Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
94. Tak Sengaja


__ADS_3

"Kamu dingin nggak?" tanya Adnan menatap Aiza.


"Dingin sih. Anginnya kenceng banget." Aiza merasakan angin kencang menampar sekujur tubuhnya.


"Ini, pakailah!" Adnan melepas jaketnya dan menyerahkannya kepada Aiza.


Aiza menggeleng. "Trus kamu gimana?"


"Aku udah pakai baju lengan panjang." Adnan menatap bajunya yang memang berlengan panjang.


Aiza pun akhirnya mengenakan jaket itu ke tubuhnya.


Akhmar menatap interaksi antara Aiza dan Adnan. Sorot matanya terus mengawasi dengan seksama tanpa ingin menanggapinya. Pemandangan itu menjadi pusat perhatian yang membuatnya tak tertarik menatap ke arah lain.


"Kamu kenapa bisa sampai di sini?" tanya Aiza.


"Ada tugas kuliah yang membuatku berada di sini. Tadinya naik mobil bersama teman- teman, tapi mereka udah pulang duluan. Kamu sendiri? Kok tengah malam bisa ada di sini dan... Bersama dengan Akhmar?" Adnan melirik sekilas ke arah Akhmar.

__ADS_1


Yang dilirik hanya diam tanpa memberi komentar apa pun dengan raut datar. 


"Aku diusir dari rumah sama abah. Dikirain aku ada hubungan khusus sama Akhmar," jawab Aiza tak mau menyembunyikan kasus yang menimpanya. "Abah dan umi salah paham."


Akhmar yang mendengar masalah itu pun terkejut, namun ia hanya diam. Menyimpan rasa terkejut itu sendiri tanpa mengucapkan sepatah kata. 


Jadi Aiza diusir dari rumah? Sefatal itukah?


"Lalu, kenapa kamu masih terlihat bersama dengan Akhmar begini? Bukankah ini yang menjadi penyebab kemurkaan orang tuamu? Ini akan menambah kemarahan mereka kalau mereka mengetahuinya." Adnan membenahi kaca matanya.


"Kenapa aku harus menjauhi Akhmar dan membatasi pertemuan dengannya sementara aku nggak salah? Kalau aku takut untuk bertemu Akhmar, itu artinya aku mengakui kalau aku salah. Aku nggak salah. Kondisi kebersamaanku dengan Akhmar selalu terjadi karena sebuah ketidaksengajaan. Kalaupun dalam keadaan sengaja kami bersama- sama, itu karena Akhmar sedang belajar membaca Al Quran bersamaku. Itu aja. Nggak lebih," jelas Aiza.


"Tujuanku baik, kok. Untuk membuat Akhmar benar- benar bisa membaca Al Quran. Abah dan umi udah mengenal aku sejak bayi. Kenapa mereka nggak bisa mempercayai aku? Sedangkan Kak Zahra aja bisa percaya sama aku?" Aiza antusias.


"Menurutku, kamu jangan dekat dengan Akhmar dulu. Kalau Akhmar mau belajar membaca Al Quran, dia bisa belajar di tempat lain. Ada banyak tempat belajar di luaran sana kan?" saran Adnan.


Akhmar memejamkan mata, telinganya masih terus menyimak pembicaraan antara Aiza dan Adnan.

__ADS_1


"Anehnya, kenapa abah bisa tau kalau aku ketemuan sama Akhmar di dekat sekolah? Trus mereka murka. Siapa yang ngadu ke abah? Lagian kan aku nggak cuma berduaan sama Akhmar. Ada Nayla juga di sana." Aiza berpikir.


Adnan menghela napas. "Aku nggak tau kalau penyampaianku ke abah kamu ternyata membawa musibah seberat ini buat kamu, Za. Aku siang itu pulang dari kampus melihat kamu bersama dengan Akhmar di dekat sekolah dan aku nggak melihat Nayla diantara kalian. Trus aku ketemu abah kamu di depan rumah, dan aku berhenti untuk menyapa abah kamu. Kami pun mengobrol. Awalnya membicarakan bunga- bunga yang kamu rawat hingga membuat taman menjadi indah, trus aku sampaikan ke abah kamu kalau aku salut sama kamu yang rajin dan gigih sampai- sampai nggak cuma di rumah aja kamu ngajarin Akhmar membaca Al quran, di sekolah pun masih mau mengajari Akhmar membaca Al Quran. Kupikir hanya sampai disitu, tapi ternyata masalahnya serunyam ini." Adnan menampilkan ekspresi menyesal.


"Ya Allah... Jadi kamu yang menyampaikan itu ke abah?" Aiza menepuk keningnya sendiri. Kecewa, sediah, juga menyesalkan kejadian itu.  "Pantesan abah ngamuk. Umi pun jadi sedih. Selama ini tuh mereka salah paham atas hubungan aku dengan Akhmar. Mereka mengira aku dan Akhmar ada hubungan khusus.  Makanya aku sembunyi- sembunyi ngajarin Akhmar membaca Al Quran." 


"Maaf, aku beneran nggak tau." Adnan menatap Aiza dengan dahi mengerut.


"Kamu nggak salah karena ini di luar pengetahuan mu." Aiza manyun, namun juga tak mau menyalahkan Adnan yang dianggap tidak tahu apa- apa.


Aiza menyenderkan kepalanya. 


Adnan masih di posisi duduk dengan kaki terlipat dan kedua tangan melingkar di kakinya yang terlipat. Ia tampak berpikir keras.


Aiza mengantuk, namun sulit baginya tertidur lelap karena mobil yang selalu bergoyang ke sana kemari, tubuhnya pun ikut bergerak dan bergoyang seiring gerakan mobil.  Kakinya dalam posisi selonjor.  Dan ia menoleh ke arah Akhmar saat betisnya yang terbalut kaus kaki ditambah rok panjang itu bersenggolan dengan kaki Akhmar yang juga selonjor.  Mereka bertukar pandang.  Akhmar cepat menarik kakinya, menjauhkannya dari kaki Aiza.


Tak hanya sekali saja hal itu terjadi.  Akhmar kembali memindahkan kakinya setiap kali goyangan mobil memaksa posisi kakinya bergerak ke arah Aiza.  Ia lalu pindah sehingga posisinya searah dengan Adnan.  Minimal ia hanya akan bersentuhan dengan Adnan jika terjadi guncangan di mobil itu.

__ADS_1


Mobil berhenti. 


Bersambung


__ADS_2