
Aiza mendekatkan kepalanya ke jendela yang berlapis kaca bening, menyaksikan tangan Akhmar yang menyentuh lengan Aisha.
"Kamu pasti sembuh. Jangan khawatir!" ucap Akhmar memberi semangat.
"Aku nggak akan bisa hidup dengan kaki cacat begini." tangis Aisha pecah.
"Jangan putus asa. Hidupmu nggak sesempit itu. Tujuan hidupmu bukan sekedar untuk sesuatu yang dilakukan dengan berjalan bukan? Biaya rumah sakit sudah ditanggung pelaku. Dan satu hal lagi, aku akan meng- cover biaya hidupmu."
"Aku nggak mikirin biaya hidupku, aku mikirin kakiku yang jadi cacat ini. Aku cacat. Aku nggak berguna!" Aisha menjerit sambil mengacak- acak alas kasur yang dia tiduri. Air matanya membanjir. Ia tampak frustasi.
"Siapa yang mau dengan gadis cacat sepertiku?" Aisha sesenggukan.
"Aku."
Jawaban singkat itu mengejutkan dua gadis sekaligus, Aiza dan juga Aisha.
Tangis Aisha sontak terhenti. Gadis itu menatap lekat mata Akhmar. "Benarkah?"
__ADS_1
Akhmar mengangguk.
Aisha menarik tangan Akhmar dan memeluk lengannya. Tangisnya kembali pecah. "Syukurlah. Aku mendapatkan orang yang aku cintai."
Aiza memundurkan kepala, menjauhi jendela. Berjalan meninggalkan kamar itu. Ia mengira akan bisa memberi doa semoga lekas sembuh pada Akhmar, tapi ternyata ia justru melihat Akhmar sedang menunggui gadis lain.
Fix, rasa sakit yang menghujam sangat dalam di hati Aiza, dan rasa itu tidak boleh lagi terulang. Ia tidak boleh menoleh Akhmar lagi. Tidak. Berhenti berharap! Aldan adalah masa depannya.
Namun yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana kelak saat ia menjadi kakak iparnya Akhmar? Akankah mereka bertemu setiap hari?
***
Nayla yang melihat Aiza sudah duluan duduk di salah satu meja, langsung menghambur dan memeluk sahabatnya itu. Mereka berpelukan erat, saling cium pipi kanan dan kiri. Tersenyum girang. Wajah keduanya nyaris hanya menampilkan senyum bahagia.
Aiza menatap wajah Nayla yang terdapat perubahan, terutama pada pipinya yang kini tampak tirus. Cantik.
"Nay, lo makin cantik," ucap Aiza.
__ADS_1
"Lo juga. Nggak nyangka lo secantik ini sekarang. Hampir aja gue nggak kenal lo tadi." Nayla menarik kursi dan duduk, diikuti oleh Aiza yang juga duduk.
"Gue udah pesenin minum buat lo." Aiza menatap minuman di meja.
"Waw.. thanks." Nayla langsung meneguk minuman yang sudah disediakan sesaat setelah keduanya melakukan cheers.
Mereka berbocara banyak hal mengenai pengalaman selama lima tahun belakangan. Aiza menceritakan kehidupan fan pengalaman memukau selama berada di Kairo. Sedangkan Nayla tampak bersemangat menceritakan kisah hidupnya yang selama ini bekerja menjadi seorang desainer baju alias perancang busana. Ada banyak ragam sifat manusia yang ia layani sebagai customer.
"Terakhir ini, ada cowok yang minta gue buat desain baju nikahannya, dia datang sendirian, dia juga nggak ukur badan, dia cuma dateng trus ngasih catatan ukuran badan dia sama ukuran badan ceweknya doang. Dia minta desain baju yang paling keren. Orangnya kalem, sopan dan ramah. Beruntung cewek yang dapetin dia. Dia minta bajunya cepet dikerjain karena akan dipakai dalam waktu dekat. Bajunya udah 90 persen jadi, soalnya kan tiga hari lagi mau dipakai," kenang Nayla bersemangat.
Aiza membeku di tempat, tiga hari lagi adalah hari yang sama dengan waktu pernikahannya.
"Setiap dateng ke tokoku, cowok itu nggak pernah bawa calon istrinya, katanya semua serba mendadak, jadi mesti siap dengan tepat waktu," sambung Nayla.
"Nama cowok itu siapa?" tanya Aiza.
"Aldan."
__ADS_1
Tepat. Pria yang dimaksud adalah Aldan. Sempit sekali dunia ini, sampai- sampai diantara sebanyak ini warga di ibu kota, Nayla harus bertemu dengan Aldan. Aiza bahkan belum sempat menceritakan kisah pahit percintaannya karena terlalu asik membahas kenangan di Kairo.
Bersambung