Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 90


__ADS_3

Tak henti-hentinya Ais mencari sang umi di penjuru rumahnya tapi tak menemukan sang Umi.


Entah kemana perginya membuat Ais kewatir apalagi pergi sang umi tak memberitahunya.


"Dek Lihat umi tidak? "


Tanya Ais pada Adam yang baru selesai mandi, Adam hanya menggeleng karna dari tadi dia istirahat dikamar jadi tak tau.


Dengan cepet Ais pergi kekamar guna mengambil ponselnya.


"Umi kenapa gak ajak Ais kalau mau kepanti.. "


Gumam Ais sambil menghela nafas pelan setelah membaca pesan singkat sang umi. Rasa kewatir yang tadi begitu saja menghilang melihat pesan yang sang umi kirim kalau dirinya akan pergi kepanti dan mungkin ponselnya akan sulit dihubungi.


Ais meletakan kembali ponselnya karna sudah tau dimana sang umi berada.


"Gimana Teh ! "


Tanya Adam yang melihat sang kakak turun.


"Umi lagi di Panti dan mungkin sulit untuk menghubunginya karna umi selalu tak membawa ponsel jika sudah bermain dengan anak-anak panti.. "


"Yasudah nanti habis magrib Dede jemput sekalin sudah lama kangen panti.. "


"Trus itu Dede mau kemana sudah rapih.. "


"He.. he.. Dede mau ajak Fatih jalan-jalan.."


"Yasudah jadi pulangnya langsung jemput Umi gitu.. "


"Iya.. Teteh pintar.. he.. he.. "


"Om Ayo.. "


Teriak baby Fatih yang sudah ganteng dengan baju kemeja yang dilipat sampai sikut dipadukan celana levis sampai lutut membuat baby Fatih seakan orang dewasa saja. Ais yang melihat penampilan sang putra tersenyum geli.


" Dede berangkat dulu Teh, Ayo jagoannn... "


"Dadah... Ummah, Nenek.. "


Teriak Fatih sesudah mencium punggung tangan sang Ummah.


Sedangkan Air dari tadi mencari keberadaan sang Umi yang tak kunjung ketemu membuat dirinya prustasi dengan rasa kewatir yang begitu besar. Air takut terjadi apa-apa pada sang Umi melihat kondisi sang umi yang sering sakit kepala.


Air sudah tau penyakit yang di derita sang umi namaun Air menyembunyikan nya dari sang kakak dan adiknya karna takut membuat mereka kewatir apa lagi sang kakak yang kondisinya tidak boleh memikirkan perkara yang berat-berat.


"Ya Allah lindungilah Umi hamba, semoga tidak terjadi apa-apa pada dirinya.. "


Gumam Air sambil mengusap wajahnya perustasi.Sesudah sholat Ashar Air langsung menuju rumah sakit yang jadi harapan Air terakhir. Semoga umi Rahma berada disana dan saat ini pula ponsel sang umi sulit dihubungi membuat Air bertambah cemas.


Perlahan mata itu terbuka dengan kepala yang berdenyut nyeri, seluruh tubuhnya begitu kaku membuat umi Rahma sulit bergerak.


Bau obat begitu menyengat membuat umi Rahma tak tahan pada baunya.


"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar.. "


Umi Rahma langsung melihat kesamping dimana suara itu berada.


Gadis cantik dengan baju gamis yang melekat ditubuhnya berpadu kerudung yang senada dengan baju yang gadis itu pakai. Mata binar terpancar dengan bibir yang tersenyum, umi Rahma menyerngit bingung siapa gadis itu tapi umi Rahma seakan tak asing dengan mata sipit itu.


"A.. apa kita saling mengenal.. "


Lilir umi Rahma lemah tapi masih terdengar oleh telinga gadis itu, perlahan gadis itu mendekat dan duduk dibangku samping brankar.


"Gimana keadaan Ibu, apa ada yang dirasa. Sebentar saya panggil dokter.. "

__ADS_1


Ucap gadis itu bahagia tak menghiraukan ucapan umi Rahma yang bertanya.


"Ja.. jangan... "


Gadis itu menyerngit bingung tetkala mendengar larangan umi Rahma dengan pelan gadis itu memegang tangan umi Rahma lembut.


"Tapi Ibu harus diperiksa dulu.. "


"Ba.. baiklah.. "


Pasrah gadis itu ketika melihat umi Rahma menggeleng dengan tatapan memohon membuat hatinya terenyuh.


"Ke.. kenapa saya bisa ada disini ? "


"Emmz Sebelum nya sa..saya minta maaf karna sudah lancang pada ibu.Ibu sakit tumor Otak setadium dua yang mengharuskan ibu segera oprasi jika tidak tumor itu akan berkembang semakin jauh. Ja.. jadi saya dengan lancang menyetujui kalau ibu harus segera di Oprasi karna sa.. saya.. ta.. takut.. hik..."


"Te.. terimakasih... "


Deg...


Gadis itu tercekat tetkala mendapat respon baik dari umi Rahma, padahal dari tadi gadis itu sangat takut jika tindakannya membuat umi Rahma atau keluarganya nanti marah.


"Ib.. ibu tidak marah !!... "


Umi Rahma tersenyum mendengar penuturan gadis yang ada disampingnya, terlihat jelas rasa cemas dan takut di wajah gadis itu.


"Te.. terimakasih sudah menyelamatkan nyawa saya.. "


"Bukan saya ,Buk. Tapi Allah yang sudah menyelamatkan nyawa ibu, biasanya jika sesudah oprasi Tumor maka orang itu akan lumpuh atau koma tapi Allah begitu baik pada Ibu.. "


"Ya Allah maha baik, hingga Allah menyelamatkan ibu lewat dirimu, Nak. "


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?.. "


"Hah.. saya tidak tahu, Buk. Tapi saya juga merasa tak asing dengan ibu! "


Gadis itu terdiam dengan tatapan ragu, membuat umi Rahma lagi-lagi tersenyum. Perlahan gadis itu membungkuk membuat umi Rahma dengan lembut memeluk gadis itu dengan kesih sayang seorang ibu pada anaknya, membuat umi Rahma jadi teringat sang putri yang tentu akan merasa kewatir jika tau kondisi dirinya.


"Kamu gadis yang baik, semoga Allah selalu melindungi dimanapun kamu berada.. "


"Ta.. tapi saya tak sebaik yang ibu katakan! "


Ucap getir gadis itu jika mengingat masa lalunya gadis itu begitu hina pada dirinya sendiri.


"Saya begini karna seseorang yang pernah menasehati saya ketika saya sakit 'Tuhan tidak akan meninggalkan hambanya ,tapi hambanyalah yang sering meninggalkan Tuhan ' Kata itu selalu saya ingat hingga saya memutuskan Masuk Islam pada hari itu. "


"Masyaallah, Subhanallah, Nak. "


Ucap umi Rahma begitu terkejut ternyata gadis yang ada disampingnya seorang Mualaf.


"Apa ibu tau seseorang itu juga berkata ' Sebelum masuk Islam pelajarilah dulu apa itu Islam ' Dan seseorang itu juga memberikan buku Ini pada saya. Membuat saya selalu membawa buku ini kemanapun saya pergi."


"Apa kamu masih mengingat siapa pemilik buku Itu.. "


"Itu yang saya sesali, Saya lupa... "


"Maka sekarang jangan melupakannya karan pemilik buku itu orang yang ada dihadapanmu ini.. "


Deg...


Seketika gadis itu terkejut dengan mata yang membulat.


"Ja.. jadi hik... Ib.. "


Grep...

__ADS_1


Gadis itu langsung memeluk umi Rahma membuat umi Rahma tersenyum dengan mata berkaca-kaca ternyata gadis yang menolongnya adalah gadis yang dulu rapuh hingga menyalahkan Tuhan dan sekarang Lihatlah Allah maha besar telah membulak balikan hati setiap manusia.


Tampa mereka sadari sendari tadi sepasang mata melihatnya dengan mata yang mengembun.


"Buk, sekarang ibu harus diperiksa dulu takut ada apa-apa dengan oprasi itu.. "


"Jangan menolak.. "


Umi Rahma pasrah mendengar ucapan yang tak mau dibantah itu.


"Ibu tunggu disini, dan ini Ponsel ibu yang sempat drof saya sudah mengecasnya takut ibu mau memberitahu pihak keluarga.. "


Gadis itu langsung keluar meninggalkan umi Rahma yang menatap penuh kasih sayang gadis itu, Seakan umi Rahma sudah mengenalnya lama.


"Terimakasih.. "


Jderr...


Gadis itu terlonjat kaget melihat orang yang ada didepannya dengan menatapnya sendu.


"Te.. terimakasih sudah membantu U.. umi.. "


"Ja.. jadi.. "


"Yah dia wanita yang telah melahirkanku.. Terimakasih.."


" Sa...sama-sama.. "


Ucap gadis itu yang tak lain adalah Mona Lin gadis yang tadi siang mencoba menghindar dari Air.


"Bagai mana aku bisa membalasnya.. "


"Tak perlu, kalau begitu saya bisa pergi. Permisi.. "


"Apa kamu marah! Kenapa terus menghindar ? "


Ucap Air sukses membuat Mona memberhentikan langkahnya, Mona juga tidak tau kenapa dia bersikap seperti itu! Mona hanya sedang berusaha mengontrol perasaannya saja, hanya itu.


"Apa rasa itu masih sama. Jika Iya maka izinkan aku untuk masuk kedalam rasa itu.. "


"Semuanya sudah terlambat,ketika kamu memutuskan untuk menyerah dan pergi tampa mau berbalik.. "


"I.. itu.. "


"Sudahlah.. kita berjalan saja dijalan masing-masing "


"Tunggu.. "


Cegah Air dengan dada yang bergemuruh,hatinya masih sama. Masih berada di rasa empat tahun yang lalu.


"Aku tak bisa mencengkal tanganmu untuk sekedar mencegahmu pergi karna kita bukan Muhrim. Tapi aku Airumi Khoer Al-qolayuby mengajak Mona Lin ber-Ta'aruf agar aku bisa menggenggam tangamu menuju sunah Rosulullah.. "


Deg....


.


.


.


Bersambung....


Hallo teman-teman yang selalu setia membaca kelanjutan cerita Author.


Bagai mana seru gak ???

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Dan Votenya ok


Terimakasih..


__ADS_2