
Meninggalnya umi Rahma sangat meninggalkan luka bagi Air, baru saja dirinya terjatuh oleh kenyataan cintanya betepuk sebelah tangan dan kini dia harus kehilangan pedoman,cahaya dan kekuatan hidupnya.
Siapa yang akan mendengarkan keluh kesahnya lagi!
Siapa yang akan menjadi sandaran ketika dia rapuh? apa Air kuat menghadapi kenyataan pahit itu.
Meninggalnya umi Rahma seakan membawa separuh cahaya hidupnya, dan siapa yang akan mengulurkan tangan untuk menjadi penguat dikala dia rapuh. Sungguh Air tak bisa,apa lagi ada adiknya yang harus Air jaga.
Sesudah pemakaman umi Rahma abi Azam hanya diam mengurung diri didalam kamar sambil melihat poto pernikahannya.
Raut bahagia terpancar di wajahnya, padahal dulu mereka menikah mendadak karna abi Azam harus menjadi pengganti calon pengantin laki-laki.
Hingga Allah tanamkan rasa cinta diantara keduanya dan Allah titipkan empat malaikat kecil ditengah keluarga kecilnya.
Suka duka mereka lalui bersama, tak henti-hentinya abi Azam berusaha menjadi sesosok suami yang tanggung jawab, penyayang dan penuh cinta.
Tapi kini Allah sudah mengambil miliknya kembali dengan caranya sendiri.
"Apa adek sudah kangen sama Kakak! Tunggu Mas disana. Rasanya sudah tak ada lagi yang harus Mas kewatirkan melihat anak-anak kita sudah besar. Adek memilih pergi duluan maka Mas juga akan menyusul.."
Lilir abi Azam dengan setetes air mata yang keluar membasahi bingkai potho tampa abi Azam sadari.
"Mas Ridho dek, semoga adek ditempatkan di sisi yang terbaik... "
Ucap abi Azam lagi pelan dengan tangan yang membelai photo sang istri yang tersenyum seakan sang istri ada didekatnya sedang memeluk erat dirinya.
Begitupun apa yang Adam lakukan dia sama mengurung dirinya di dalam kamar membuat suasana rumah tampak hening bagai tak ada penghuninya.
Rumah yang selalu hidup dengan kecerewetan umi Rahma kini seakan hilang begitu saja, tak ada kebawelannya lagi.
Sedangkan Ais masih setia duduk dipusaran makam sang umi dengan mata bengkaknya. Tangannya terulur mengelus papan nisan sang umi.
Rasanya baru kemaren Ais bercanda tawa dengan sang umi ditemanin baby Fatih. Tapi kini Ais tak bisa melihat senyuman itu lagi, senyuman yang sang umi tunjukan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Mi, maafkan Teteh belum bisa jadi anak yang baik, berbakti dan membahagiakan umi.. Maafkan teteh yang sering menyuhsakan umi tampa tau kalau umi sedang sedih..."
"Mi, bisakah teteh seperti umi yang tangguh, penyayang dan baik. Dan apa teteh bisa seperti umi dalam mendidik putra teteh, Mi. Rasanya teteh masih butuh umi.. Tapi kenapa umi memilih pergi ! "
"Baru kemaren Teteh sering umi Tegor, jika teteh menjahili Adek dan Dede.Rasanya Teteh kangen masa itu.. "
"Hiks.. Mi, bantulah Teteh supaya menjadi wanita tangguh seperti umi.."
Lilir Ais sesak sambil mencium papan nisan yang terukir indah nama sang umi disana.
Aiman langsung memeluk sang istri ketika sang istri akan jatuh, sungguh Aiman bisa merasakan apa yang sang istri rasakan karna Aiman pernah di posisi seperti itu.
Grep...
Aiman langsung menggendong sang istri ketika sang istri akan terjatuh kembali, karna terlalu lelah menangis.
Sungguh rasanya Ais seakan tak mempunyai kekuatan karna kekuatannya sudah pergi.
Seakan Allah belum selesai menjalankan skenarionya, lagi-lagi Ais harus merasakan kehilangan,kesedihan dan terjatuh sejatuh-jatuhnya.
Tetesan air mata terus saja keluar membasahi pipi Ais dengan bibir yang gemetar menahan isakan.
Sedangkan baby Fatih Ani gendong dengan Andi yang memegang tangan Amira menuju mobil mengikuti mobil Aiman yang melesat membawa sang istri kerumah sakit. Aiman tak mau ambil resiko melihat keadaan sang istri yang seakan tampa arah.
Aiman takut jika jiwa sang istri terguncang kembali dengan keadaan ini.
Begitupun Mona merasakan kesedihan seperti yang keluarga Khoer rasakan. Walau bagai manapun umi Rahma adalah orang yang begitu berjasa pada dirinya dimana pertama kalinya Mona merasa yakin bahwa islam adalah pilihan terbaik.
__ADS_1
Tapi ada rasa lain yang Mona rasakan, Mona takut meninggalnya umi Rahma karna dirinya yang menyetujui kalau umi Rahma segera di Oprasi.
"Sayang.. "
Panggilan sang ayah membuat Mona buru-buru menghapus air matanya. Dengan cepat Mona membuka pintu kamarnya.
"Ada apa ,Yah ? "
"Ayah baru mendafat kabar kalau istri Tuan Azam meninggal, apa kamu sudah tau? "
"Su.. sudah, Yah.Baru saja Li dapat kabar. "
Gugup Mona karna memang sang ayah tak tau jika dirinya mengenal keluarga itu.
"Ikut ayah memberikan bela sungkawa pada Tuan Azam.Walau bagai manapun Istrinya tuan Azam sudah banyak membantu Ayah dan Mamah sampai mengikuti jejak kamu.. "
"Yasudah Li si.. siap -siap dulu.. "
"Ayah tunggu di bawah yah.. "
Ucap Ayah Mona Lin langsung pergi kebawah dimana kamar putrinya ada dilantai atas.
Mona begitu bingung, apa yang harus dia lakukan. Jika ikut Mona pasti ketemu dengan Air dan itu membuat hati Mona gundah. Tapi kalau tidak ikut Mona harus mencari alasan apa! ,pikir Mona.
Ayah dan Mamah Mona masuk islam ketika sang putri meminta izin akan pindah agama. Awalnya ayah dan Mamah Mona menentang tapi seiring berjalannya waktu ketika Mamah Mona bertemu dengan Umi Rahma disebuah Acara,setiap kata yang umi Rahma keluarkan membuat hati Mamah Mona bergetar.
Itulah Takdir Allah yang tak pernah kita tahu bahwa ternyata dunia ini begitu sempit.
Dengan gugup Mona berjalan dibelakang sang ayah dimana sang Ayah sudah melangkah memasuki pekarang rumah Khoer.
Suasana nampak sepi seakan tak ada penghuni sama sekali menbuat ayah Mona sedikit ragu untuk mengetuk pintu.
Tok.. tok..
"Assalamualaikum.. "
"Yah, mungkin mereka ada dikediaman Mahmued. Kelihatannya gak ada orang sama sekali.. "
"Tapi Mobilnya ada,apa mereka sedang tak mau diganggu ! Coba Ayah sekali lagi, kalau tak ada yang menjawab kita pulang mungkin besok kita kesini.. "
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam.. "
Jawab orang yang didalam membuat ayah Mona tersenyum sedangkan Mona terlihat kaku.
Cklek...
Nampaklah Adam yang membuka pintu membuat Mona menghela nafas pelan.
"Maaf Om cari siapa? Eh ada kak Li juga. "
"Om mau ketemu sama abi kamu, apa Om bisa.. "
"Silahkan masuk dulu Om, Kak Li.. "
Ucap Adam mempersilahkan tamunya masuk, Adam membawanya keruang tamu.
"Tunggu sebentar, saya panggilakan abi dulu.. "
Adam langsung meninggalkan tamunya menuju kamar sang abi, tapi ada sedikit penasaran siapa tamu yang bersama kak Li tapi Adam hanya diam karna tak sopan jika harus bertanya.
__ADS_1
Adam kembali bersama sang abi yang nampak lelah, tapi walau lelah abi Azam tetap menemui tamunya karna Tamu wajib di khormati.
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam... Teman. Aku turut berduka atas kepergian istri anda.. "
Ucap ayah Mona membuat abi Azam tersenyum, ternyata teman yang datang. Padahal abi Azam tau kalau temannya itu lagi ada urusan di Singapur tapi sekarang dia ada dihadapannya.
"Terimakasih,Doakan saja semoga istri saya berada disisi-Nya. "
"Amin...Oh iya perkenalkan ini putri saya yang sering saya ceritakan, Namanya Mona Lin. "
"Ya.. ya... Gadis keras kepala , Mandiri dan ambisius. "
Canda abi Azam tersenyum pada Mona yang hanya menunduk dari tadi karna malu ternyata ayahnya sering menceritakan dirinya pada orang lain padahal setahu Mona ayahnya bukan tipe seperti itu.
"Selain silatuhrahmi kesini ,saya juga mau membahas masalah Wasiat istri saya. Maaf jika membahas masalah ini dengan keadaan kurang tepat. Karna saya harus cepat-cepat kembali ke singapur Perusahaan di situ ada kendala.. "
"Astagfirullah ..Saya lupa belum bertanya pada putra saya. Karna saya terlalu pokus dengan kesehatan istri saya... "
"Tidak apa-apa karna saya juga baru memberitahu Mona, dia menyetujuinya. Mungkin tinggal menunggu jawaban putra anda. "
Putra ! apa maksud ucapan Ayah.Kenapa ayah membahas itu disini ! Putra, siapa yang mereka maksud!, Bingung Mona menatap ayah dan om Azam bergantiaan.
"Dede, tolong panggil Abang kesini ada hal penting yang harus abi bicarakan.. "
Adam yang dari tadi duduk di sisi sang abi begitu bingung apa yang sebenarnya mereka bicarakan,tapi dengan cepat Adam kekamar sang Abang.
Cklek...
"Astagfirullah.. "
Kaget Adam melihat abangnya membuka pintu yang baru saja Adam ingin mengetuknya.
"Ada apa Dek, Abang harus kerumah sakit keadaan Teteh Drof. "
Panik Air yang baru mendapat kabar dari Ani kalau Ais keadaannya semakin terpuruk.
"Ayo.. "
Ucap Air langsung pergi membuat Adam tak jadi ngomong dan langsung menyusul sang abang kebawah.
Tok.. tok...
"Abi.. "
"Abi disini Bang.. "
"Abang mau kerrr......"
Deg....
.
.
.
Bersambung....
**Gimana penasaran gak kelanjutannya??
__ADS_1
Ettts jangan lupa tinggalakn jejak dulu dengan Like, Komen, dan Vote..
Terimakasih**....