
Di sisi lain, Akhmar memasuki kamar dan tertawa terbahak melihat kedua sahabatnya yang masih meringkuk di lantai pada posisi yang sama seperti saat ia tinggalkan. Wajah-wajah ketakutan masih tergambar jelas di sana.
Atep dan Bajul bertukar pandang melihat Akhmar tertawa, ketakutan yang tadi terlukis di wajah Akhmar, kini lenyap seketika.
“Lo nggak lagi kerasukan, kan?” tanya Atep.
“Udah, kalian nggak usah pada ketakutan. Bukan polisi yang dateng.”
“Jadi siapa?” Atep antuias.
“Polri.”
“Serius, Mar?” Atep makin kalang kabut.
“Enggaklah.”
“Serius, Mar! siapa yang datang?” Atep menuntut.
“Aiza,” jawab Akhmar membuat wajah-wajah ketakutan memudar dalam sekejap waktu, yang langsung disambut dengan pukulan bertubi-tubi dari Atep dan Bajul. Sudah sedemikian besar rasa takut yang menyelimuti, dan Akhmar masih bisa bercanda.
Tubuh Akhmar tersungkur jatuh ke ranjang saat kedua sahabatnya memukulinya.
“Stop! Stop!” pekik Akhmar membuat tangan-tangan yang memukulinya berhenti.
“Lo sih, masih aja becanda. Kita di sini cemas setengah mati.” Atep setengah kesal, setengah gembira.
“Kalian bisa bernapas lega untuk saat ini. nggak tau besok.” Akhmar bicara dengan santai sembari mengambil buku catatan yang akan diserahkan ke Aiza. Ekspresi wajah Akhmar benar-benar terlihat tenang tanpa sedikitpun terbesit rasa takut. Kehadiran Aiza sepenuhnya telah mengubah suasana hatinya. dan ia pun tidak tahu apa sebabnya.
__ADS_1
Ini aneh, begitu besar pengaruh sosok Aiza bagi Akhmar. Hingga segala kesulitan tiba-tiba sirna hanya dengan kehadiran Aiza.
Akhmar kembali ke ruang depan dan menyerahkan buku tulis itu kepada Aiza.
Aiza senang bukan main. Ia melompat kegirangan.
“Pst, jangan lompat- lompat, itu gandulan ikut naik turun, malu diliatin si Akhmar,” bisik Zahra di telinga Aiza dan langsung dijawab dengan pelototan mata.
“Kakak iiih… Jilbab Aiza sampe ke dada tauk. Yang itu kagak bakalan keliatan,” balas Aiza yang juga berbisik.
“Ya udah, aku dan kakakku cabut. Mekom..”
Akhmar mengangguk, bingung harus menjawab apa.
“Oke, kita pulang dulu. Makasih udah nyimpenin buku adik ku,” ucap Zahra.
Akhmar mengangguk.
Sementara Adnan yang sudah duduk di atas motor Ninja, menghela napas ketika kunci motornya diambil oleh Akhmar.
“Gue masih ada urusan sama lo.” Akhmar merangkul leher Adnan dan menatap wajah tampan pria itu dengan jarak dekat. Akhmar tidak salah menilai wajah dibalik kaca mata itu tampan, hidungnya mancung. Badannya juga tinggi, tegap dan six pack.
Adnan menatap mata Akhmar, detik berikutnya langsung mengalihkan objek pemandangan ke arah lain. Mata Akhmar yang gelap tidak enak dipandang.
“Lo tetangganya Aiza bukan?” tanya Akhmar mendominasi, tatapan nanar dan nada suara tegas.
“Ya.”
__ADS_1
“Lo juga pacarnya Aiza kan?”
“Bukan,” singkat Adnan tidak ingin mencari masalah jika banyak bicara.
“Nggak peduli lo pacarnya Aiza atau bukan, tapi gue Cuma minta satu hal ke lo, lain kali nggak usah kasih informasi apa pun tentang gue kepada orang lain! Gue nggak suka! Paham?”
Akhmar mengawasi ekspresi wajah Adnan yang tenang dan rileks. Lelaki itu tidak ketakutan seperti halnya anak- anak lain yang gugup dan takut saat berada di dekat Akhmar, Adnan justru diam dan tenang. Sepertinya Adnan hanya malas berurusan dengan Akhmar sehingga dia lebih cenderung tak mau banyak bicara.
Lengan Akhmar yang mengalung di leher Adnan membuat sebagian telapak tangan Akhmar menyentuh dada Adnan, dan Akhmar tidak menemukan tanda- tanda degupan di atas normal. Detakan jantung Adnan teratur.
Fix, Adnan bukanlah pengecut seperti yang lainnya. Nyalinya patut diacungi jempol.
“Kalau lo tau informasi tentang gue, cukup berhenti di elo, jangan disampaikan lagi ke orang lain!” tegas Akhmar dengan tatapan tegas.
Ucapan itu membuat Adnan menoleh dan menatap Akhmar serius. Lalu ia membenarkan kaca matanya. “Ya.”
“Dan satu lagi, jagain cewek lo itu. Dia digangguin orang terus karena kelewat cantik!”
“Aiza suka sama cowok alim, mana mungkin dia mau sama gue yang kurang alim di matanya. Memangnya bagaimana cara gue untuk masuk di kehidupan Aiza supaya bisa deket sama dia? Ngapelin Aiza kayak cowok- cowok yang sedang jatuh cinta? Atau ngedatengin rumahnya dan main bareng dia? Telponan atau sms-an sama dia? Nggak mungkin itu bisa terjadi. Aiza bukan tipe cewek yang suka hal- hal begituan. Rutinitas Aiza setiap hari cukup padat. Bangun tidur, shalat subuh, ngebantuin nyokapnya masak, beres-beres rumah, ngurusin taman, pergi ke sekolah, pulang sekolah, les bahasa Inggris. Setelah selesai shalat Isya, dia mengajar ngaji. Dia nggak akan pernah punya waktu untuk berpacaran seperti dugaan lo.” Adnan seperti tak rela mendengar Akhmar mengatakan bahwa Aiza doyan berpacaran.
Akhmar malah jadi penasaran dengan perkataan Adnan yang mengatakan bahwa Aiza mengajar mengaji. “Apakah Aiza itu guru ngaji?”
“Ya. Jadwal keseharian Aiza udah sangat padat dan nggak mungkin dia doyan ngeladenin hal- hal yang menurut dia nggak berfaedah,” jelas Adnan ingin mengenalkan pada Akhmar bahwa Aiza adalah gadis yang terjaga.
***
Bersambung
__ADS_1
Follow instagram @emmashu90
Emma aktif di ig untuk berbagi info 😘