
Suara canda tawa membuat seseorang memberhentikan langkahnya.
Seseorang itu seperti mengenal suara tawa itu! tapi dimana? .
Matanya melirik kesetiap penjuru mencari suara itu, hingga seseorang itu memberhentikan pandangannya.
Dimana ada seorang wanita dengan senyum manisnya di hiasi lesung di pipinya menambah kesan kemanisannya.
Suaranya seperti melodi mengalun indah di telinganya ,Alis tebal dengan mata binarnya membuat Seseorang itu seakan terhipnotis.
Bruk...
"Astagfirullah.. "
Pekik Adam terkejut, hampir saja tubuhnya terhuyung kedepan kalau kakinya tidak menahannya dengan benar.
"Ma.. maafkan saya Mas.. saya buru-buru Istri saya mau melahirkan.. "
"Emmz gak apa-apa Pak, dan maaf saya juga menghalangi jalan Bapak.. "
Ucap Adam merasa bersalah karna dia memang berdiri di tengah jalan membuatnya harus tertabrak oleh bapak-bapak yang nampak jelas raut wajah kewatir dan paniknya.
Adam langsung bergeser memberi jalan bapak itu, hingga bapak itu langsung saja berlari kembali sambil bibirnya terus saja membaca asma Allah.
Adam menghela nafas pelan sambil mengelus dadanya dengan badan yang kembali memutar melihat sosok yang tersenyum tadi.
Deg...
Seketika Adam terpaku ditempat dimana gadis itu juga menatapnya membuat pandangan mereka sebentar saling mengunci satu sama lain hingga Adam buru-buru memutuskan kembali pandangan itu dengan hati yang terus saja berucap kata Istigfar.
Sesudah tenang Adam berjalan kearah meja dimana gadis itu berada.
Gadis itu yang tak sengaja melihat Adam karna suara tubrukan tadi membuat semua orang melihat kearah Adam begitu juga gadis itu hanya saja Adam tak menyadarinya karna Adam hanya pokus pada satu meja saja.
Adam semakin dekat membuat gadis itu salah tingkah sendiri pasalnya Adam terus saja menatapnya membuat gadis itu langsung menatap kedepan.
" Fatih.. "
"Om.. "
Jder...
Gadis itu terlonjat kaget ketika Adam menyapa Fatih lalu duduk disebelah Fatih, membuat gadis itu salah tingkah sendiri.
"Ko Fatih ada disini.. "
"Fatih rapar Om belum makan hemmz.. "
Ucap Fatih dengan mulut yang masih mengunyah makanan membuat Fatih sedikit sulit bicara.
"Hemmz An.. anda si.. siapa? "
Tanya gugup Vina pasalnya Fatih seperti sudah dekat sekali dengan laki-laki dihadapannya yang mirip entah siapa! .
"Saya Adam om-Nya Fatih, tepatnya adik dari Teteh Ais.. "
Jawab Adam tampa melihat lawan bicaranya karna Adam sedang pokus membersihkan sisa makanan yang menempel di mulut Fatih.
"Fatih disini sama siapa ?, Kenapa gak sama tante Ani ! "
"Fatih diajak tante Vina, katanya Fatih harus makan banyak biar bisa jagaan Ummah.. "
"Om ayo pergi Ummah pasti unggu Fatih, pasti Ummah sama Baba sudah lapar .."
__ADS_1
Ucap Fatih cepat ketika teringat pada sang Ummah dan Babanya yang belum makan membuat Adam tersenyum menunjukan gigi ginsulnya. Sungguh keponakan nya luar biasa bak orang dewasa saja.
"Yasudah Ayo.. "
"Kamu mau disini atau ikut.. "
Ucap Adam langsung pergi menggendong Fatih dengan bibir yang sedikit ditarik membuat Vina langsung tersadar karna tapi sempat terpesona dengan senyuman manis Adam.
Dengan cepat Vina membayar makanan dan langsung berlari mengejar Adam karna langkah kaki Adam begitu cepat.
Semua mata tertuju pada Adam yang berjalan mendekat kearah keluarganya dengan Fatih yang ada digendongannya. Mereka bukan menatap Adam tapi mereka pokus pada wanita yang ada disamping Adam seolah Adam adalah sepasang suami istri yang sempurna dengan putra di gendongannya.
"Kenapa lama Dek! "
Ucap Air sedikit kesal pada adinya pasalnya di suruh beli air minum sudah satu jam baru nonghol.
"He.. he.. maaf Bang, tadi ada kendala sedikit. Ini airnya "
"Simpan saja Abi tadi sudah minum.. "
Ketus Air membuat Adam merasa bersalah karna kelalaian nya. Ah entah kenapa Adam bisa seperti itu.
"Abi gak apa-apa kan? "
Tanya Adam duduk di sisi sang Abi mengalihkan percakapan dengan sang Abang.
"Alhamdulillah Abi gak apa-apa Dek, hanya tadi Abi sedikit pusing saja tapi Abi sudah minum obat ko.. "
Ucap abi Azam tersenyum pada anak bungsunya.
"Sini sama Kakek.. "
Fatih langsung beranjak kegendongan abi Azam yang langsung dipeluk oleh sang Kakek.
Vina dibuat tercengang dengan sifat Adam yang berubah hangat pada keluarganya, padahal tadi Adam bersikap dingin padanya menolehpun engga.
Tanya Andi sedikit berbisik pada adik bungsunya hanya Ani yang bisa mendengarnya karna Ani berada di sisi Andi.
"Adek dari tadi telepon gak di angkat-angkat Bang. Hanya kirim pesan saja katanya lusa balik kesini.. "
"Yasudah sekarang Adek pulang bawa Amira Abang nanti pulang malam sama istri Abang.Jangan lupa bawa mobilnya jangan ngebut.. "
"Siap Bos.. "
Ucap Vina yang langsung menggandeng Amira tak lupa Vina pamit pada semua orang karna merasa tak enak jika tak pamitan.
Sedangkan jarum jam terus berputar hingga waktu sudah jam sembilan malam tapi belum ada tanda-tanda Bahwa Ais bangun membuat abi Azam semakin dilanda kegelisahan.
"Bang antarkan Mona pulang, Sudah malam. "
"Gak usah Om, biar Mona pulang sendiri.. "
Tolak Mona halus bukan apa-apa Mona hanya merasa canggung saja jika harus satu mobil dengan Air laki-laki yang sempat dia tolak karna menerima perjodohan yang ayahnya buat tapi ternyata orang itu adalah Airumi sendiri.
"Tidak, Nak. Kamu harus diantar Air,om hanya Takut anak gadis pulang sendiri."
"Tap... "
"Jangan menolak.. "
Tegas abi Azam tapi mengandung kelembutan didalamnya. Karna memang abi Azam tak mau anak gadis pulang sendiri tampa ada yang menemani, seperti Ais yang selalu kemanapun harus dengan saudaranya.
"Ba.. baiklah, kalau begitu Mona pamit Om.. "
__ADS_1
Ucap Mona sambil menangkupkan kedua tangannya. Mona bukan hanya canggung tapi juga takut karna mereka bukan muhrim yang akan berada dalam satu mobil. Tapi harus bagai mana lagi jika meminta Adam maka tidak ada yang menemani abi Azam.
Keheningan tercipta antara Air dan Mona mereka sama-sama bungkap pasalnya keadaannya sungguh sangat canggung.
Mona tangannya sudah berkeringat dingin dengan hati yang terus mengucap istigfar tak henti-henti.
"Tunjukan kearah mana rumahnya "
Ucap Air memecah keheningan agar suasana tak secanggung itu padahal mereka menghidupkan Ac tapi tetap saja terasa gerah satu mobil dengan yang bukan mahromnya walau pun mereka akan menikah.
"Bukannya sudah hapal, kenapa bertanya! "
Deg..
Cittt...
"Astagfirullah.. "
Pekik Mona terkejut pasalnya Air ngerem mendadak untung saja Mona pakai sabuk pengaman jadi jidatnya aman.
"Kamu gak apa-apa? "
Tanya Air kewatir bercampur merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya tapi sumpah demi apapun Air begitu kaget dengan apa yang Mona katakan.
"Alhamdulillah Aku baik "
Air menghela nafas pelan dan langsung menjalankan mobilnya kembali. Tak ada percakapan lagi diantara mereka yang memang disepanjang jalan Air nampak berpikir keras.
Bagai mana dia tahu kalau aku tahu jalan pulang kerumahnya? Padahal kan setiap hari rumah itu kosong walau sesekali ayah Mona ada dirumah itu,pikir Air bingung.
"Berhenti.. "
Citt...
Lagi-lagi Air mengerem mendadak karna tak pokus membuat Mona menghela nafas kasar lalu keluar dari mobil.
Air yang melihat Mona keluar dengan cepat dia juga menyusul dengan tatapan terkejut ternyata dirinya sudah sampai dan mobilnya tepat di depan pagar rumah Mona.
" Maafkan sikafku dulu, mungkin perjodohan ini jalan takdir Allah menyatukan kita dalam ikatan pernikahan. Dan harus kamu tau dulu dan sekarang Aku menyukaimu semoga rasa ini sampai Nanti.. "
Ucapan Air sukses membuat Mona menghentikan langkahnya, dengan membuang nafas pelan Mona langsung berbalik.
"Aku tahu itu ! Tepat dimana kamu mengatakannya ketika aku baru sadar dari pasca oprasi dulu . "
"Lalu ! "
"Pulanglah.. "
Air menghela nafas kasar belum puas sama jawaban Mona dan sekarang dia menyuruhnya pulang membuat Air pasrah saja mungkin masih banyak waktu mereka membahas nya.
"Hati-hati calon Imamku.. "
Duarrrr...
.
.
.
Bersambung....
**Giman-gimana seru gak??
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yah dengan Like, Komen, dan Vote ok.
Terimakasih**....