
Takdir siapa yang tau? Semuanya hanya rahasia Allah. Kita sebagai manusia hanya menjalankan skenarionya saja.
Lelah! Kata itu apa akan terucap di bibir seksi Aiman dengan keadaan lagi-lagi membuat sang istri harus kerumah sakit.
Atau kata itu tak akan pernah terucap sama sekali !
Sungguh Aiman yang tau dan merasakannya,Keadaan sang istri membuat Aiman ketakutan. Takut jika sang istri sama seperti Mamahnya yang tak bisa Aiman perjuangkan.
Lagi-lagi Allah menguji Aiman di titik dimana hati Aiman sedang terguncang. Apa Aiman bisa melewati semuanya ? .
Sungguh tak akan ada yang bisa menebaknya kecuali Allah yang maha tau akan segalanya.
Air mata Aiman tak henti-hentinya keluar membasahi kedua pipinya dengan tangan yang menggenggam lembut tangan sang istri.
Sudah hampir tiga jam sang istri belum sadar dari pingsannya apa lagi kata dokter keadaan sang istri membuat renta kandungannya karna terlalu setres atau memikirkan hal yang berat-berat.
Ani sengaja membawa baby Fatih karna tak mau mengganggu Aiman yang sedang sedih. Tak henti-hentinya Ani berdoa supaya Ais cepat sadar.
Kepergiaan umi Rahma begitu membuat Ani juga terpukul. Walau bagai manapun umi Rahma adalah Mamah kedua setelah mamahnya meninggal dan sekarang Umi Rahma juga sama. Pergi meninggalakan semuanya, Yang ada hanyalah kenangan manis yang umi Rahma tinggalkan.
Sosok yang sempurna dengan ketangguhannya, memendam luka yang dalam seorang diri tampa orang lain tau jika dia sedang kesakitan.
Bagai mana bisa umi Rahma mempunyai penyakit mematikan sedangkan setiap hati tak pernah kelihatan sedikitpun gejala-gejalanya. Sungguh seorang ibu yang sempurna memendam semuanya demi anak-anak tak mengkhewatirkannya.
Tak henti-henti baby Fatih menangis karna ingin Ummahnya membuat Ani sedikit kebingungan harus bagai mana menenangkannya.
"Biar Vina aja Kak.."
Ucap Vina tiba-tiba datang membuat Ani sedikit kaget. Ani memang dari tadi duduk di luar sambil menunggu sang suami datang membeli makanan karna memang mereka belum makan sama sekali dari tadi pagi dan siang.
"Tapi kan Vi banyak tugas, bagai mana kalau repot.. "
"Alhamdulillah tugas Vina sudah selesai kan ini sudah jam lima. Sini.. "
Ani langsung memberikan baby Fatih pada adik ifarnya dengan hati-hati karna baby Fatih yang tak diam karna menangis dengan bibir yang memanggil-manggil nama ummah dan babanya.
"Cup.. cup... Fatih mau Ummah sama baba.. "
Baby Fatih hanya mengangguk saja dengan isakannya, matanya memerah dengan hidung yang kembang kempis membuat Vina gemas saja.
"Yasudah Tante bawa Fatih bertemu Ummah tapi ada Syaratnya Fatih gak boleh nangis.Kalau nangis Ummah pasti tak mau bertemu sama Fatih. "
"Hiks.. iya Ta.. tante.. "
"Fatihkan anak laki-laki jangan cengeng, Anak laki-laki itu harus kuat ok. "
"Fatih kuat ko tante.. Fatih cuma nangis aja.. "
"He.. itu sama saja Jagoan, Mau makan tidak! Sepertinya Fatih belum makan.. "
__ADS_1
"Ummah juga belum sama Baba tante.. hiks.. mereka pasti laper... "
"Fatih mau belikan ummah sama baba makan tidak.. "
"Mau.. hiks mau tante.. "
"Yasudah.. Kita cari makan yah.. "
Ucap Vina bahagia karna Fatih menurut pada dirinya. Bukan hal sulit bagi Vina menaklukan bocah karna dia punya seribu cara.
Ani yang melihat itu bernafas dengan lega karna Fatih berhenti menangis.
"Paman.. "
Ucap Ani melihat paman Azam dan yang lainnya datang, tapi Ani sedikit memicingkan kedua matanya melihat siapa yang berjalan di belakang keluarga khoer.
" Bagai mana keadaan Ais, Ani.?? "
Ucap abi Azam nampak terlihat kewatir di wajah abi Azam membuat Ani terenyuh.
"Ais masih belum sadar Om, Di dalam ada Aiman yang menemani. Karna dokter hanya memperbolehkan satu orang di dalam.. "
"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa Ais bisa seperti itu.. "
"Kepergiaan Tante membuat Jiwa Ais terguncang,hingga membuat kandungannya lemah karna terlalu banyak pikiran."
Lilir abi Azam membuat Air dengan sigap memeluk sang abi supaya tidak terjatuh. Air langsung mendudukan sang abi di kursi tunggu.
"Dek tolong belikan minum untuk Abi.. "
Ucap Air membuat Adam langsung mengangguk dan pergi.
"Abi tidak apa-apa kan? "
"Abi tidak apa-apa.."
Lilir abi Azam sambil menyandarkan punggungnya dengan mata yang terpejam.
Rasanya dadanya begitu sesak sekali menerima kenyataan yang ada. Baru belum sehari sang istri pergi dan kini keadaan putrinya drof.Sungguh ujian yang tiada akhir membuat abi Azam takut kalau keadaan sang putri sama seperti istrinya dulu.
Ani menatap sendu om Azam dengan Andi yang baru datang menenteng beberapa bungkus nasi hanya diam tak berani bersua dengan Amira yang hanya bingung melihat wajah-wajah orang dewasa dihadapannya.
Mona sesekali menatap Ani yang sedang menggendong Amira begitupun Ani tapi Mona tak berani mendekat untuk sekedar menanyakan kabar. Karna suasana begitu tegang menunggu Aiman keluar memberikan kabar gembira tapi sayang sudah satu jam mereka menunggu di luar tapi tak ada tanda-tanda Aiman muncul membuat abi Azam semakin gelisah.
Dret... dret...
Suara ponsel ayah Mona berdering membuat ayah Mona langsung menjauh karna takut mengganggu.
Ting..
__ADS_1
Mona merogoh ponselnya tetkala ponselnya berbunyi.
"Ayah harus pergi ada urusan mendadak di kantor, Nanti kamu pulang dianterin calon suami kamu. Sudah ayah kirim pesan! dan sampaikan maaf Ayah pada Tuan Azam kalau ayah pamit duluaan.. "
Seketika Mona melotot membaca pesan dari sang ayah membuat matanya langsung menatap Aiman yang sendari tadi menatapnya membuat Mona buru-buru memutuskan pandangannya.
Sungguh jantung Mona bergemuruh, entah apa yang Mona rasakan, sulit untuk sekedar mempercayainya! .
Ternyata orang yang akan dijodohkan dengannya adalah seorang Airumi Khoer Al-qolayuby. Apa Mona senang atau sedih hanya dia yang tau.
Ketika Mona memutuskan untuk mengubur rasa pada seseorang yang mencuri hatinya berbarengan dimana sang ayah berbicara akan menjodohkannya dengan laki-laki pilihan Mamahnya dan itu juga wasiat terakhir sang Mamah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dimana Mona waktu itu masih berada di China.
Tampa pikir panjang Mona menerimanya tampa bertanya siapakah orangnya, bagai mana kerakternya dan bagai mana akhlaknya.
Karna Mona yakin pilihan Mamahnya tak akan salah dimana Mona hanya sekedar mendengar perilakunya saja membuat Mona yakin bahwa Melepas Rasa itu hal yang terbaik untuknya.
Tapi sungguh Skenario Allah begitu sempurna dimana Mona sudah melepaskan semuanya dan berusaha menjadi anak berbakti dengan menuruti keinginan terakhir Mamahnya walau pertama masih ada rasa ragu dihati Mona karna getaran itu masih ada apa lagi secara bersamaan Air juga menawarkan Ta'aruf padanya.
Hingga Allah Selipakan dulu rasa kecewa dihati Air dimana dulu Allah selipkan rasa itu pada Mona supaya mereka berpikir bahwa tak semua apa yang kita mau akan kita dapatkan.
Harus ada perosesnya dulu walau peroses itu membuat kita sakit tapi ingat semua itu hanya sementara.
Dan sekarang Allah tunjukan kasih sayangnya, dimana Air merasakan kecewa dan sedih secara bersamaan perginya sang umi. Di balik itu semua Allah juga selipkan kebahagiaan pada dirinya.
Bukankah Jodoh rahasia Allah tidak ada satupun yang tau kapan mereka bertemu jodohnya ?.
Hingga pada akhirnya Allah satukan mereka lewat perjodohan yang dibuat Mamah Mona.
Itulah kehidupan siapa yang tau bahwa orang yang sempat kita tolak adalah jodoh kita.
Ada rasa yang tak bisa Air jabarkan, apa dia harus senang atau sedih dua-duanya berada di titik yang sama yaitu Hati.
Wanita yang menolaknya secara tak langsung berkata kalau "Ayah sudah menjodohkanku "
Ternyata orangnya adalah dirinya sendiri.
Sungguh Fabiayiallairabikumatukaziban 'Nikmat tuhanmu yang mana yang kau dustakan '.
.
.
.
Bersambung....
**Jangan lupa tinggalakn jejal yah dengan Like, Komen, dan Vote ok
Terimakasih**...
__ADS_1