Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 69 Kepergian


__ADS_3

Mata sayu seseorang menatap kerinduan laki-laki dihadapannya yang sudah hampir dua tahun menghilang.


Bibirnya mere`ka mengelus wajah laki-laki dihadapannya dengan lembut penuh kasih sayang.


Tetesan cairan bening tak henti-hentinya keluar di pelupuk netra coklat penuh rindu dan sesal itu.Badan yang dulu gagah dengan pahatan sempurna kini kurus kering dengan rambut gondrong dan bulu-bulu yang menghiasi wajahnya.


Tapi seorang ibu,walau bagai manapun bentuk dan perubahan sang anak dia akan tetap mengenalinya karna ada ikatan batin diantara mereka yang tak bisa diputus.


"Na.. nak.. "


Ucap lemah seorang ibu yang begitu merindukan sosok anak penurutnya, terus mengelus wajah sang putra dengan mengamatinya.


Seolah penglihatan ini tatapan yang terakhir baginya.


"Ma.. ma'afkan Bagas Mah.. ma'afkan Bagas hik.. hik... "


Ucap Bagas bergetar memegang tangan sang mamah erat, terus menciumi tangan yang dulu selalu telulur memberi kasih dan cinta. Tapi sekarang tangan itu begitu dingin lemah seakam akan terjadi sesuatu yang besar.


Sedangkan Vina terus terisak dipelukan Andi yang berdiri di sisi kiri brankar sang Mamah. Andi berusaha kuat menahan tangis jika semuanya sedih siapa yang akan menjadi pelindung buat saudara-saudaranya seakan Andi mempunyai pirasat.


"Ba.. bang.. "


Lilir sang Mamah menatap teduh wajah putra sulungnya membuat Andi mendekat dengan Vina terus memegang lengan sang Abang karna tidak kuat.


"Ber.. berjanjilah jaga putri Ma.. mamah.. "


Ucap sang Mamah dengan nafas tercekat membuat Andi menggeleng memegang tangan satunya.


"Ma.. mamah sangat mencintai ka.. kalian da.. dan.. "


"Mah Andi mohon jangan banyak bic.. bicara.. hik.. "


"Bing.. binglah Ba.. bagas supaya dia kembali keja.. jalan yang be.. benar.. "


"Hik.. Mah... Ma'afff... "


"Karna Mamah tak bisa me.. menuntunnya. Ma... ma..mah su.. sudah ta.. tau semu.. anyah.. "


Deg...


Bagai jutaan panah menancap tepat di jantung Andi dan Bagas dengan pikiran yang kosong menatap luka, kecewa dan rindu jadi satu di tatapan sendu hingga tatapan itu tertutup.


Andi dan Bagas diam mematung tak bergeming seakan apa yang mereka lihat dan dengar itu tak mungkin.


Andi merosot kebawah dengan tatapan kosongnya. Jadi selama ini sang Mamah sudah mengetahuinya! Siapa yang memberi tau? Bodoh.. bodoh kamu Andi kenapa kamu tidak menyadari kalau memang akhir-akhir ini kesehatan Mamahnya menurun. Apa karna mengetahui kalau adiknya di penjara? Siapa yang tega memberitahu Mamah, Batin Andi mengepalkan tangannya kuat.


Sedangkan Bagas memeluk tubuh sang Mamah erat dengan jeritan Ma'af dan penyesalan. Apa yang harus Bagas lakukan Mah, jangan pergi Mah... Ma.. ma'afkan Bagas yang sudah mengecewakan Mamah,jerit Batin Bagas.


Vina tak kalah menjerit meraung mengguncang tubuh sang Mamah yang sudah tak bernyawa.


Senyuman indah dan pelukan hangat sang Mamah baru malam Vina rasakan ,sambil berbagi cerita. Ta.. tapi sekarang bibir itu hanya diam dengan tangan yang dingin tak mau membalas genggaman Vina lagi.


Ke.. kenapa secepat ini Mamah pergi, Vi.. vina belum sempat membahagiakan Mamah. Ta.. tapi Mamah mala.., Batin Vina tertahan membuat dadanya sesak.


Vi.. vina sudah gagal Mah, untuk menyembuhkan penyakit Mamah. Vina me.. memang tak ber.. berguna, Vi.. vina.


Bruk....


Andi terkejut menarik semua pikirannya yang sempat melayang jauh hingga tertarik kembali karna timpaan dari tubuh sang adik yang pingsan menimpa tubuhnya.

__ADS_1


Tangisan pilu didalam ruangan menyayat hati seseorang yang berada diluar ruangan, dadanya terasa sesak. Entah apa yang jelas hatinya sakit.


Beberapa Dokter dan Suster masuk kedalam melewati orang-orang yang tampak diam mematung dengan rautan wajah sendiri.


Ani hanya bisa menunduk memeluk Amira yang dari tadi menangis, sesekali menyeka air mata yang sempat keluar. Ani tak berani menatap Ais yang ada dihadapannya,kenapa semua ini begitu rumit, batin Ani.


"Brengsek kembalikan Mamahku, akan ku bunuh kaliannn... Jangan pisahkan kami.. "


Teriak Bagas di dalam mengamuk karna Dokter mencabut semua alat yang menempel di tubuh pasien. Aiman masuk kedalam menyuntikan obat penenang karna suasana begitu rumit.


"Angkat Vina dan letakan di brankar disamping kakaknya.. "


Perintah Aiman pada salah satu perawat dengan cepat Andi langsung mengangkat tubuh sang adik lalu menidurkannya perlahan.


Buk.. buk...


Brak....


Bogeman melayang di pipi dan pelipis Aiman membuat Aiman tersungkur hingga menjatuhkan alat-alat medis.


Darah segar keluar dari hidung dan sudut bibir Aiman.


Semua orang terkejut dengan apa yang Andi lakukan.


Andi menatap Aiman menyala dengan kepalan tangan yang menguat, memancarkan amarah yang besar.


Dokter Hakim mengisyaratkan pada suster dan beberapa perawat membawa jenazah, dan dua brankar adik kakak yang sedang pingsan di pindahkan keruang berbeda.


"Brengsek kau telah membunuh Mamahku.. "


Buk..


Bentak Andi menyala langsung menendang Aiman kembali membuat Aiman tersungkur untuk kedua kalinya.


"Apa yang membuat Anda menyalahkan saya atas kematian Ibu Anda ? "


Ucap Aiman bingung.


"Kalau saja kau tidak memberi tahu Mamah apa yang terjadi pada Bagas pasti Mamah gak akan sakit-sakita.Kalian memang brengsek.. "


"Wallahi (Demi Allah )saya tidak melakuakan seperti yang anda tuduhkan "


Bantah Aiman karna memang dirinya tidak tau apa-apa, apa yang sebenarnya terjadi pasti ada yang mengadu domba keluarga mereka.


"Mamah bicara kalau ada yang memberi tahu kalau Bagas berada di Lapas, sedangkan keluarga kalianlah yang tau semuanya.. "


"Kau dendam bukan karna istrimu per.. "


"Cukuppp... "


Potong Aiman menyala, dari tadi dia tak melawan karna memaklumi jika Andi sedang marah tapi tak boleh ada satupun yang menyinggung masalah itu, sekuat tenaga Aiman menjaga perasaan sang istri supaya tidak mengingat hal menjijikan itu lagi tapi Kakak dari laki-laki berengsek itu berani mengungkitnya.Demi apapun Aiman tak bisa menerimanya.


"Apa yang kau katakan , Beristigfarlah.Saya yakin ada yang mau mengadu domba keluarga kita.. "


"Haa.. ha.. mengadu domba, Siapa yang mengadu domba.Aku tak punya musuh kecuali kau yang sudah membunuh Mamahku.. "


"Berhentiii... "


"Papah... hik.. "

__ADS_1


Deg..


Teriak Ani diiringi tangisan Amira yang langsung memeluk kaki sang Papah yang akan menyerang Aiman lagi.


"Pa.. pah hik.. pah.. Oma.. "


"Apa yang kamu lakukan Andi, apa kamu tak waras hah.. Mamah kamu pergi kenapa kamu malah menyalahkan orang lain, Aku kecewa sama kamu.. "


Ucap Ani lilir dengan dada yang begitu sesak melihat dan mendengar apa yang Andi katakan.


"Ak.. aku.. "


"Pergilah urus kepulangan Mamah.. "




Sedangkan didalam ruangan yang serba hitam pekat seseorang duduk santai dengan satu kaki diatas pahanya.



Meminum segelas air anggur yang begitu menyegarkan tenggorokannya.



Bibirnya dari tadi tak lepas dari tawa mendengar kabar dari anak buahnya.



"Ha.. ha.. tak akan ku biarkan kalian hidup tenang setelah apa yang kalain lakukan padaku.. ha.. ha.. "



"Kalian semua harus merasakan apa yang aku rasakan dulu.. ha.. ha.. Keluarga Khoer, Mahardika dan Mahmued kalian harus mati. "



Ucap seseorang dengan tawa yang menyeramkan membuat siapa saja akan ketakutan mendengar suaranya.



.



.



.



Bersambung....



He.. he.. jangan lupa like, komen dan vote

__ADS_1



Terimakasih...


__ADS_2