Takdir Illahi 2

Takdir Illahi 2
Epesode 36


__ADS_3

Seorang gadis sudah berkeringat dingin menunggu seseorang, mungkin ini adalah pertemuaan terakhirnya.


Gadis itu hanya ingin minta ma'af dengan semua yang telah dia lakukan selama ini.


Hatinya tak tenang jika dia belum bertemu dengan orang yang telah dia sakiti, karna malam ini gadis itu harus terbang ke China.


"Ma'af Non menunggu lama, Nona Muda sudah datang... "


Deg...


Gadis itu tersentak kaget dari lamunannya, gadis itu bisa mendengar ada orang yang berjalan mendekatinya.


Dadanya bergemuruh rasanya sangat malu jika bertemu tapi gadis itu berusaha menormalkan jantungnya yang berdetak cepat.


Perlahan gadis itu berbalik dengan segenap keberaniaannya.


Gadis itu hanya diam dengan reaksi yang di tunjukkan orang di depannya, terlihat bahwa dia terkejut dan membulatkan kedua matanya seperti tak suka pada dirinya.


Gadis itu memberanikan dirinya mendekat.


Bruk....


"Nonn... "


Kaget bi Sumi karna nona Mudanya terhuyung kebelakan dengan pelukan erat gadis yang tadi mencari nona Mudanya.


"Ma.. ma'af... "


"Ma'afkan segala kesalahanku, Aku sudah banyak menyakitimu... "


Lilir gadis itu sambil sesegrukan memeluk erat tubuh Ais, membuat Ais sedikit meringis karna pelukan erat gadis yang memeluknya.


"Ka.. kamu menyakitiku.. "


Gumam Ais sesak membuat gadis itu terkejut dan mengendurkan pelukannya.


"Ma.. ma'af.. "


"Ki.. kita duduk.. "


Ucap Ais yang masih terkejut dengan apa yang dia lihat, gadis yang di sebelahnya begitu berbeda dengan gadis yang sudah hampir setengah tahun tak berjumpa dengannya.


Gadis yang begitu cantik dengan balutan gamis membungkus tubuhnya di padukan dengan kerudung yang senada.


Mata sipit itu dari tadi mengeluarkan air mata dengan tangan yang menggenggam erat tangan Ais yang ada di pangkuannya.


"Waktuku tidak banyak hik... Aku kesini hanya ingin minta ma'af kepadamu. Ma'afkan Aku yang sudah banyak menyakitimu.. Ma'af.. hik... "


Lilir gadis itu dengan segala penyesalannya, sudah gadis itu tekadkan bahwa dia akan hijrah.


"Mo.. mona.. "


Gumam Ais masih belum menyangka bahwa Mona lah yang ada di depan matanya,Ais berusaha menggeleng siapa wanita cantik di depannya. Tapi lagi-lagi Ais bukan mimpi bahwa gadis itu beneran Mona.


"Ka.. kamu... "


"Waktuku sudah habis Aku harus segera berangkat, sekali lagi ma'afkan segala kesalahnku...dan... "


"Sekali lagi ma'afkan Aku....Aku pamit... dan titip salam ma'afku pada saudara kembarmu... "


"Bilang bahwa Aku tak akan mengganggunya lagi... "


"Ta.. tapi... "


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... "


Lilir Ais yang masih sok terpaku melihat kepergian Mona dengan pelukan terakhirnya.

__ADS_1


Ais terus menepuk-nepuk pipinya bahwa ini bukan mimpi.


"Aw... "


Ais merasakan sakit berarti ini bukan mimpi, pikir Ais langsung sadar dan berlari mengejar Mona.


Tapi sayang Mona sudah tidak ada ,bahkan mobilnyapun sudah tidak terlihat di pandangan Ais seakan tertelan kegelapan malam.


"Apa yang sebenarnya terjadi ! dan kenapa Mona pake jilbab,apa dia. ? Kenapa Aku yang harus menyampaikan salam ma'afnya ! Apa Mona tak tau kalau Air koma?. "


Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, rasanya sangat pusing.


Ada banyak kejadiaan yang Ais lewatkan dan jalan satu-satunya hanya sang Adik yang tau,batin Ais.


"Aw... "


Ais meringis sambil mengusap keningnya yang kejedot dingding karna dari tadi pikirannya kesana kemari jadi tak pokus berjalan.


"Astagfirullah.. "


Pekik Ais kaget bahwa dirinya belum sholat magrib dengan cepat Ais langsung ke kamar utama melaksanakan kewajibannya.


Bi Sumi yang melihat tingkah nona Mudanya hanya tersenyum saja.


Bukan sekali dua kali bi Sumi melihat tingkah konyol Ais bahkan bi Sumi sempat berpikir apa nona Mudanya mempunyai keperibadiaan ganda,pikir bi Sumi menggeleng.


Kadang bersikap dewasa, manja, dan konyol membuat siapa saja yang melihat Ais akan merasa terkejut sungguh terlalu banyak kejutan yang ada didiri Ais.


Sesudah melaksanakan kewajibannya Ais langsung turun lagi kebawah karna ingat bahwa sang suami belum makan.


Dengan pelan Ais membuka knop pintu sambil membawa nampan lalu menutupnya kembali.


Dilihatnya sang suami sedang bersandar di sandaran kasur dengan kedua mata yang terpejam.


"By.. "


"Udah sholat... "


Aiman hanya mengangguk pelan karna jujur kepalanya begitu pusing apalagi seluruh badannya lemas.


"Alhamdulillah... Kalau begitu Hubby makan dulu... "


Lagi-lagi Aiman hanya mengangguk saja, dengan sangat hati-hati Ais menyuapi sang suami. Menggelap sisa bubur di bibir seksi Aiman lalu terakhir memberikan obat pada Aiman.


"Alhamdulillah..."


"Hubby istirahat lagi yah... "


"Kemana. ?? "


Tanya Aiman pelan membuat Ais membuang nafas pelan, jujur rasa kecewa masih ada di hati Ais.Sulit bagi Ais mempercayai semuanya.


"Ais mau nyimpan nampan... "


Aiman hanya menggeleng memejamkan kedua matanya merasakan pusing yang luar biasa , tak lama mata itu terbuka kembali dengan tangan masih memegang lembut tangan sang istri.


"Ma'afkan Hubby...Hik... dengan cara apa Hubby harus membuktikan bahwa semuanya salah paham.. Ah... "


Ucap Aiman sambil meringis menahan sakit dikepalanya.


"Udah. Hubby jangan banyak bicara dulu."


Potong Ais karna terkejut melihat raut wajah sang suami yang seperti kesakitan.


"Ta.. tapi.. Khu.. "


Cup...


Aiman mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat benda kenyal membungkam bibirnya dengan gemetar.

__ADS_1


"Su.. sudah hik.. jangan bicara hik... hik... "


Ucap Ais sangat sakit sekali melihat keadaan sang suami dan rasa kecewa di hatinya.


Tak pernah Ais melihat sang suami selemah ini ! Apa memang benar Aiman tak pernah menghianati cinta dan pernikahannya ? .


Sungguh Ais belum bisa berpikir dengan benar, Ais takut bicaranya malah semakin membuat suasana tambah parah.


Yang bisa Ais lakukan hanya diam dan menangis di dada bidang Aiman membuat Aiman begitu sesak mendengar isakan sang istri yang menyayat hatinya.


Dikecupnya dalam puncak kepala sang istri menyalurkan cinta yang begitu dalam.


Mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing, detak jantung mereka begitu menggebu bahwa rasa cinta mereka begitu besar.


Hanya saja sebuah masalah yang sedikit merenggangkan jarak mereka.


"Apa Baby baik-baik saja ? "


Tanya Aiman pelan sambil mengusap perut sang istri yang mulai membuncit.


"Dia baik-baik saja By... "


"Alhamdulillah.. "


"Khumairo... "


"Hemmmz... "


"Apa khumairo mema'afkan Hubby. ?? "


Ais perlahan mendongkak demi melihat wajah sang suami, Ais menatap kedalam bola mata sang suami mencari sebuah kebohongan.


Namun yang Ais temukan adalah tatapan cinta yang dalam membuat Ais menghela nafas pelan.


"Entahlah By... "


Lilir Ais kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, Ais begitu suka mendengar detak jantung sang suami yang begitu cepat.


Detak jantung yang sama seperti kali mereka mengungkapkan perasaan masing-masing.


"Percayalah... "


"Semoga Hubby tidak berbohong... "


Batin Ais sambil mempererat pelukannya, rasanya Ais tak lera jika sang suami berbagi cinta.


Hormon kehamilan Ais begitu posesif membuat Ais tak bisa jauh dari sang suami walau rasa mual paling sesekali Ais rasakan.


Sedangkan di rumah sakit Emely nampak bingung karna tak kunjung menemukan Aiman. Bahkan Emely sempat ke RSG untuk bisa bertemu Aiman karna jadwal Aiman hari ini ke RSG.


Tapi dimanapun Emely tak menemukannya, membuat Emely kesal setengah mati. Niatnya hari ini dia akan terus melancarkan aksinya tapi nyatanya orangnya tak kunjung ada.


"Apa jangan-jangan Aiman berantem sama istrinya? jadi gak masuk. Jika benar, Ah... Rasanya senang bangett.. "


Gumam Emely menyeringai, membuat seseorang yang sendari tadi memerhatikan Emely bergidik ngeri.


.


.


.


.


Suka gak ceritanya? kalau suka jangan lupa


like, komen dan vote yah...


'Dukunganmu membuat Aku semangat teman-teman' he.. he..

__ADS_1


__ADS_2