Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 77 Cara terakhir


__ADS_3

Canda tawa menghiasi rumah Aiman ditaman belakang rumahnya.Bagai mana tidak ramai semua keluarga Khoer berkumpul disitu.


Apa lagi celotehan baby Fatih yang menambah suasana menjadi sangat hidup ditambah dengan kekonyolan yang Ais buat.


Ani begitu bahagia berada ditengah-tengah keluarga yang begitu menyayanginya halnya putri mereka sendiri.Apalagi umi Rahma yang berhati lembut menganggap dirinya sama seperti Ais,terkadang umi Rahma cemberut ketika Ani memanggilnya Tante membuat Ani merasa tak enak hati.


Tapi begitulah umi Rahma sudah menganggap Ani sebagai anaknya sendiri .


Hidup ditengah keluarga yang tak pernah kurang oleh kasih sayang dan cinta membuat Ani terkadang merasa malu dan penuh penyesalan.Kenapa dulu aku tak selembut Anna! Tak serajin dia,tak sepenurut dia yang punya sejuta prestasi tapi ak..aku,jerit batin Ani nyeri jika mengingat dirinya selalu membangkang perkataan kedua orang tuanya.


Padahal semuanya hanya demi kebaikan Ani sendiri hingga Anna menjelma menjadi sosok culun dan lugu berbeda jauh dengan Ani yang dingin,cuek berbalut bar-bar.


Senyuman Ani selalu mengembang jika umi Rahma menceritakan bagai mana tingkahnya dulu bersama Ais kecil yang selalu menjahili Anna sigadis polos yang hanya bisa menangis dengan kejahilan dua saudaranya.


"Ah...den Fatihhh..."


Teriakan memekik membuat semua orang langsung terdiam dari aktifitasnya dan langsung menengok kearah sumber suaran. Dimana bi Sumi sedang memeluk gemetar baby Fatih yang hanya berdiri menatap lurus kedepan.


Tak ada raut ketakutan dari bocah kecil itu,dimana semua orang dewasa begitu panik setengah mati.


"Sayang...Fatih.."


Gemetar Ais menatap sang putra yang hanya diam didalam dekapan bi Sumi yang sudah berkeringat dingin.


"By..Fatih by.."


"Sayang jangan panik,Hubby akan berusaha menyelamatkan putra kita.."


Ucap Aiman menenangkan sambil berjalan perlahan kedepan dimana sang putra sedang dalam bahaya.


Begitupun Air melangkah perlahan karna takut terjadi sesuatu pada keponakannya.


Juluran lidah ular kobra terus keluar dengan mata merahnya menatap baby Fatih yang hanya dua langkah di depan. Seinchi baby Fatih bergerak maka ular itu pasti akan mematuk baby Fatih yang berusaha melepaskan diri dari pelukan bi Sumi yang gemetar.


"Fatih..Diam, Nak.Jangan bergerak.."


"Iya sayang..Kamu jangan bergerak, Nak.Jagoan Baba..."


Ucap Aiman hati-hati mendekati sang putra dengan mata ular yang menatap mereka membunuh.


Bukannya menurut baby Fatih malah menjulurkan tangannya membuat ular Korba itu semakin mendekat.Semua orang yang melihat itu seakan dibuat jantungan dengan Ais yang berusaha memberontak didekapan sang Umi.


Aiman dan Air sudah keringat dingin tetkala melihat ular Korba itu semakin mendekat kearah baby Fatih membuat bi Sumi gemetar dengan keringat dingin membanjiri pelipisnya.


Sedangkan Abi Azam hanya diam saja melihat semuanya sambil kedua matanya tetap pokus menatap kedepan dengan tatapan sulit dimengerti.


Srettt...


"Ah..Hik...hik.."

__ADS_1


Bruk...


"Fatihhhh...."


Teriak Ais seakan mati melihat sang putra yang hanya diam. Seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya.


Sedangkan bi Sumi sudah menangis sambil menjerit sendari tadi melihat ular Kobra membuka mulutnya siap untuk mematuk.


"Ya Allah Fatih..kamu gak apa-apa kan,Nak."


Lilir Ais gemetar menarik sang putra kedalam gendongannya dengan bi Sumi yang hanya diam dengan tubuh yang gemetar.


"Baby,Sayang ...kamu gak apa-apa kan, Nak.."


Ucap Aiman langsung menarik sang istri dan baby Fatih kedalam pelukannya.


Sedangkan Air dan umi Rahma hanya diam melihat kejadian yang barusan terjadi.Dimana ular Korba itu sudah siap memangsa tiba-tiba Ani dengan cepat menarik ekor ular Korba itu dengan cepat dan melemparnya jauh lalu Ani menancabkan pisau yang dia pegang tepat dikepala ular Korba itu membuat ular Korba itu meliuk-liurkan badan dan ekornya karna tak bisa bergerak bebas dengan pisau yang menanjab.


"Na..nak.."


Lilir umi Rahma membuat Ani langsung berbalik dengan nafas yang memburu menatap lembut umi Rahma yang terkejut bercampur kewatir.


Tak lama Ani tersenyum hangat menatap umi Rahma yang sudah menangis.


"Ani tidak apa-apa Umi.."


"Bagai mana bisa kamu membahayakan dirimu sendiri..hik.."


"Yang terpenting Fatih selamat Umi...Ani sungguh tidak apa-apa.."


Bruk....


Ani terhuyung kebelakan dengan tubrukan badan Ais yang memeluknya erat dengan isak tangis yang sendari tadi lolos begitu saja.


"Te..terimakasih...hik..."


Lilir Ais gemetar membuat Ani tersenyum lalu mengelus punggung Ais lembut.


"Itu hanya hal kecil Ais..."


"Hey bagai mana mungkin kau bilang hal kecil...Aksimu itu membuat Aku jantungan tau..."


Kesal Ais mendengar candaan Ani yang selalu saja begitu ketika dalam keadaan serius.


"Yang terpenting keponakanku selamat.."


"Iya..Fatih selamat ta..tapi..Aku akan merasa bersalah jika terjadi apa-apa padamu ANI..."


Tekan Ais jengkel membuat Ani terkekeh sambil menarik Ais kedalam pelukannya.

__ADS_1


Ani tau sahabatnya itu sedang sok dan kewatir membuat Ani sedikit merasa bersalah karna bercanda diwaktu yang tak tepat.


" Anty.."


Panggil baby Fatih tersenyum di gendongan Aiman.


"Kamu gak apa-apa kan, Boy ."


"Anty gak apa-apa kan? "


Tanya balik baby Fatih membuat Ani tersenyum anak sahabatnya itu begitu berbeda dengan baby yang lain.Disaat usia baby menginjak dua tahun pasti hanya ada ketakutan dan menangis tapi baby Fatih hanya diam seolah dia tidak apa-apa dan tingkahnya seolah baby Fatih tak takut sama sekali malah dia kelihatan menanntang membuat Ais dan Aiman jantungan saja.


"Anty baik-baik saja.."


"Tetimakasih Anty sudah nyelametin Atih.."


"Sama-sama Boy..."


Ucap Ani gemas dengan setiap kalimat yang diucapkan baby Fatih seakan dia adalah orang dewasa.


"Anty keren tadi..padahal Atih tadi akan memukul kepala ular itu.."


"Ha..ha...Boy...yang sedang Anty gendong bocah apa orang dewasa.."


Kekeh Ani mendengar ucapan baby Fatih seakan dia mampuh menghadapi semuanya.Semua orang yang mendengar celotehan baby Fatih hanya tersenyum dan menggeleng sungguh baby yang sangat istimewa.


"Sudah Aku duga ternyata ini sebagian yang kau rencanakan.."


Gumam Azam melihat ada sesuatu dikepala ular itu yang dari tadi memang sudah sangat aneh atas kejadian barusan.Bagai mana mungkin rumah sebersih dan senyaman itu bisa ada ular, pikur Azam dan ternyata dugaannya benar.


"Ah...brengsek....Gagal..gagal...lagiii....Ah...."


Prang....


Teriak seseorang dengan mata memerah menyaksiakan apa yang terjadi barusan di layar leptopnya.Hingga benda persegi empat itu hancur dilempar.


"Sial.. aku harus menggunakan cara terakhir..."


"Cara terakhir.."


Gumam orang itu dengan seringaynya menatap lurus kedepan dengan dendam yang semakin memuncak.


.


.


Bersambung....


Jangan Lupa Like,Komen ,dan Vote Ok...

__ADS_1


Terimakasih....


__ADS_2