Terjebak Cinta Om Duda

Terjebak Cinta Om Duda
Sindiran


__ADS_3

"Ayah.....ayo masuk" ajak Nia yang melihat ayah dan ibu tirinya sudah di depan pintu apartemen.


Mama Dina melirik kiri-kanan saat masuk kedalam apartemen Nia,terpajang jelas foto pernikahan anak tiri nya ini.


Apartemen Om Ben terlihat sangat mewah dan tertata rapi seperti nya rumah tangga mereka normal-normal saja pikir mama Dina.


Om Ben yang baru selesai mandi keluar dari kamar nya,


"Baru datang yah,ma" sapa nya ramah sambil menyalami punggung tangan sang mertua dan di anggukki ayah Nia


"Nyaman" ucap pak Bahtiar dan diangguki Nia tersenyum.


"Apartemen nya cukup luas ya nak Ben"


"Iya yah, Alhamdulillah tapi aku juga berniat pindah yah"


"Kenapa?" tanya mama Dina


"Nia sedang hamil ma jadi dia butuh ruang gerak yang lebih luas, rencana nya aku akan membeli satu rumah di kawasan selatan yang lebih dekat dengan kantor agar aku bisa bolak-balik kantor dan rumah untuk melihat Nia dan anak kami nanti"


"Jangan terlalu di manja Ben,nanti Nia malah ngelunjak" ketus mama Dina


"Ma"

__ADS_1


"Pa, Ben itu bekerja! bukan main-main jadi biarkan dia fokus bekerja jangan di recokin,kamu Nia jangan minta yang aneh-aneh deh sama suami kamu,ini memang kebiasaan kamu dari dulu pengen nya di manja jadi susah kan suami kamu,maaf ya Ben sikap Nia masih ke kanak-kanak ya sampai kamu kewalahan begitu,itu lah kalau menikah tanpa pacaran jadi nya tidak tau sisi buruk dari pasangan masing-masing" ujar mama Dina panjang lebar membuat pak Bahtiar menghela nafas panjang sedangkan Nia geram mendengar ocehan sang mama Tiri yang menyudutkan dirinya.


"Ma,bukan Nia yang minta tapi sudah saya pikir kan dari awal kami menikah,saya memang ingin membelikan Nia rumah sebagai hadiah pernikahan tapi masih belum kesampaian karena sibuk bekerja apalagi kami baru pulang bulan madu ke Bali jadi belum sama sekali terealisasi dan seperti nya sekarang akan saya wujudkan ma, apalagi sudah ada rumah yang cocok dengan kesukaan Nia" jawab Om Ben yang merasa tidak suka dengan ucapan sang mertua.


Nia menatap sang Suami,Om Ben tidak pernah membicarakan masalah rumah sebelum nya.


Om Ben menggenggam tangan Nia seraya berkata ada aku dan Nia memejamkan mata nya sejenak,dia percaya pada om Ben.


"Tapi tetap saja sebagai istri jangan menjadi beban suami"


"Alhamdulillah nya Nia tak pernah membebani ku ma,dia bersikap layaknya seorang istri kebanyakan.Aku saja yang tidak ingin Nia berpikir berat apalagi sekarang dia sedang hamil sebisa mungkin Nia tidak boleh mengerjakan apapun,jadi lebih baik pindah ke rumah yang sudah aku sediakan pembantu nya,mama ku pun juga bisa menginap di sana karena rumah nya cukup besar dengan tiga lantai pasti Nia akan nyaman" ujar Om Ben membuat Mama Dina tercengang,tiga lantai bukan rumah yang murah,enak sekali Nia mendapat kan suami yang royal dan menjadi kan nya ratu sedang kan Carla mendapatkan si Fahmi yang perhitungan.


"Di sini Nia kesulitan meletakkan barang-barang nya ma, karena hampir tiap Minggu Nia diberikan hadiah oleh keluarga ku,jika di isi dengan lemari lagi akan semakin sempit"lanjut Om Ben membuat Mama Dina semakin iri.


"Yah,jangan begitu ayah sudah membesar kan Nia hingga dia menjadi istri ku,jadi ayah tidak perlu merasa bersalah,aku yang seharusnya berterima kasih yah sudah memberikan aku bidadari seperti Nia, perempuan yang paling aku cintai" ujar Ben membuat Mama Dina gerah,Ben sangat menyanjung Nia membuat nya semakin kesal.


"Beruntung sekali dia menikah dengan duda tajir seperti Ben" geram mama Dina dalam hati


"Oh ya,, sampai lupa untuk menyiapkan minuman mama dan Ayah, sebentar ya"


"Sayang,kamu di sini saja biar aku yang ambil,temani ayah saja" ujar om Ben


"Mas biar aku saja"tolak Nia

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa" ucap Om Ben segera berdiri ke arah dapur mereka


"Beruntung sekali kamu menikah dengan nak Ben,Nia. dia seorang suami bertanggung jawab,ayah senang melihat rumah tangga kalian"


"Kamu jangan kelewatan Nia,Ben bisa saja nanti bosan pada mu kalau kamu terus manja-manja,dia mencari uang kamu yang menghabiskan nya" celetuk mama Dina yang masih tidak suka dengan perlakuan manis Ben pada Nia


"Ma, seharusnya kamu mendo'akan yang terbaik untuk Nia bukan malah bicara begitu" tegur pak Bahtiar


"Memang seperti itu yah,Ben orang kaya sedang kan Nia apa? jangan terlalu terlena nanti di tinggal baru tau rasa nangis kejer-kejer"


"Ma!!! apa-apaan kamu" kesal pak Bahtiar


"Mama tenang saja saya akan setia pada Nia ma,cuma dia perempuan yang saya cintai,yah mungkin mama Dina hanya takut saja, apalagi riwayat saya pernah bercerai,iya kan ma?" tanya Ben dan di anggukki mama Dina pelan


"Tidak semua perceraian itu terletak salah nya pada lelaki ma,tapi untuk saat ini saya tidak akan mengungkit siapa yang benar dan salah yang perlu saat ini pembuktian kalau saya benar-benar mencintai Nia,agar pak Bahtiar dan mama Dina tidak khawatir saya sudah mempersiapkan aset untuk Nia, rumah yang saya beli atas nama Nia dan pembuatan hotel di Bali juga atas nama Nia" ujar Om Ben membuat pak Bahtiar dan Mama Dina semakin terkejut terlebih mama Dina semakin iri dengan apa yang di dapat kan Nia.


"Dan jika terjadi sesuatu pada saya,Nia akan mewarisi sebagai harta saya yah karena kami memiliki anak" lanjut om Ben


"Mas" panggil Nia yang tak ingin suaminya menerus kan perkataan nya lagi karena Nia sendiri tidak tau dengan semua rencana om Ben, mereka belum mengatakan apapun sebelum nya.


"Iya sayang,aku hanya menjelaskan pada mama Dina sayang,agar jangan terlalu khawatir dengan nasib anak perempuan nya ini, pasti mama Dina sangat menyayangi mu hingga dia sudah bisa memikirkan bila ada kejadian buruk pada kamu" sindir om Ben membuat mama Dina merasa malu.


"Ayo di minum yah,ma, setelah ini saya ingin mengobrol sebentar dengan ayah,mama bisa berkeliling apartemen ini bersama Nia, mungkin mama mau ke ruang olahraga atau mau bersantai di balkon ma" ucap Om Ben lagi sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2