
Sudah satu minggu Ais pulang dari rumah sakit membuat Ais jadi sedikit pendiam dengan pikiran entah kemana hanya Ais dan Allah yang tau.
Ani berusaha menghibur atau sekedar bercanda ketika Aiman berangkat ke Rumah Sakit supaya Ais tidak terus-terusan melamun.
Tapi apapun yang Ani lakukan tidak sedikitpun merubah keterdiaman Ais, Seolah Ais tak peduli dengan apa yang ada disekitarnya.
Ais hanya ingin ketenangan, damai dan ketentraman dari sang suami tapi Ais hanya bisa diam melihat bagai mana sang suami sibuk bekerja dan membagi waktunya dengan dirinya.
Dari kejauhan Ani menghela nafas melihat Ais tak sedikitpun menyentuh makanan.
"Apa kamu ingat dulu kau suka sekali menyuapi aku ketika Aku lagi sakit tapi aku selalu menggeleng dan berlari karna tak mau makan apalagi minum obat. Tapi kau selalu memaksa dan kau tersenyum sendiri, mengatakan kalau aku sembuh. Aku selalu bingung padahal aku tak pernah meminum obat sama sekali, tapi kemudian kamu berkata 'Mana ada orang sakit lari berarti kamu sudah sembuh karna sudah bisa berlari' Kemudian aku juga langsung tertawa Emang ada istilah kaya begitu jika orang sakit sudah bisa lari dan tertawa tandanya sudah sembuh. Memang begitukan! Yah tentu kalau orang sakit pasti tidur, Itukan yang selalu kamu katakan. "
Ucap Ani terkekeh mengingat masa kecilnya sambil melirik Ais yang masih sama tak merespon apapun dingan bibir yang terkatup rapat.
"Kasih tau Aku cara bercanda supaya Aku bisa membuat kamu tersenyum lagi !! "
Lilir Ani sudah tak sanggup lagi melihat kebisuan Ais. Kemana Ais yang ceria, pecicilan, bar-bar, dan manja? Semuanya seakan hilang ditelan bumi dengan keadaan yang berubah.
"Ai... "
"Ma'af, Nak. Ada yang mencari nak Ani... "
Ucap bi Sumi tiba-tiba membuat Ani menyerngit bingung langsung melirik Ais yang masih diam.
"Siapa Bi.. "
"Den Andi ."
Deg...
Ani tercekat, bagai mana mungkin Andi bisa masuk mengingat Ais tidak mengijinkan Andi masuk kekediamannya apa lagi menemuinya,pikir Ani bingung.
Ani melirik Ais yang tak merespon apa-apa membuat Ani ragu untuk menemui Andi mengingat Ais melarangnya apa lagi Ais begini karna dirinya.
Ani hanya menghela nafas pelan sambil berusaha tersenyum.
"Bi , bilang saja Ani tidak ada disini. "
"Ta.. p.. "
"Temuilah... "
Jderrr...
Ani tercekat mendengar ucapan Ais membuat Ani hanya diam kalau yang Ani dengar itu hanya sebuah hayalan. Tapi nyatanya Ani salah tetkala melihat Ais tersenyum kepada dirinya dengan senyum Ais yang Khas.
Ani hanya bengong melihat Ais semakin melebarkan senyumnya sambil mengangkup kedua pipi Ani.
"Temuilah.. Kejarlah apa yang seharusnya menjadi milikmu..."
__ADS_1
"Ta.. Emmz anu.. "
"Aku merestui kalian.. "
"Ai.. ais.. "
"Ma'afkan ke-Egoisan Aku.Pergilah .."
Grep...
Ani langsung memeluk erat Ais begitupun Ais membalas pelukan Ani tak kalah erat dengan cairan bening yang keluar.
"Semoga dia adalah takdir yang sudah Allah tetapkan untuk menjadi pendamping hidupmu "
Gumam Ais pelan sambil melihat punggung Ani yang sudah menjauh dan hilang dibalik pintu.
Ais diam bukan terpuruk atau mengutuk takdirnya sendiri tapi Ais hanya sedang berpikir tentang Takdir yang sedang Allah tunjukan.
Bahwa apapun yang terjadi itu semua tak lepas dari skenario Allah .
Ais berusaha menerima dengan mema'afkan dan apapun yang terjadi pada dirinya itu tak lepas dari ketentuan Allah.
Dan paling yang Ais Syukuri adalah hadirnya Aiman disisinya yang selalu mengingatkan,menemani dan mendukung apapun yang Ais lakukan.
Datangnya Andi memang Ais yang menyuruh untuk menjemput Ani dan Meminta Andi segara membawa Ani kejengjang serius.
Walau Andi harus menuruti apa yang Ais katakan.
Ais sudah memaafkan semuanya dengan mengijikan Andi memperjuangkan kembali Ani tentunya itu tidak mudah bagi Ais tapi Ais sudah bulat dengan keputusannya karna selama ini memang Ais tidak mengijinkan Andi bertemu dengan Ani hanya ingin melihat seberapa serius dan berjuang Andi untuk mendapatkan Ani.
Tentunya Ais melihat semuanya hingga Ais yakin kalau Andi memang sudah berubah dan benar-benar menyayangi Ani mengingat perjuangan Andi yang lera panas-panasan dan hujan-hujanan sampai sakit hanya ingin ketemu dengan Ani apalagi Almira yang selalu menanyakan keberadaan Ani pada Andi , Ais tau semuanya karna diam-diam Ais menyuruh orang untuk mengikuti kemanapun Andi pergi dan aktifitas apa yang Andi lakukan.
Ais memang keterlaluan sampai segitunya tapi itulah Ais yang tak mau kalau sahabatnya salah memilih jalan. Rasa sayang Ais pada Ani membuat Ais posesif takut Ani memilih laki-laki yang salah.
Apa lagi Ais dulu tau bagai mana sikap Andi hingga membuat Ais harus benar-benar menguji sebesar apa Andi memperjuangkan sahabatnya.
"Sayang.. "
Panggil Aiman membuat Ais berbalik sambil tersenyum kearah sang suami yang baru pulang dari rumah sakit.
"Sudah mau magrib, Masuk ayo.. "
"Sebentar By.. "
"Hanya sebentar! "
Ais mengangguk membuat Aiman menghela nafas pelan lalu duduk disamping sang istri. Ais menyandarkan kepalanya kepundak Aiman dengan jari tangannya ditautkan pada sela-sela jari besar Aiman.
"Indah yah By.. "
__ADS_1
Ucap Ais pelan sambil menatap langit jingga yang sebentar lagi tertelan oleh gelapnya petang.
" Jauh lebih indah hati Sayang.. "
Ucap Aiman sambil mengecup punggung tangan sang istri membuat Ais diam lalu mengadah menatap wajah tampan sang suami dengan senyum manis yang Ais keluarkan.
"Semuanya berkat Hubby kalau tidak ada Hubby Ais bukan apa-apa.. "
"Terimakasih karna Hubby sudah sabar dan menerima Segala kekurangan Ais. Maafkanlah Ais jika selama jadi istri Hubby Ais belum bisa menjadi istri yang Sholehah.. "
"Ingatkan lah Ais terus kejalan yang diridhoi Allah supaya Ais bisa terus berjalan disamping Hubby hingga Jannahnya. "
Cup..
Ais mengecup punggung tangan Aiman khidmah dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk mata.
Aiman tersenyum dengan desiran halus menjalar dari lengannya oleh kecupan lembut bibir sang istri.
" Tak ada yang sempurna didunia ini, termasuk Hubby. Hubby hanya sedang berusaha menjadi suami dan Baba yang ingin mendafat Ridho Allah. Hubby juga banyak kekurangan, Terimakasih Sayang yang sudah memberikan warna pada Hubby.. "
"Ingatkan Hubby juga ketika Hubby lupa dan kehilangan arah supaya keluarga kita bisa berjalan beriringan menuju Jannahnya. "
Cup...
Kecupan lembut Aiman berikan pada puncak kepala sang istri menyalurkan kasih sayang, cinta, ketenangan,dan kenyamanan .
Hingga suara Adzan terdengar mengalun indah menjadi saksi dua manusia yang sedang mengungkap isi hati masing-masing dengan cinta atas nama Allah karna tak ada cinta yang hakiki dan abadi kecuali Cinta sang Kholik.
"I Love You By.. "
"I Love You My Wife.. "
.
.
.
Tamat....
.
.
.
Gimana seru gak?? Jangan lupa Like, Komen, Vote
Terimakasih...
__ADS_1