Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
72. Umpatan dan Sumpah Serapah


__ADS_3

"Kalau udah kayak gini, aku selalu keinget sama umi." Aiza memandang ke depan, membayangkan wajah uminya. "Umi adalah wanita luar biasa. Tegar dan kuat. Umi seperti batu karang yang nggak roboh meski diterpa ombak sangat kuat sekali pun. Udah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan aku, masih juga ngurusin aku sampai sekarang. Suka ngingetin aku supaya hormat sama abah. Sebab akulah yang dianggap pembangkang di rumah. Pokoknya nggak terhitung dan nggak akan terbalas jasa seorang ibu oleh anaknya."


Akhmar tergugu mendengar kata- kata Aiza. Kata- kata itu menyadarkannya akan besarnya jasa seorang ibu yang tak akan mungkin terbalas dengan apa pun. Lalu bagaimana dengan Adam, papanya Akhmar? Dia menjadi ayah sekaligus ibu untuk Akhmar. Meski air susu yang ditelan oleh Akhmar saat bayi bukanlah dari ibunya, namun kesulitan Adan bangun tengah malam untuk membuatkan susu, menidurkan dan mengurusnya setiap hari bukanlah hal mudah. Ada sesuatu yang ngilu merasuk ke dalam dada Akhmar.


 Pria itu mengambil rokok dari kantong celananya, lalu menyulutnya dengan api.


"Kamu ngerokok?"


Akhmar menghentikan gerakannya menyalakan api. Ia mengangguk.


"Eh, aku nggak mau mencium asap rokok ya. Kalau kamu mau ngerokok jangan pas ada aku. Itu hak kamu sih. Tapi jangan sampai ngeganggu kenyamanan orang lain!" tegas Aiza penuh peringatan.


Akhmar menatap batang rokok yang terselip di jarinya. "Apa karena perokok pasif lebih berbahaya ketimbang perokok aktif?" tanya Akhmar.


"Salah satunya. Coba sebutin satu aja manfaat merokok untuk kebaikan."


akhmar berpikir dan tersenyum tipis. "Bisa bikin tenang."


"Zikir jauh lebih tenang."


Skak matt. Jawaban Akhmar salah. 

__ADS_1


"Nggak ada satu pun manfaat dari merokok, semua tentang keburukan. Udahlah, andaipun aku ngomong banyak tentang merokok, seorang perokok nggak akan peduli karena itu nggak akan mengubah pemikiran si perokok. Namanya juga udah nyandu." Aiza mengedikkan bahu.


Akhmar membuang batang rokok yang sudah dia sulut dengan api. Dalam sekejap, batang rokok pun mati.


"Eh, sejak tadi ada mobil lewat loh. Kok kita diemin aja? Malah keasikan ngobrol." Aiza menatap ke arah jalan. 


Hujan sudah mulai reda, hanya tinggal rintik- rintik saja.


Akhmar bahkan baru sadar kalau hujan mulai reda. Ia bangkit berdiri saat dari kejauhan tampak sorot lampu mobil menuju ke arahnya.


"Itu ada mobil," tunjuk Aiza sambil turun dan memakai sepatu.


"Itu kayaknya mobil pribadi. Mana mungkin mereka mau numpangin kita. Dikira kita perampok atau orang jahat yang mau modus," jawab Akhmar sambil mengawasi mobil yang terus mendekat. Tidak begitu jelas jenis mobil apa karena silau, yang tampak hanyalah kilauan lampu saja.


Menyusul Aiza yang juga menuju ke tepi jalan, berdiri di samping Akhmar.


Aneh, tanpa diberhentikan, mobil itu berhenti sendiri tepat di hadapan mereka. Dan Aiza baru sadar bahwa ia mengenali mobil itu ketika ia menatap warna mobil dan platnya. Jantungnya deg- degan tak karuan.


Wajah Ismail menyembul keluar saat kaca jendela diturunkan. Raut wajah pria paruh baya itu tampak murka menatap Akhmar. Di sebelahnya, seorang wanita muda duduk manis mengenakan hijab berwarna biru muda.


Ya Allah, itu kan mobilnya abah. Aiza terkesiap.

__ADS_1


Ismail turun dari mobil, menatap wajah Aiza dan Akhmar satu per satu. Dan ia berhenti di wajah Akhmar.


"Biad*b! Laki- laki kurang ajar! Apa yang kamu lakukan dengan putriku malam- malam begini? Kau larikan putriku sampai di sini? Ya Allah, jauh sekali kau membawa pergi anakku!" hardik Ismail sambil mengacung- acungkan telunjuknya ke wajah Akhmar, emosinya pecah.


Akhmar tidak berkata apa pun. Ia diam bukan berarti sedang merasa takut, tapi akan butuh waktu banyak untuk memberi penjelasan. Dan ia memilih untuk diam.


"Biad*b!" Ismail mendaratkan pukulan ke wajah Akhmar.


Sial! Tua bangka masih aja ngamuk- ngamuk. Nggak takut stroke? Akhmar menggeram kesal dalam hati.


Aiza menjerit menyaksikan itu. Ia pun tak mau ambil tindakan apa pun, karena sadar bahwa apa yang disaksikan abahnya saat itu memang terlihat tidak pantas. Wajar abahnya marah. Menjelaskan masalah yang sebenarnya sekarang pun tidak ada gunanya.


“Ya Allah…”  Aiza menggigit bibir bawah melihat sudut biir Akhmar yang berdarah.


"Aiza, masuk!" Ismail menunjuk mobilnya.


Aiza tak mau banyak bicara yang uung- ujungnya hanya akan membuat keributan.  Saat ini diam lebih tepat.  Tatapan mata Aiza tertuju ke mata Akhmar saat ia melangkah masuk, mereka bertukar pandang.


Akhmar hanya diam menyaksikan Aiza masuk ke mobil.


"Berani kau macam- macam lagi dengan putriku, kau akan tau akibatnya. Aku akan menjebloskanmu ke penjara. Atau malah mengirim mu ke neraka sekalian. Biar mampus! Bocah berandalan tidak tau diri!" maki Ismail kemudian masuk ke mobil.

__ADS_1


Betapa banyak umpatan dan sumpah serapah yang bertaburan di benak Akhmar untuk membalas makian pria tua itu, namun semuanya dia telan dalam hati. Ia hanya bisa diam menyaksikan mobil merah itu berlalu pergi membawa Aiza.


Bersambung


__ADS_2