Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
122. Unik


__ADS_3

Pertemuan dengan Akhmar membuat Aiza kesulitan tidur.  Aiza sibuk berbicara dengan seseorang melalui via telepon, membicarakan masalah bangunan. 


Aiza mendapatkan donasi dari gurunya yang sekarang tinggal di Turki untuk membangun pondok pesantren, juga donasi dari beberapa perusahaan.  kerja keras Aiza akhirnya membuahkan hasil juga.  keinginannya untuk membangun pondok pesantren akan terwujud.  Yang tentu saja segala sesuatunya dibantu oleh abahnya, Ismail.


Bukan dengan mudah Aiza mewujudkan keinginannya itu.  Berbagai hal sudah dia lakukan beberapa tahun belakangan.  Mulai dari mencari tanah untuk pembangunan pondok, negosiasi harga tanah, ijin pembangunan dan lain sebagainya.  Semua itu dibantu oleh Ismail dan juga tim pelaksana yang amanah.


Aiza meletakkan hape.  Pembicaraannya via telepon sudah selesai.  Ia membuang napas.  Teringat Akhmar.


Kenapa kejadiannya bisa seperti ini?  Masalah hidupnya jadi klise begini.  Aiza terpaksa menerima perjodohan hanya karena menggantikan kakakya yang sekarang pergi entah kemana.  Dan ternyata pria yang dijodohkan adalah kakaknya Akhmar.  Duuuh...


Sekarang bagaimana caranya Aiza bicara dengan Akhmar?  Masih banyak yang harus ia selesaikan dengan pria itu.  Aiza tidak memiliki nomer hape Akhmar.  Pria itu sudah ganti nomer.  


Aiza harus segera mendatangi lokasi pembangunan pondok pesantren untuk pertemuannya dengan orang yang akan mengantarkan bahan bangunan ke lokasi.  Aiza menuju ke lokasi dimana pesantren akan dibangun.  Jaraknya lumayan jauh, memakan waktu sekitar dua puluh menit.  


Aiza mengendarai mobil Ismail.  Ia membelokkan mobil memasuki jalan aspal yang tidak begitu lebar, agak sepi.  Hingga sampailah ia di titik lokasi.  Tempat itu masih gelap.  Belum ada penerangan.  Hanya ada dua lampu yang digantung begitu saja di dekat bangunan yang dianggap gudang.


Aiza memarkirkan mobil di dekat gudang.  Ia berdiri di sana menunggu.  Dinginnya suasana malam membuat kulitnya meremang.  Ia memeluk lengannya sendiri.

__ADS_1


Sebuah truk muncul.  Truk tersebut membawa bahan- bahan bangunan.


“Ini ditarok mana, Mbak?” tanya supir sesaat setelah turun dari mobil.   


“Langsung masukin gudang ya!”  Aiza menunjuk gudang yang pintunya sudah dibuka lebar.


“Maaf, barang nyampenya malam, Mbak.  Soalnya tadi ngantar barang ke lokasi lain dulu.”


“Nggak apa- apa.”


Seorang supir dibantu oleh temannya menurunkan barang.  Memindahkannya ke gudang dengan susunan rapi.


“Kalian sama siapa?  Itu ada mobil lain?” tunjuk Aiza pada mobil merah yang baru masuk ke area itu.


“Itu bos kami, Mbak.  Tadi katanya memang mau ngecek langsung ke lokasi,” jawab supir sambil melenggang mengangkut semen.


Seorang pria turun dari mobil mewah.  Aiza tak begitu memperhatikan pria itu.  ia fokus pada supir dan seorang lainnya yang sibuk menurunkan barang dari truk.

__ADS_1


“Pundaknya dialasin APD supaya tidak luka!” titah sosok pria berkemeja biru yang baru saja muncul.


Aiza terkejut melihat sosok pria berpenampilan rapi dan tampan yang ternyata adalah Akhmar.  Sampai saat Aiza terbengong menatap Akhmar, pria itu masih tampak sibuk berbicara dnegan anak buahnya.


Eh, sampai di sini, Aiza kembali tersadar bahwa Tuhan telah menjalinkan kisah yang unik untuk mereka berdua, yang kerap menjadikan mereka dekat dan terhubung dengan sesuatu yang mereka sendiri tidak pernah merencanakannya.


Akhmar mengulang pandangannya saat sekilas ia menatap Aiza.  Dan kedua kalinya, Akhmar pun mengembalikan pandangan ke wajah Aiza.  


“Akhmar!” panggil Aiza melangkah mendekati Akhmar.


Pria itu diam saja, menatap Aiza dengan tatapan tak menentu.


“Kamu nggak lupa sama aku kan?” tanya Aiza.


Lama Akhmar terdiam sampai akhirnya ia berkata, “Enggak.”


Hanya begitu saja?  Datar banget?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2