Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 16


__ADS_3

Plak... plak...


Tamparan terus melayang di pipi kanan kiri Bagas sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Apa yang kau lakukan brengsek... "


"Kenapa tidak mau mendengarkanku hah.. "


"Jangan pernah ulangi perbuatan yang pernah aku lakukan jika kau tak mau menyesal seumur hidup mu.... dan.. kau... "


Bentak Andi pada sang adik ,kenapa semuanya begitu runyam, belum selesai masa lalu kini adiknya berbuat ulah yang akan menambah kebencian keluarga khoer.


Sedangkan Bagas hanya diam dengan makian sang kakak yang menatapnya terluka dengan penyesalan di masa lalu yang tidak bisa di maafkan.


Semuanya karna dirinya,mungkin jika Andi tidak melakukan kesalahan Ais tidak akan sebenci itu pada adiknya.


"Apa yang akan kakak katakan jika mamah dan ayah tau... "


Lilir Andi takut mamah dan ayahnya tau pasti mereka akan sangat kecewa mengetahui anak kesayangan mereka melakukan hal bejat.


Tapi jauh yang Andi takutkan lagi jika penyakit jantung mamahnya kambuh sudah cukup Andi mengecewakan keluarganya tapi jangan Bagas yang sangat di harapkan keluarganya.


"Ma.. maaf kan Bagas ka.. Bagas mohon jangan sampai mamah dan ayah tau.. "


Rasa penyesalan menggerogoti hati Bagas karna tertutup kabut kebencian membuat Bagas hilang kendali,dan sekarang pasti Wanita yang Bagas cintai membencinya.


Apa ada kata maaf bagi Bagas, dia sudah menghancurkannya.


"Apa kau tau... Ais menjadi depresi.. "


Deg....


Bagas begitu terkejut, apa yang sudah dia lakukan ! membuat Bagas seketika menangis dengan penyesalannya.


"Maaf pak waktu kunjungan anda sudah habis"


Ucap salah saru penjaga lapas membuat Andi hanya mengangguk saja.


"Ka.. "


"Kakak pulang.. jagalah diri baik-baik... "


"Maaf kan aku Ais... "


Batin Bagas mengutuk dirinya sendiri kenapa dia sampai tega melakukan itu,bagai mana kalau waktu itu Aiman tidak datang tepat waktu bisakah Bagas masih menghirup udara walau hanya diam di balik jeruji besi.




Sudah satu minggu dari kejadian itu keadaan Ais mulai membaik sedikit demi sedikit namun sayang Ais masih enggan untuk bertemu sang suami karna rasa malu dan hinanya dirinya.



Membuat Umi Rahma nampak kewatir dengan hubungan pernikahan putrinya. Sudah di bujukpun Ais tetap sama masih enggan untuk menatap wajah sang suami.



Sedangkan Aiman hanya bisa sabar menghadapinya walau bagai manapun kesembuhan Ais jauh lebih utama. Aiman hanya bisa mengelus pipi Ais ketika Ais tidur kalau tidak maka Ais akan menjerit.



Dan sebagai dokter psikolog Aiman juga tau Ais masih butuh sendiri dengan mendamaikan dirinya dari bayang-bayang yang menyakitkan itu.



"Tahukah teteh, siapa yang paling banyak menghuni neraka..?? "



"Wa.. wanita.. "



"Apa teteh juga tau, wanita seperti apakah..? "


__ADS_1


"Wanita yang menyakiti hati su...suaminya.. "



"Bagai mana dengan teteh, apa teteh termasuk atau tidak??.. "



"Te.. teteh.. "



Deg....



Ais tertegun dengan ucapannya sendiri, bagai mana bisa Ais melupakan itu semua.Ais sudah sangat menyakiti hati sang suami dengan mencegah Aiman bertemu dengannya dan menolak akan tugas sang suami merawat istri ketika istri sedang sakit.



"Ta.. tapi bi.. te.. teteh... "



Sutttt....



"Lupakan sayang.. semuanya sudah berlalu.. jangan sakiti diri teteh sendiri biarkan Aiman menyembuhkan semuanya.. "



" Teteh ..hik..me..merasa jijik dengan diri teteh sendiri..hik..pasti.. "



"Percaya sama abi, Aiman buka laki-laki seperti itu nak.. "



Ais terdiam,benar apa yang dikatakan abinya kalau Aiman buka laki-laki yang ada di pikiran Ais selama ini.




Pantaskah Aiman menerima Ais yang sudah kotor dan menjinikan.



"Bagai mana nak.. "



"Te.. teteh... "



"Jangan takutt.. "



Ais hanya diam dengan pikirannya yang kelut,bingung harus berbuat apa? di samping Ais masih takut bertemu dengan sang suami sedangkan hati terdalamnya ia ingin mendekapnya erat tak mau sekedar untuk melepas.



Tapi setiap kali melihat wajah sang suami maka bayangan itu akan ikut muncul dengan sendirinya membuat Ais takut.



"Abi sudah memutuskan teteh akan pulang dengan Aiman hari ini, biarkan suami teteh merawat teteh... "



Ucap Azam lembut karna memang semalam Azam, umi Rahma, Air dan Aiman berkumpul membicarakan semuanya. Bahwa Aiman akan merawat sang istri di rumahnya supaya Ais cepat sembuh jangan terus menghindar dari situasi yang sulit karna itu akan mempengaruhi alam bawah sadarnya.


__ADS_1


Ais hanya mengangguk ragu dengan tangan yang gemetar tapi dengan susah payah Ais mengendalikannya karna tidak mau membuat abinya kecewa.



Rumah yang cukup besar dengan desain klasik membuat suasana nampak tenang.Azam hanya tersenyum kecil melihat rumah di depan matanya desain rumah yang sama persis anaknya impikan.



Sedangkan umi Rahma dan Air nampak kagum dengan bangunan rumahnya, Ais hanya diam saja tampak ekpresi karna Ais bingung rumah siapa ini?, pikir Ais.



"Pak Muh tolong bawa barang yang ada di bagasi mobil.. "



Ucap Azam sambil memberikan konci mobilnya,orang yang di panggil pak Muh hanya mengangguk saja mengiyahkan titap tuannya.



Aiman memang sudah lama membeli rumah untuk menjadi tempat dirinya dan sang istri. Bahkan Aiman menyediakan ruang khusus untuk pelaratan medisnya,yang sekarang pertama kali akan di pakai oleh sang istri.



Umi Rahma membopong Ais keruangan yang sudah di sediakan Aiman membuat umi Rahma tercengan ternyata Aiman sudah menyiapkan semuanya sangat sempurna.



Ais di tidurkan di atas brankar dengan Aiman langsung memasangkan selang infus kembali dan sedikit memberi obat penenang. Sedangkan Ais sudah gemetar tangannya di genggam oleh sang suami tapi melihat raut wajah sang umi Ais berusaha menahan dan menghapus bayangan mengerikan itu.



"Jangan takut nak, dia suami teteh... jadilah istri yang baik.. "



Bisik umi Rahma sebelum Ais tertidur kembali karna obat penenang yang di berikan Aiman.



Azam mempercayakan semuanya pada sang menantu Azam yakin bahwa menantunya bisa menyembuhkan sang putri dengan caranya sendiri.



Azam, Air dan umi Rahma pamit pulang walau Aiman bersikeras memaksa untuk menginap tapi Azam sudah memutuskan pulang karna ingin memberi waktu kepada anak dan menantunya .



Aiman hanya pasrah saja walau Aiman tau resikonya jika Ais bangun dan tidak melihat kedua orang tuanya di sampingnya,keputusan yang berat tapi Aiman harus hadapi.



"Den nanti malam mau bibi bikin sarapan apa?? "



"Seperti biasa bi, dan tolong buatkan bubur buat istri Aiman.. "



"Iya Den kalau begitu bibi pamit.. "



Aiman hanya mengangguk saja, di rumah besar Aiman hanya tiga orang pekerja. Bi sumi, pak Muh dan pak Badar. Bi Sumi orang yang selalu menyediakan makanan sedangkan pak Muh supir yang selalu mengantar kemanapun Aiman pergi tapi jika Aiman membawa mobil sendiri maka pak Muh membantu pekerjaan pak Badar mengurus rumah.



"Ah... tidak... tolong.... tolong.. hik... "



"Jangan.... hik... jangan.... "



Deg....

__ADS_1



Prang....


__ADS_2