Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
129. Jangan Salah Paham


__ADS_3

Akhmar membalas tatapan Aiza, masih tampak dingin. "Aku nggak pernah minta itu padamu. Kamu udah ambil keputusan besar sendirian, yaitu memilih Mas Aldan. Dia lebih pantas bersamamu, dia yang dulu selalu dibanding- bandingkan denganku oleh papa, bahwa dia jauh lebih baik dariku. Nyatanya dia memang lebih pantas bersamamu. Lalu apa lagi yang kamu cari? Bukankah setiap wanita mendambakan sosok imam yang soleh? Kamu sudah menemukannya," jawab Akhmar datar.


Hati Aiza tersengat, sakit mendengar jawaban Akhmar.  Seakan ia sedang dilempar oleh pria yang dia cintai kepada pria lain. Iya benar, setiap wanita mendambakan pria soleh seperti Aldan. Tapi entah kenapa perasaan Aiza yang bahlul itu tetap tertuju kepada Akhmar. Perasaan itu tidak berubah. Bahkan kini malah semakin mengakar kuat. Tidak bisa diubah dengan akal. 


Secara akal sehat, seharusnya Aiza lebih memilih Aldan, sosok yang terlihat dewasa, matang, mapan dan bahkan soleh. Sedangkan Akhmar, dia memang sudah mapan, memiliki usaha sendiri, tapi kesolehannya patut dipertanyakan. "Akhmar, kita udah sama- sama dewasa, bisa berpikir. Aku bisa menilai bahwa apa yang kamu ucapkan itu nggak sesuai dengan hatimu." Aiza menekan dada Akhmar kuat- kuat dengan jari telunjuknya, giginya menggemeletuk karena geram atas pernyataan Akhmar yang dengan mudah melepaskan dirinya.


Akhmar tidak bergeming. Menatap Aiza datar.


"Setelah sekian lama aku menunggu pertemuan kita, dan sekarang aku terjebak di situasi sesulit ini, kamu dengan mudahnya menyerahkan aku ke pria lain. Apa kanu tau gimana rasanya jadi aku? Sakit." Aiza menunjuk dadanya swndiri dengan mata berkaca- kaca.


Akhmar terdiam menyaksikan ekspresi Aiza yang baru kali ini menjadi pemandangannya. Wajah cantik yang biasanya hanya menampilkan keceriaan, senyuman, juga cemberut dan kemarahan, kini menampilkan kesedihan. Hampir menangis. 


"Sepertinya percuma aku bicara ini ke kamu. Sia- sia."  Aiza balik badan, melenggang pergi dengan membawa kekecewaan. Harapannya untuk mendapat dukungan dan solusi dari orang yang dia cintai telah gagal. 


Tak peduli dengan tatapan semua orang yang menampilkan wajah- wajah heran saat ia melintasi ruang makan, Aiza tetap berjalan dengan langkah lebar.

__ADS_1


"Loh, Aiza? Ada apa?" heran Qanita melihat Aiza yang menghambur begitu saja melewati ruang makan, air mata Aiza menimbulkan tanda tanya besar.


Semuanya bertukar pandang.  Bertanya- tanya ada apa dengan Aiza. 


"Kenapa Aiza kabur?" Ismail berbisik pada istrinya, heran melihat gamis Aiza yang terlihat robek.


Qanita hanya bisa diam tanpa jawaban.


Tak lama kemudian menyusul Akhmar yang menyembul keluar dari arah dapur membawa sepiring timun yang sudah dikupas dan dipotong- potong.


Tetap terlihat tenang, Akhmar meletakkan piring ke meja. "Aiza mencret."


Semua yang duduk di sana malah mengulum senyum. Lalu terdengar komentar yang saling sahut. Untung semuanya sudah selesai makan, jadi kalimat Akhmar tidak mengganggu. Akhmar kelamaan di dapur sampai- sampai Adam pun sudah menyelesaikan makannya. Alhasil, timun yang dikupas oleh Akhmar pun sia- sia. 


"Hanya karena mencret, Aiza sampai menangis?" Ismail menggeleng, tidak percaya dengan jawaban Akhmar.

__ADS_1


"Mungkin makanannya bikin mules," singkat Akhmar enteng.


"Kamu apakan putriku di belakang tadi? Aku lihat baju anakku sampai sobek itu!" Ismail berdiri dan menatap Akhmar tajam. Ia masih ingat kejadian beberapa tahun silam antara Aiza dan Akhmar. Semua itu membuat Ismail mengkhawatirkan kalau dua insan itu masih memiliki hubungan spesial. Ismial beranggaoan bahwa Akhmar sedang berusaha merebut Aiza dari Aldan.


"Sabar, pak kyai. Kita dengarkan dulu penjelasan Akhmar," ucap Adam yang ingin menengahi. Ia baru tahu kalau calon besannya ternyata bar- bar. Dikit- dikit ngamuk.


"Ini jariku terkena pisau tadi. Lukanya cukup dalam, darahnya segar. Aiza menyaksikan itu, dan dia spontan saja membalut lukaku dengan sepotong baju miliknya. Sudah, itu aja," jelas Akhmar. 


Semua mata pun tertuju ke arah jari Akhmar yang dibalut sepotong kain yang sama seperti gamis yang dikenakan oleh Aiza.


"Ya sudah, nggak masalah. Jiwa sosial Aiza memang tinggi, dia begitu peduli dengan apa saja di sekelilingnya," ucap Aldan bijaksana.


"Abah, mohon untuk tenang. Semuanya baik- baik aja," imbuh Aldan lagi berusaha menenangkan Ismail.


Akhmar melangkah gontai meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2