Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
21. Perkelahian


__ADS_3

Akhmar geleng- geleng kepala menyadari sedang dibuang di tempat yang menurutnya tak seharusnya ada di sana. Dulu, ia waktu dimasukkan ke pondok pesantren oleh papanya, ia kabur dari pondok dan memilih untuk tinggal di rumah temannya. Itulah sebabnya ia tidak pernah masuk pondok seperti Aldan, sebab ia selalu kabur setiap kali dimasukkan ke pondok.


Tiba- tiba terdengar suara berisik motor yang gas nya ditarik tak beraturan, menimbulkan suara riuh yang menyakitkan telinga, belum lagi suara knalpot motor yang mengerikan. Lebih rame dari pasar ikan. Cempreng seperti kaleng rombengan. Hadeeh...


Sejurus pandangan tertuju ke arah luar masjid, di mana seorang pria yang menunggangi motor kawas*ki di depan masjid itu menarik- narik gas. Berisik sekali.


Orang- orang di dalam masjid pun melongok, merasa terganggu, berbisik, dan saling membahas kegaduhan itu.


"Ya Allah, siapa itu?"


"Berisik sekali."


"Bikin onar aja."


"Nggak sopan. Nggak tau agama."


"Rusak akhlaknya itu."

__ADS_1


"Nyari masalah tuh orang."


Beberapa orang bapak- bapak tampak bangkit berdiri dan mendekati si pria yang sedang bikin onar di luar masjid. 


Tak lain preman itu adalah Jamed, preman kampungan yang kerap bikin onar di perkampungan, suka malakin orang, mintain duit, mabuk- mabukan, dan katanya sih suka ngeganja. Pokoknya parah. Ada tato di sepanjang lengannya, rambutnya gondrong. Mukanya bengis.


"Hei, apa mau mu?" seru Bapak tua yang dianggap sebagai tetua yang dihormati.


"Jangan bikin keributan di sini. Sedang ada acara keagamaan. Kamu kan tahu sendiri itu!" Ucap Pak Rt.


Prang!


Botol bersamaan dengan lampu yang pecah berjatuhan mengenai kepala Aiza yang berada tepat di bawahnya. Aiza menjerit, merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya, ia merasakan sesuatu yang cair meleleh di pelipisnya. Serpihan kaca lampu mengenai punggung tangannya. Sementara kulit lain yang terlindung dari gamis dan hijab tetap aman.


Jerit dan keramaian sontak membahana, ruangan menjadi gaduh, mengira ada pengacau yang menyusup. Orang- orang berlarian. Anak- anak menangis.


Akhmar berlari mengejar Jamed, melompati tanaman hias yang ada di sisi teras samping masjid, lalu berlari secepat kilat mendekati Jamed.

__ADS_1


"Bukan cuma lo satu- satunya preman di sini. Jangan sok berkuasa!" geram Akhmar menatap wajah bengis Jamed.


Pria berkulit cokelat dengan bulu halus yang tumbuh di rahang itu membalas tatapan Akhmar dengan tajam. "Banyak bacot lo! Ini wilayah kekuasaan gue! Bangs*t!"


Jamed melayangkan tendangan ke arah Akhmar. 


Dengan sigap, Akhmar secepat kilat berkelit hingga tendangan hanya mengenai udara.


Perkelahian tak dapat dielakkan. Mereka berjibaku dengan saling pukul, saling tendang dan saling serang satu sama lain. 


Banyak warga yang menonton, namun juga banyak yang panik, hendak melerai tapi takut terkena imbas pukulan.


Ada pula yang berteriak meminta supaya perkelahian dihentikan.


Aksi saling serang antara Jamed dan Akhmar terlihat sangat panas dan dengan gerakan cepat, persis yang terjadi di film laga. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2