Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
90. Minta Pendapat


__ADS_3

Aiza mengedarkan pandangan dan tersadar bahwa orang- orang di sekitar sana sudah pergi meninggalkan masjid untuk pulang. Beberapa diantaranya duduk di pagar teras yang hanya setinggi pinggang.


"Apakah ada yang dibutuhkan?"


Aiza mendongak ketika mendengar suara itu. Ia melihat si pria yang tadi menjadi imam itu berdiri di bagian shaf laki-laki. Aiza menoleh ke kiri kanan, siapa tau ada orang lain yang diajak bicara, namun tidak ada siapa- siapa di sekitarnya. Ia lalu menunjuk dadanya sendiri.


"Iya, kamu. Ada yang kamu butuhkan? Mungkin ingin mengaji atau apa? Al Quran di sebelah sana!" Pria itu menunjuk tumpukan Al Quran di lemari kaca. Ia lalu mengambil salah satu dan kembali duduk membawa kitab suci tersebut.


"Ustad Muda!" panggil Aiza yang bingung mau panggil apa. Jadi terserah dia saja mau menyebut apa untuk pria muda itu.


Pria muda itu tersenyum akibat dipanggil dengan sebutan ustad muda. "Aku bukan ustad."


"Whatever. Udah jadi imam shalat berarti bisa dipanggil ustad." Aiza nyengir. "Ada yang mau saya tanyain."


"Boleh. Bertanyalah!"


"Ustad bilang tadi, dosa terbesar adalah durhaka kepada orang tua. Pertanyaannya, kalau orang tuanya yang salah, apakah pembelaan anak yang memprotes kesalahannya dengan cara keras adalah sama halnya dengan durhaka?" Aiza sangat paham ketentuan hukum dalam ajaran agamanya bagaimana seorang anak menyikapi kedua orang tua, yang tetap mesti diperlakukan seperti kitab suci, selalu ditaruh di atas.


Demikian pula orang tua tetap diutamakan dan diprioritaskan meski mereka salah. Aiza sangat memahami itu. Hanya saja, ia ingin pendapat dari oria yang dia panggil ustad muda itu.

__ADS_1


"Sebaik apa pun anak terhadap orang tuanya, itu tidak akan bisa membalas jasa orang tua. Jadi, seburuk- buruknya orang tua, tetap harus dihormati, dihargai, dan berlaku baik pada mereka. Jangan membencinya, apa lagi sampai menyakitinya. Ingatkan bila mereka salah," jawab pria muda itu.


Jawaban yang sudah Aiza ketahui sebelumnya, Aiza ingin kejelasan saja. "Wujud protes keras anak pada orang tua berupa sikap yang ketus hanya merupakan unjuk rasa saja, bukan wujud dari kebencian, hanya ingin orang tua berubah menjadi lebih baik. Andai itu adalah sebuah kedurhakaan...." Aiza berhenti.


Pria muda berkopiah putih itu mengulas senyum tipis. "Tidak ada manusia yang sempurna. Manusia tempat khilaf dan salah. Semua itu manusiawi. Hanya satu yang perlu diingat, jangan sampai hati orang tua terluka. Baik dan buruknya orang tua adalah urusan mereka, yang kewajiban kita sebagai anak adalah mengingatkan dan mengajak pada kebaikan, bukan menghakimi."


Aiza tersenyum. "Ya ya... Ustad muda pasti jodohnya orang baik nih. He heee...” 


“Jangan panggil Ustad muda, aku bukan ustad.  Panggil aja Mas Aldan.”


Aiza hanya memutar mata.  “Ya sudah, saya permisi. Assalamualaikum." Aiza bangkit berdiri, melepas mukena dan menggantungnya di lemari. Ia meraih tas dan memasang talinya di punggung.


"Bukan warga sini ya?" tanya Aldan membuat Aiza kembali menoleh dan menatap si pria muda.


"Bukan," singkat Aiza. Ia menganggukkan kepala tanda permisi lalu beranjak keluar. Angin terasa menusuk kulit saat sudah sampai di luar. 


Aiza menghampiri sepatunya yang bertengger di luar batas suci. Jongkok saat memasangnya ke kaki.


"Masih sekolah?" tanya Aldan yang kini berdiri di pintu masjid dengan kedua tangan menyilang di dada.  Sewaktu Aiza mendatangi rumah Akhmar, ia tidak bertemu dengan Aldan, waktu itu Aiza disambut oleh Roni. 

__ADS_1


Kemudian Roni menyampaikan kepada Aldan bahwa ada seseorang yang menunggu Akhmar di ruang tamu.  Maka Aldan menemui Akhmar dan meminta supaya Akhmar menemui si tamu.  Oleh sebab itu Aiza dan Aldan tidak saling mengenal. 


Aiza menoleh, melempar senyum. Lalu mengangguk.


Pria itu mengernyit. "Jam segini anak sekolahan bisa berada di area yang jauh dari jangkauan?  Ini bukan wilayah kamu kan?”


Aiza menyenderkan punggung ke pagar teras masjid.  Ia biarkan kakinya yang sudah beralaskan sepatu, tetap berada di bawah.  Ia menghela napas lalu berkata, “Aku diusir abah dari rumah.”  Aiza jujur.  Salah satunya tak ingin orang lain salah paham atas keberadaannya di sana, takut dinilai sebagai gadis nggak bener yang keluyuran malam- malam.


Pria itu hanya mengernyit tanpa bertanya apa pun.


“Aku di rumah jadi guru ngaji.  Muridku anak- anak kecil semua, tapi suatu hari ada cowok baligh yang udah gede belajar ngaji sama aku.  Di sinilah masalah dimulai.  Terjadi banyak kesalahpahaman hingga kedua orang tuaku beranggapan bahwa aku berpacaran dengan anak muda itu.  Aku paham banget kok kalau aku ini muslim dan dilarang berpacaran yang kegiatan di dalamnya adalah merupakan dosa.  Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman, namun kedua orang tuaku nggak mempercayaiku.”


Aldan mengangguk- anggukkan kepala.  Ia memahami letak kesulitan Aiza.  “Kamu selama ini pasti sangat dipercayai sebagai anak baik yang nggak mungkin berbuat kotor.”  Aldan meyakini bahwa Aiza adalah gadis yang baik.  “Mungkin apa yang mereka saksikan sudah sangat meyakinkan mereka.”


BERSAMBUNG


Follow instagram @emmashu90


Emma aktif berbagi info di sana. 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2