
“Za, selesai mandi, kamu langsung sarapan ya! Kakak udah bikinin nasi goreng buat kamu!” seru Zahra sambil melenggang keluar kamar.
Aiza tidak menjawab, ia sibuk mengguyur tubuhnya dengan air.
Tak lama, terdengar teriakan keras dari dalam kamar.
“Astagfirullah.. Aiza telat! Bantuin Aiza, plis!” Gadis berkerudung putih itu histeris, berlari keluar kamar sesaat setelah menyambar tas dan meyelempangkannya ke bahu. Ia menuju ke ruang makan. Satu tangannya menjinjing sepatu dan kaus kaki yang kemudian dilempar ke lantai dekat meja makan.
Ia mengambil piring dan sendok dari rak, duduk di meja makan dan menyantap nasi goreng yang baru saja ia ambil dengan gerakan tergesa-gesa hingga nasi berceceran di meja. Ia menyambar telur ceplok yang masih hangat. Zahra benar-benar rajin memasak. Sudah masak nasi goreng, masih saja menggoreng telur ceplok dan kerupuk untuk teman nasi goreng.
Zahra yang sedang mencuci piring, bergegas meninggalkan cuciannya di wastafel dan menghampiri Aiza.
“Jangan teriak-teriak, Za. Mulut kamu lebar nanti.” Zahra tertawa lalu membungkukkan badan dan kini di posisi jongkok. Memasangkan kaus kaki ke kaki Aiza yang terayun di bawah meja. “Miringin badanmu, biar gampang Kakak bantuin pake sepatunya.”
“Oke, Kakak cantik!” Aiza menuruti perintah kakaknya, memiringkan posisi duduk sementara mulut terus mengunyah nasi, sesekali meneguk air putih agar nasi yang ada di mulut secepatnya tertelan.
“Kamu pake legging untuk daleman nggak, Dek?” Zahra memasangkan sepatu di kedua kaki adiknya dengan telaten.
“Enggak, Kak. Buru-buru banget ini.” Mulut Aiza tersumpal penuh nasi.
“Pantesan hawanya nyampe sini.”
__ADS_1
“Iiiih… Kakak, segitunya banget. Huk uhuk…” Aiza tersedak dan langsung memegang lehernya.
“Lah, kenapa itu? Telan nasinya aja, Dek! Sendoknya jangan ikut ditelan.”
“Cegukan ini, Kak.”
Aiza mengakhiri sarapan dengan meneguk air putih sebanyak-banyaknya. Tapi cegukannya tetap bandel, membuat mulutnya terus mengeluarkan bunyi huk huk yang kedengaran aneh.
Aiza bangkit dari kursi lalu menyalami tangan Zahra dan mencium punggung tangan kakaknya itu.
“Loh, sarapannya kok nggak dihabisin?” Pandangan Zahra tertuju ke piring yang ditinggalkan Aiza.
“Nggak sempat, Kak.”
“Iya, maaf.” Aiza berlari ke dapur dan mencari Ibunya. “Umi, Aiza pergi sekolah dulu.”
Ibu Aiza yang terlahir dari keturunan Betawi asli, mendongakkan wajah melihat bungsunya menyodorkan tangan ke arahnya. Ia mengelap tangannya yang basah ke kain lap dan menyambut uluran tangan bungsunya.
Aiza menyalami dan mencium punggung tangan Ibunya. disaat sudah dalam keadaan darurat pun, Aiza tidak mau meninggalkan kebiasaan sehari-hari, menyalami tangan Ibunya sebelum bepergian.
“Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumussalam.”
Aiza kembali melintasi ruang makan dan melambaikan tangan pada Zahra yang sedang membersihkan meja makan.
“E ehh… Tunggu!” seru Zahra membuat Aiza yang sudah sampai di ambang pintu pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
“Apa lagi?”
“Baju kamu lupa belum dikancing, tuh!” Tatapan Zahra tertuju ke kancing bagian atas seragam sekolah Aiza yang masih terbuka. “Bahaya kalau penampakan umbul-umbul di dalemnya keliatan!”
“Ups, ya ampun. Bisa pada melek Abang-abang di jalan sana. Duuh…” Aiza buru-buru mengancing kemejanya.
“Makanya jilbabnya diulurin ke bawah, jadi nutupin dada. Jangan malah disampirin ke pundak.”
“Iya Kakak yang paling cantik sekecamatan. Aiza pergi…!” Aiza kembali berlari keluar. Untung saja ada angkot melintas yang langsung bisa ia naiki. Aiza memang bukan orang miskin, tapi ia tidak pilih-pilih kendaraan saat berangkat ke sekolah. Apa saja yang lewat di depannya, akan menjadi target tumpangannya. Tak masalah naik angkot yang terkadang bau apek karena aroma penumpang lain yang mungkin lupa mandi, yang penting enjoy.
“Let’s go, Mbah!” seru Aiza memerintah supir angkot.
Penumpang yang lainnya saling pandang mendengar Aiza memanggil supir dengan panggilan Mbah.
Kalau biasanya supir angkot dipanggil dengan sebutan ‘Abang’, tapi tidak bagi Aiza. Suka-suka Aiza memanggil supir dengan panggilan apa, kan Aiza bayar. Kalau yang masih muda, Aiza akan memanggil ‘Adek’, padahal jelas umurnya di atas Aiza. Kalau wajahnya kelihatan agak tua, akan dipanggil ‘Om’. Dan yang lebih tua lagi, akan dipanggil ‘Mbah’. Adil kan?
__ADS_1
***
Bersambung