
Adzan subuh sayup-sayup berkumandang indah bagi siapa saja yang beriman mendengarnya. Memanggil setiap hamba Allah disetiap penjuru dunia untuk menghadap pada-Nya.
Seakan Allah berkata "Bangunlah hamba-hambaku, datanglah padaku dan mintalah apa yang kamu inginkan pasti akan aku berikan sesuai apa yang kamu butuhkan" .
Bagi siapa saja yang beriman pasti menyeru undangan Allah dengan bangun dan melaksanakan kewajibannya.
Halnya apa yang Air lakukan, dia sudah siap dari tadi diatas sejadahnya menunggu adzan subuh berkumandang setelah berwirid dari sholat tahajudnya.
Itulah yang selalu umi Rahma dan abi Azam ajarkan pada anak-anaknya supaya mengerjakan amalan-amalan yang membuat kecintaan Allah pada hambanya.
Air berdiri dari sejadahnya menuju tempat tidur dimana orang yang dia cintai masih betah dengan bantalnya membuat sudut bibir Air tertarik kesamping mengingat kejadiaan semalam yang Air lewati bersama sang istri hingga membuat sang istri kelelahan hingga Air tak tega membangunkan sang istri pada waktu Sahur.
"Sayang...ayo bangun sudah subuh.."
"Emmz "
Mona hanya menggeliat saja dengan mata yang masih terpejam karna kantuk. Bagai mana tidak ngantu Mona baru bisa tidur jam dua malam karna ulah sang suami.
"Ayo bangun.. "
"Mas.. aku masih ngantuk.. "
Ucap serak Mona dengan mata yang masih terpejam mempertahankan selimut yang sang suami tarik.
"Sholat subuh dulu.. ini mau hampir habis lo. Kalau gak bangun selimutnya aku tarik nih.. "
"Ah... Mas.. kan masih ngantuk. "
Ucap Mona sedikit kesal langsung bangun dengan wajah bantalnya, Air menelan air liurnya kasar melihat pemandangan yang memanjakan matanya.
Bagai mana tidak sang istri mungkin lupa kalau selimutnya hanya menutupi bagian perutnya saja hingga kaki.
"Ah... Mas mesum.. "
Pekik Mona yang baru sadar sepenuhnya melihat sang suami hanya diam saja membuat Mona mengikuti arah pandang sang suami. Seketika mata Mona melotot tak percaya hingga Mona langsung menarik selimutnya kembali.
"Awwwsss... "
"Kamu kenapa? "
" Sakit Mas, anu aku.. "
Grep..
Tampa pikir panjang Air langsung menggendong sang istri membuat Mona dengan replex mengalungkan kedua tangannya keleher sang suami karna takut jatuh.
"Ah.. pelan-pelan Mas.. "
"Ini juga pelan-pelan, makannya kamu diam.. "
"Tapi sakit Mas.. "
"Iya... iya Mas pelan-pelan, tapi jangan salahkan jika mandinya tak bersih.. "
Ucap Air sedikit kesal karna sang istri selalu mengganggu aktifitasnya menggosok punggungnya padahal Air buru-buru karna takut waktu subuh habis.
"Sudah, Masih bisa jalan gak.. "
"Bisa Mas.. "
Air langsung keluar duluan di susul Mona dengan jalan bak penguin saja mengikuti sang suami.
Air tak bisa membantu karna sudah punya wudhu begitupun Mona.
__ADS_1
Mereka melaksanakan kewajibannya berjamaah, hal pertama bagi Mona dan Air sholat menjadi Imam .
Sesudah sholat Air berdzikir memohon ampun pada Allah dan berdoa semoga Air bisa menjadi pemingpin rumah tangga yang sholeh.
Air berbalik menghadap sang istri dengan lembut Mona mencium punggung tangan sang suami dengan khidmah begitupun Air mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang dan cinta.
"Terimakasih sudah menjaga kehormatan Adek untuk Mas.Dan maaf semalam Mas tak bisa mengontrolnya.. "
"Itu sudah menjadi kewajiban Adek menjaga Marwah 'Kehormatan' Adek sendiri untuk Adek persembahkan buat suami Adek. "
Ucap Mona sedikit malu karna sang suami mengingatkannya pada malam panjang tadi.
"Ngomong-ngomong kenapa Mas suka panggilan Adek, Mas ? "
Tanya Mona karna panggilan itu memang Air yang menginginkannya.
"Mas suka aja kaya panggilan Umi sama Abi.. "
"Oh. Kirain ada hal lain.. "
" Pada intinya ketika Adek memanggil aku dengan sebutan Mas, kaya aku seperti orang yang Adek Cintai seutuhnya. "
"Gombal.. "
Ha.. ha...
Air hanya tertawa melihat semburat merah yang muncul di pipi sang istri membuat Air menyukainya apa lagi tingkah malu-malu sang istri, sangat menggemaskan.
Baru kali ini aku melihat senyuman tulusnya dia tunjukan dibadapanku, padahal sudah Enam tahun aku menginginkan senyuman itu tapi hanya kedinginan saja. Senyum yang begitu indah dengan lesung pipi di sebelah kiri menghiasi wajahnya membuat senyuman itu terkesan manis, batin Mona melamun melihat sang suami yang tersenyum lepas.
Mona menagkup wajah sang suami lembut membuat Air langsung memberhentikan tawanya.
"Senyuman ini begitu indah ku lihat dan tawa ini bak melodi mengalun indah ditelingaku. Kenapa baru sekarang aku bisa melihatnya.. "
"Maaf.. "
"Jangan rubah di diri Mas apapun itu, karna Adek menyukainya. Biarlah sikap dingin itu Mas tunjukan pada orang lain tapi tidak dengan Adek.."
"Baiklah tuan putri sekarang kita harus beres-beres mungkin sesudah sarapan kita pulang kerumah Abi.. "
"Laksanakan pangeran.. "
Ha... ha...
Mereka tertawa kembali menertawakan tingkah konyol masing-masing. Rasanya tak pernah melintas dibenak Air dan Mona mereka akan membangun rumah tangga bersama.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayang pada keluarga mereka. Menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah, dan Warohmah.
Amin...
Berbeda dengan Ais dan Aiman yang sedang menikmati suasana pagi di hotel dengan dua cangkir teh dan malkis roma kelapa mengawali pagi mereka sedangkan Fatih dengan susunya.
Aiman memutuskan besok pulang kerumah karna Aiman ingin berkumpul dengan keluarga kecilnya disela kesibukannya yang padat.
Ais hanya mengiyahkan saja keinginan sang suami toh Ais juga menginginkan hal itu.Bisa mengahabiskan waktu sehariaan dengan sang suami karna komunikasi dan kebersamaan sangat penting dalam rumah tangga.
__ADS_1
Aiman mengajak sang istri dan putranya jalan-jalan menikmati suasana kota Bandung tak lupa Aiman juga mampir ke Gedung Sate.
"Sayang coba ceritakan sejarah Gedung sate?? "
Ais tersenyum mendengar ucapan sang suami, hal itu kecil bagi Ais karna memang Ais menyukai sejarah.
"Gedung Sate adalah kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Bangunan ini merupakan aset sejarah yang dikenal tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga internasional. Lebih dari 90 tahun umurnya saat ini, Gedung Sate masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan pemerintahan Jawa Barat menuju tercapainya masyarakat yang gemah ripah repeh rapih kerta raharja. Semula, gedung indah ini disebut Gedung Hebe, yang diserap dari singkatan GB atau Gouvernements Bedrijven. Namun sejak 1960-an, masyarakat Bandung dan sekitarnya memberi nama Gedung Sate. Sebutan ini terus dipakai hingga sekarang. Alasannya, tak lain karena di puncak menara gedung terdapat tusuk sate dengan enam ornamen berbentuk jambu air. Konon, keenam ornamen tersebut melambangkan modal awal pembangunan pusat pemerintahan sebesar enam juta gulden. Tusuk sate yang tertancap di puncak bangunan ini semakin menguatkan ciri khasnya.
Setelah sekian lama menjadi pusat kegiatan Jawatan Pekerjaan Umum, pada 1982 Gedung Sate beralih fungsi menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat. Semenjak itu pula Gedung Sate memiliki sebutan baru, yakni kantor gubernur. Ruang kerja Gubernur dan wakilnya terletak di lantai dua. Ruangan ini dibangun pada tahun 1989 dan hingga kini lebih dikenal dengan sebutan Gedung Baru.
Gedung Sate berbentuk bangunan persegi panjang, membentang dari selatan ke utara, dan bersumbu lurus ke tengah-tengah Gunung Tangkubanparahu. Sayap timur Gedung Sate ditempati Kantor Pusat Pos dan Giro yang pada tempo dulu disebut PTT. Sedangkan bangunan tambahan pada sayap barat, merupakan Gedung DPRD Propinsi Jawa Barat yang baru dibangun sejak tahun 1977. Di bagian timur dan barat Gedung Sate terdapat dua ruangan besar yang mengingatkan pada ruang dansa (ballroom) yang sering terdapat pada bangunan Eropa. Kedua ruangan ini diperindah dengan dua lampu gantung. Tidak diketahui jelas, kedua ruangan besar ini digunakan untuk kegiatan apa pada masa kolonial Belanda. Namun, sejak menjadi pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat, keduanya dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur. Tempat ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan atau acara resmi. Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa biro beserta stafnya.
Di lantai paling atas Gedung Sate terdapat menara yang tidak dapat dilihat langsung dari bawah. Untuk menuju bangunan teratas di gedung ini dapat menaiki tangga kayu atau menggunakan lift. Terdapat enam tangga yang harus dinaiki. Setiap tangga memiliki 10 anak tangga. Sementara lift baru dibangun pada tahun 1998. Di puncak menara gedung, pengunjung dapat melihat suasana apik tempat dipamerkannya hasil-hasil pembangunan di Jawa Barat. Menara ini dilengkapi dengan teras kopi. Ruangan ini dirancang sedemikian rupa seperti layaknya kafe-kafe terkenal di Kota Paris. Dari sini pengunjung dapat merasakan udara Kota Bandung dengan pemandangan Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan Jawa Barat yang bersumbu lurus dengan Gunung Tangkubanparahu, serta pemandangan sekitar Kota Bandung."
Jelas Ais panjang lebar tampa jeda membuat Aiman di buat melongo saja begitupun Fatih.
"Ha.. ha.. kenapa Hubby bengong, Ais pintarkan "
Bangga Ais membuat Aiman mengangguk saja begitupun Fatih seakan mengerti padahal dia tak paham.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, Komen, dan Vote ok
__ADS_1
Terimakasih...