
"Kita udah pernah bertemu sebelumnya, tepatnya beberapa tahun silam. Bahkan mungkin sudah sangat lama. Tapi aku masih ingat dengan wajahmu. Insyaa Allah aku langsung tahu bahwa kamu adalah gadis yang baik," ucap Aldan lembut.
"Dan aku juga tahu kalau Mas Aldan adalah orang baik. Tapi... Mas Aldan pasti tahu kalau perasaan itu nggak bisa kita arahkan, dia berjalan tanpa bisa kita atur."
"Maksudmu, kamu mau bilang kalau kita belum saling kenal dan belum tentu bisa saling menyayangi, begitu?" Aldan lagi- lagi tersenyum. "Za, rasa sayang dan cinta itu nggak kita butuhkan untuk sesama manusia. Hakikatnya, kalau sudah mencintai Allah, maka yakinlah pasti mencintai manusia dengan benar sebab cintanya herdasarkan cinta karena Allah. Tapi kalau cinta pada manusia karena alasan tertentu, pasti nggak akan abadi."
Aiza paham dengan kalinat yang diucapkan Aldan. Dan rasanya begitu dangkal saat ia harus membicarakan masalah hati, yang pada dasarnya hatinya kini masih berlabuh pada Akhmar. Bahkan kini setelah pulang ke Indonesia, rasa itu malah semakin kuat. Ada jeinginan besar untuk dapat bertemu, menatap wajah Akhmar dan mengatakan banyak hal.
"Kamu jangan ragu, hidup itu nggak melulu soal cinta. Ada banyak sisi lain yang harus dilakukan," sambung Aldan.
Memang benar, cinta karena Allah adalah dasar utama pada hal- hal apa pun, namun Aiza memiliki janji pada Akhmar yang sudah sepatutnya janji itu dipenuhi. Dia minta untuk ditunggu. Lalu, pantaskah bila dia yang sekarang malah meninggalkan Akhmar?
__ADS_1
"Sejak pertama dan terakhir kali kita ketemu, kamu sudah banyak berubah, Aiza. Dulu kamu itu masih sangat kecil. Dan sekarang..." Aldan melempar senyum tanpa.mau melanjutkan kalimatnya. Meski ada banyak perubahan dari fisik Aiza, namun wajah gadis itu tetap sama seperti dulu. Cantik. Dan sikap Aiza juga banyak perubahan. Aiza dulu yang banyak ngomong, berani, dan selalu lincah itu kini tampak lebih dewasa dengan sikap yang sopan. Namun keberanian, banyak bicara, keceriaan dan kelincahannya tetap tidak berubah.
"Mas Aldan, maaf kalau nanti akan ada banyak sikapku yang kurang menyenangkan. Sebab, sejujurnya..." Aiza ingin mengatakan bahwa orang yang dijodohin sama Aldan bukanlah dia, melainkan kakaknya, Zahra. Namun ia tahu bahwa hal itu akan membuat malu keluarganya, juga memperburuk nama Zahra, jadi lebih baik hal itu tidak perlu disampaikan. Bagaimana pun, Zahra akan menjadi kakak ipar Aldan jika saja perjodohan mereka benar akan terjadi.
"Sejujurnya apa?" tanya Aldan dengan dahi bertaut.
"Ah, udahlah Mas. Sepertinya bukan yang tepat membicarakan itu. O ya, apa Mas Aldan anak tunggal?”
Aiza hendak mengajukan pertanyaan, namun urung oleh Roni yang datang menyajikan minuman ke meja. Ia mempersilakan dnegan seulas senyum.
“Monggo, Mbak. Diminum!” ucap Roni dengan logat khas Jawa-nya.
__ADS_1
“Makasih.” Aiza mengangguk dan langsung meraih teh susu yang disajikan. Hangat.
Demikian juga Aldan yang meneguk minuman miliknya, kopi susu.
Pintu tiba- tiba didorong dari arah luar. Tadinya pintu itu hanya dibuka sebagian saja, namun orang di balik pintu membuka keduanya hingga terbuka lebar. Pertama, koper didorong masuk. Berikutnya, sosok pria menyusul koper yang baru saja dia dorong.
Loh? Aiza membelalak kaget menatap sosok pria yang berdiri di ambang pintu.
Bersambung
Bantu share cerita ini biar rame yah. Salam Emma Shu 😘😘
__ADS_1