Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
111. Tangis Kepedihan


__ADS_3

Sepasang kaki berlapis sepatu putih berdiri di depan pagar rumah yang tertutup. Pemiliknya adalah Akhmar. Sorot matanya tertuju ke pintu rumah. 


Tak menyangka jika ternyata rindu itu melekat erat di kalbunya. Rindu pada rumah, rindu pada apa saja yang ada di sana.


Entah karena apa, hati Akhmar tergerak untuk melangkah ke sana. Menemui rumah itu.


Suara adzan isya baru saja selesai dikumandangkan. 


Akhmar mendorong pintu pagar hingga terbuka, ia melintasi satpam yang tampak sedang shalat di tempat penjagaan. Langkahnya terus bergerak hingga sampai di teras. 


Sanubarinya mengatakan bahwa ia harus menemui papanya. Entah itu karena kata- kata yang dia baca dari Aiza, atau memang hatinya tergerak ke sana dengan sendirinya. Yang jelas, setelah membaca tulisan Aiza, hatinya terasa kebas, lalu muncul kerinduan yang teramat sangat pada rumah itu, hingga kini kakinya sudah berada di depan pintu kamar papanya.


Terdengar suara Adam membaca surat Al Fatihah dengan suara merdu, berdiri sebagai imam shalat. Aldan di belakangnya, serta Roni sang asisten rumah tangga yang juga menjadi makmum.  Juga ada Desi, tantenya akhmar.  


Entah kenapa wanita itu masih setia menempati rumah itu?  kenapa dia tidak pergi saja?  Akhmar muak sekali.


Beberapa detik mata Akhmar memandangi pemandangan indah di depan matanya. Dan suara merdu sang papa yang menggetarkan kalbu, membuat Akhmar bergerak menuju ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu. Ia lalu berdiri di sisi Aldan, mengangkat takbir dan mengikuti gerakan shalat.


Ada sesuatu yang basah mengalir di hati Akhmar saat mengikuti gerakan shalat. Ayat- ayat yang dibacakan terdengar syahdu dan menyejukkan kalbu.


"Allahu Akbar!" Adam sujud.


Empat orang makmum di belakang mengikuti imam, bersujud.

__ADS_1


Lama di posisi sujud, tak terdengar suara takbir untuk bangkit menuju ke tahiyyat akhir. 


Kening Akhmar sampai sakit akibat sujud terlalu lama. 


Mungkinkah Adam sedang merapalkan doa? Tapi kenapa selama itu?


Manik mata Akhmar melirik ke sebelah saat menyadari Aldan bergerak merangkak maju. 


Penasaran, Akhmar mengangkat kepala, melihat Aldan yang mengguncang punggung sang papa. Tubuh Adam ambruk ke samping saat terkena guncangan tangan Aldan. 


Dengan air mata merembes berjatuhan, Aldan duduk di bagian imam, lalu melanjutkan ritual shalat, menggantikan posisi Adam sebagai imam. Mengucap takbir dan duduk tahiyat akhir.


Usai salam, Aldan langsung menghambur meraih tubuh Adam yang tergeletak di sebelah sajadah.


Desi pun tampak panik.


Entah kenapa tubuh Akhmar membeku. Kaku seperti papan, tak bergerak menyaksikan papanya yang terbaring lemas dengan mata terpejam. 


Astaga, haruskah gue ketemu papa di saat begini? Disaat papa dalam keadaan tidak baik- baik saja? Ataukah ini pertemuan terakhir?


***


Aldan tampak frustasi dan panik di depan pintu kamar tempat Adam dibawa masuk oleh beberapa suster yang mendorong bed.

__ADS_1


"Astaghfirullah... ya Allah.." Aldan berulang kali mengucapkan istighfar, takbir dan zikir lainnya.


Akhmar menatap kecemasan kakaknya dalam diam. 


Bayangannya melayang pada kejadian saat Adam terbaring di sisi sajadah dengan mata terpejam erat. Manik mata Akhmar terus terarah ke wajah papanya saat itu. Bahkan tak putus hingga salam.


Desi tidak ikut ke rumah sakit.  Wanita itu menunggu rumah bersama dengan Roni.


"Akhmar, makasih kamu udah datang. Kamu datang disaat yang tepat." Aldan menepuk pundak adiknya.


Akhmar menatap raut cemas di wajah kakaknya. Mata kakaknya itu sampai berembun.


"Mas khawatir sama keadaan papa. Akhir- akhir ini papa nge drop. Mas udah selalu perhatiin obatnya supaya nggak telat, tapi kondisi papa memang bener- bener buruk." Aldan memejamkan mata, lalu tangannya terangkat untuk mengusap kedua matanya yang basah. 


Akhmar masih diam. Tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak memiliki kosa kata banyak untuk bisa menenangkan, atau mengungkap kesedihan yang sama. Cukup dengan diam. Ya, diam.


"Mar, papa pasti terpukul. Papa sedih." Aldan berkata lirih.


"Papa nggak pernah nanyain aku kan, Mas?" lirih Akhmar akhirnya.


Aldan tidak menjawab. Menandakan bahwa pertanyaan Akhmar tidak perlu dijawab, karena memang begitulah kenyataannya, bahwa Adam memang tidak pernah menyebut nama Akhmar lagi semenjak Akhmar meninggalkan rumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2