Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
88. Pergi


__ADS_3

Zahra mengguncang lengan Qanita, "Umi, tolong bantuin Aiza, Mi."


Qanita hanya menatap Zahra dan mengelus lengan sulungnya itu.


"Abah jahat! Abah jahat!" Aiza menjerit marah.


Makin emosi, Ismail maju dan kembali menarik lengan Aiza, menyerat gadis itu menuju gerbang dan mendorongnya keluar. Lalu mengunci pintu gerbang.


"Tidak ada tempat lagi buat kamu di sini!" Ismail melangkah menuju pintu rumah.


"Abah nggak bisa usir Aiza. Aiza anaknya umi. Aiza berhak hidup sama umi." Aiza berteriak sambil mengguncang pagar jeruji besi. "Umi pasti nggak mau kalau Aiza pergi. Umi mau bersama dengan anak- anaknya."


Ismail tak merespon.


Pandangan Aiza mengitari pagar, ia lalu memanjat pagar itu. Tak peduli roknya tersibak ke atas saat kakinya dalam posisi memanjat, toh dia mengenakan celana legging untuk dalaman.


Melihat Aiza yang memanjat dan tampak tak berputus asa, Ismail meraih sapu dan mengejar Aiza. Lalu memukulkan tangkai sapu ke tangan Aiza yang berpegangan pada pagar.

__ADS_1


Jemari Aiza sakit sekali hingga pegangannya terlepas dan ia terjatuh.


"Umiiiiiii... Tolongin Aiza. Suruh aja abah pergi ke tempat istri mudanya, jangan bikin rusuh di rumah ini," jerit Aiza. Namun ia tak mendapatkan balasan apa pun dari uminya. Bahkan ia tak melihat uminya keluar dari rumah. Saat itulah ia baru sadar bahwa ia hanya sendirian sekarang. Tak ada seorang pun yang berada di pihaknya.


Aiza bangkit berdiri. Menatap Ismail yang masih berdiri mengawasinya dengan tatapan horor, kemudian melangkah pergi. Bukan hanya hatinya yang sakit, pahanya sakit, betisnya sakit, telinganya sakit, bahkan bokongnya juga sakit luar biasa.


Semakin lama, sosok Aiza semakin hilang dari pandangan. Ismail pun masuk ke rumah setelah memastikan Aiza sudah benar- benar pergi.


"Keterlaluan bungsu mu itu! Pelawan, pembangkang, bahkan main gila dengan laki- laki seperti Akhmar!" Ismail berjalan hilir mudik di hadapan Qanita dengan ekspresi emosi. 


Qanita hanya diam. Dalam hatinya terluka oleh sikap Aiza yang dia percayai selama ini, namun ternyata tidak sebaik yang ia duga. Begitulah pikirannya.


"Ya, Abah!" jawab Zahra patuh.


"Abah tidak menyangka kalau Aiza ternyata seliar ini. Sudah kepergok berkali- kali bersama dengan Akhmar, malah ngeles dan membangkang lagi. Pengaruh pria berandalan itu memang sangat buruk." Ismail emosi sekali. Bicara dengan nada tinggi seakan- akan yang dia marahi ada di hadapannya. "Ingat, tidak ada lagi yang boleh menerima Aiza di rumah ini. Biarkan dia diberi pelajaran atas perilakunya itu. Supaya ada efek jera. Kalaupun terjadi hal buruk padanya, berarti itu sudah nasibnya. Itulah takdir Tuhan. Dia sudah kelewatan. Dia terus bertingkah buruk hanya demi manusia laknat si Akhmar itu."


"Abah, Aiza itu kan perempuan. Bagaimana dengan kondisinya saat malam hari tiba? kalau Aiza diapa- apain preman jalanan gimana?" Zahra cemas.

__ADS_1


"Halah, palingan dia malah senang diusir dari sini dan malah mendatangi Akhmar. Mereka itu sama- sama tidak tau malu." Ismail masih bicara dengan nada tinggi. Ia lalu masuk ke kamar.


Zahra menatap uminya dengan mata berembun. "Ya Allah, Umi, apa umi tega ngeliat Aiza diusir begitu? Aiza itu anaknya umi, nggak akan ada yang bisa mengubah itu, Umi."


Qanita mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah menganak sungai.


"Umi juga nggak tega, umi nggak mau Aiza diperlakukan begini. Tapi Aiza itu sudah besar, dia sudah bisa memilih mana yang halal dan haram. Lalu kenapa dia masih melakukan yang haram? Dosa apa yang umi lakukan sampai Aiza tega mengkhianati umi? Umi sungguh kecewa, umi sedih sekali." Qanita sesenggukan. Pundaknya bergetar.


"Umi, umi sendiri yang bilang kalau Aiza sudah mengetahui halal dan haram, apakah mungkin Aiza malah mengambil yang haram kalau dia tau itu dosa? Nggak mungkin kan, umi?" Zahra tampak memohon.


"Justru karena Aiza tahu halal dan haram, seharusnya dia tidak melakukan hal ini. Umi sungguh sangat kecewa. Pelaku melakukan dosa sedangkan dia sudah tau nilai haramnya, maka neraka adalah jaminannya. Berbeda dengan orang yang nggak paham dengan agama. Ini ada unsur udzur."


"Umi, Aiza sangat paham agama, mana mungkin Aiza ngelakuin ini semua."


"Menurut kamu, semua ini hanya salah paham, begitu? Umi melihat Aiza sekamar dengan Akhmar dengan kondisinya yang tidak pakai busana ini juga salah paham? Aiza diajak pergi malam- malam oleh Akhmar, itu juga salah paham? Lalu siang tadi Aiza ketemuan dengan Akhmar di dekat sekolah juga salah paham? Apa lagi, Zahra?" Qanita terus menangis.


Tak mau melihat uminya kian rapuh, Zahra hanya bisa memeluk uminya sembari berharap dalam hati supaya Allah menyudahi ujian ini.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2