
..."*Jika aku tau itu kamu ,...
...maka aku tidak akan pernah menolak...
...sedikitpun"...
...~A~...
...*********...
"Apa teteh yakin ! "
"Insyaallah umi. Do'akan semoga keputusan teteh ini yang terbaik menurut Allah "
"Bukan karna merasa bersalah ! "
Ais menggelengkan kepala tanda yakin dengan semua keputusan nya.
"Alhamdulillah "
Ucap bahagia Rahma sambil memeluk anak-nya .
" Bersiap lah sebentar lagi calon imam teteh akan datang "
Aku tekadkan hatiku untuk menerima perjodohan itu dan mengabulkan permintaan terakhir Almarhumah tante Dinda.
Sudah satu minggu dari kejadiaan umi keguguran membuat aku paham akan takdir kehidupan. Bahwa apa yang Selama ini aku pikirkan salah besar. Apa lagi saat mendengar cerita kisah umi dan abi dulu benar-benar membuat aku terkejut dan juga kisah yang begitu sempurna membuat aku berpikir keras dalam satu minggu ini.
Hingga aku menyakinkan hatiku bahwa dia mungkin jodoh terbaik yang Allah berikan bukan dia yang aku kagumi dan ingin kan.
Bismillah ya Allah bantu hamba untuk terus menyakinkan hati hamba bahwa jalan ini benar-benar jalan yang terbaik bagimu untuk hamba, batin Ais.
Dengan gemetar Ais mengeratkan genggaman tangan nya pada Rahma membuat Rahma tersenyum.
"Insyaallah semua baik-baik saja "
Yakin Rahma menyakinkan anak nya.
Semakin dekat Ais berjalan keruang tamu dada nya semakin bergemuruh, keringat dingin mulai keluar apalagi genggaman tangan nya semakin mengerat karna rasa gugup.
Ais mendengar percakapan om Ilham dan Abi-nya semakin jelas terdengar beriringan langkah Ais yang semakin dekat.
Gejolak hati yang kian memburu membuat Ais semakin gemetar karna ini pertama kalinya dia akan berhadapan dengan calon imam nya.Ais tidak tau bagai mana rupa Aiman sekarang terakhir bertemu ketika mereka waktu kecil.
Apa kah ganteng atau jelek Ais tidak tau yang tau pasti Ais sedang berjuang menormalkan detak jantung nya yang kian bergemuruh.
Debaran yang pertama kali Ais rasakan. Padahal Ais ketika melihat Am tidak seperti itu,hanya rasa nyaman dan damai ketika melihat nya.
Rahma yang sedikit meringis karna cengkraman tangan anak nya semakin kuat membuat Rahma sedikit kewatir dengan keadaan anak-nya apalagi Rahma melihat keringat dingin mulai keluar di pelipis Ais.
__ADS_1
"Tenang lah, beristigfar... rencana Allah jauh lebih indah"
Bisik Rahma membuat Ais mengangguk dan mulai bisa mengendalikan diri-nya.
"Sini duduk di samping Abi"
"Sebelah Abi teh"
Ais hanya menunduk tidak berani mendongkak karna rasa gugup nya yang kian menggerogoti. Ais perlahan mendudukan bokong nya di sisi Azam tapi ada yang kurang Ais tidak melihat keberadaan kembaran nya.
"Kemana ade "
Batin Ais bingung mau mencari takut melihat calon imam nya. Ais belum siap apa lagi debaran jantung aku belum normal takut semakin meledak saja, batin Ais.
"Teteh kenapa ? "
Tanya Rahma yang melihat raut wajah anak nya semakin gelisah membuat Azam, Ilham dan Aiman menatap dirinya.
"Emmmz mi teteh dari tadi tidak melihat Ade? "
"Ade lagi jemput dede Adam dulu, mungkin sebentar lagi nyampe "
"Dede pulang "
"Nya "
Seketika membuat Ais berseri mendengar kabar bahwa adik bungsunya akan pulang setelah satu tahun tidak pulang, sehingga Ais sedikit bisa melupakan ke gugupan nya.
"Waalaikumsalam.. "
Jawab semua orang membuat Ais semakin berseri mendengar suara yang sudah lama ia rindukan.
Adam mencium punggung tangan Abi, teteh dan umi-nya begitupun Air kemudian beralih kepada Ilham dan Aiman.
"Loh Bang ada disini ? "
" Bagai mana kabar kamu Adam "
Deg....
Seketika tubuh Ais menegang mendengar suara yang sendari tadi hanya diam "Suara itu. Mungkin kah... jangan berharap Ais, ingat kamu akan jadi istri orang lain bukan dia " batin Ais.
"Kalian saling kenal... "
" Iya bi , Bang Am ini guru Dede di sekolah, harus nya dede panggil bapak guru tapi bang Am tidak mau ,katanya bang Am kan masih muda bukan bapak-bapak "
Ha.. ha... ha....
" Bang Am ! "
__ADS_1
Semua orang jadi tertawa mendengar ucapan Adam yang terakhir tapi tidak dengan Ais dan seketika tawa itu berhenti ketika suara Ilham terdengar.
"Alhamdulillah berhubung semua nya sudah kumpul bagai mana kita langsung saja "
Jeder.....
Ais langsung menegang.
" Lebih cepat lebih baik " timpal Azam.
" Begini teteh perjodohan ini sudah di rencanakan dari dulu ketika kalian masih kecil hingga sampai nafas terakhir tante Dinda, dia masih tetap ingin kalian bersatu. Aiman menyampaikan pesan katanya 'Jangan teteh menerima jika teteh terpaksa' karna Aiman akan senang jika teteh menerima dengan kata hati teteh sendiri. Apakah teteh menerima perjodohan ini ? "
Ais hanya diam dengan penuturan Ilham ,jadi perjodohan ini sudah lama di rencanakan ! dan apa benar Aiman berkata seperti itu, entah kenapa ada kehangatan ketika dia menyerahkan semua keputusan nya pada ku dan seolah dia akan siap dengan jawaban yang akan aku berikan. pikir Ais
"Bismillahirohmannirohim.... "
Ais menghela nafas pelan membuat semua orang di buat gelisah apa lagi Ais terus menunduk dari tadi membuat Rahma memegang tangan Ais yang sedikit gemetar.
"Te...teteh me.. menerima-nya"
"Alhamdulillah "
Ucap semua orang apa lagi Aiman sampai menitikan air mata dan langsung sujud syukur karna Allah telah mempermudah urusan nya.
"Fabiayiallairabikumatukadziban 'Nikamat tuhanmu yang mana yang telah engkau dustakan ' "
"Segala puji atas dirimu ya robb, terimakasih atas jalan yang kau kehendaki . mempersatukan kami dengan jalan-mu, bing-binglah hamba supaya hamba terus ada di jalan mu ya robb "
Jerit batin Aiman duduk kembali yang langsung dapat pelukan dari Ilham mengatakan 'ini lah jalan takdir nya yang maha sempurna' .Begitupun Aiman langsung membalas pelukan Ilham.
Sedangkan Azam dan Rahma meneteskan air mata haru atas jawaban yang anak nya berikan dan reaksi dari Aiman membuat Azam dan Rahma yakin bahwa Aiman jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuk putri manjanya.
Berbeda dengan Air dan Adam hanya diam melihat kebahagiaan yang kedua orang tua-nya tunjukan, apa lagi Ilham dan Aiman.
Aku belum siap jika harus berjauhan sama teteh, walau teteh ngeselin tapi aku sayang sama teteh, dan pasti aku akan merindukan tingkah manja, jail dan bar-bar nya.
Batin Air dan Adam sambil menatap Ais yang setia terus menunduk dari tadi enggan untuk mengangkat kepalanya.
"Teh"
"Emmz iya Bi ? "
"Sekarang teteh angkat wajah nya dan lihat lah wajah calon suami teteh "
Dengan gugup Ais perlahan mengangkat wajah nya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Rahma .
"Bismillahirohmannirohim... "
Senyuman indah bak bunga mekar yang menentramkan jiwa yang sunyi membuat siapa saja akan terpesona dan tidak akan mau berpaling darinya.
__ADS_1
Deg....
"Ya Allah mungkinkah....! "