Gumam Mona sambil menatap langit-langit kamarnya, hatinya masih ragu dengan perkataan Airumi. Mona takut kata itu hanya belas kasihan saja karna Mona sudah menyelamatkan Uminya.


"Kenapa ketika Aku sakit kamu tak pernah menjengukku sama sekali dimana kau ingin menyerah karna kita berbeda! "


Deg...


Mona langsung ingat berkas yang tadi dia pinta. Berkas dimana dulu dia di oprasi dan siapa yang bertanggung jawab atas oprasi itu karna kedua orang tuanya waktu itu tak tau apapun bahkan kedua sahabatnya pun tidak tau membuat Mona merasa ganjal. Apa lagi tadi Mona memintanya sangat sulit sekali hingga dia harus membayar mahal atas itu.


Dengan cepat Mona bangun dan mengambil tasnya mengeluarkan Map Hijau. Dengan cepat Mona membuka berkas itu yang sedikit tebal padahal kan hanya beberapa lembar.


"Mungkin suster itu terlalu buru-buru.. "


Gumam Mona dengan perlahan tangan lentiknya membuka Map Itu.


Deg....


"Ja.. jadi waktu i.. itu Di.. dia.. "


"Ko.. koma.. "


.


.


.


Bersambung...


.


.


.Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ok

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2