
“Mar!”
Panggilan itu membuat Akhmar menoleh, menatap Aldan yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Ini buatmu.” Aldan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Agak tebal. Dijamin nominalnya lumayan.
“Aku nggak minta itu loh, Mas.” Akhmar menggeleng tanda menolak pemberian Aldan.
“Kenapa? Kamu takut ini uang yang Mas ambil dari pendapatan papa? Kamu kan tau aku kerja, ini hasil jerih payahku.”
“Aku tau itu uang Mas Aldan. Aku tahu Mas Aldan meniti karier dari nol sampai sekarang memiliki jabatan yang bagus. Tapi aku nggak mau ngerepotin Mas Aldan.” Akhmar balik badan hendak masuk rumah.
“Hei, kamu membutuhkan ini.” Aldan menyelipkan uang itu ke telapak tanagn Akhmar, memaksa adiknya supaya menerimanay. Ia cemas jika kejadian seperti yang ia saksikan tadi akan terulang kembali, dan akhirnya adiknya akan benar- benar menjadi pencuri demi memenuhi kebutuhannya.
Akhmar hanya diam, membiarkan uang itu berada dalam genggamannya.
“Kamu boleh meneleponku, meminta apa pun dariku.” Aldan menepuk pundak Akhmar lalu masuk ke mobil.
Akhmar masuk ke rumah yang pintunya dia dorong dengan mudahnya, ia tidak pernah mengunci pintu setiap kali bepergian. Memangnya harta apa yang membuatnya khawatir akan dimaling orang? tidak ada yang berhargha. Maling kok kena maling?
Akhmar merebahkan tubuh ke kasur. Ia ingat harus menyelesaikan hafalannya. Demi Aiza. Ia lalu membuka aplikasi smart phone nya, memutar murotal dan mengikuti suaranya. Sambil terpejam, ia terus menghafal. Berjam- jam, ia memutar ulang murotal tersebut. Sampai akhirnya ayat- ayat itu benar- benar menempel di kepalanya.
Siapa bilang Akhmar itu tidak cerdas? IQ nya tinggi. Hanya saja, ia malas menghafal.
__ADS_1
“Halaah… ternyata hafalan tuh begini doang. Gempil ini mah. Bentar doang bisa hafal.” Akhmar senang.
***
Aiza sedang membantu uminya membuat kue di dapur. Ini adalah rutinitas uminya yang tak putus, demi mencari nafkah.
Batang hidung Zahra tidak kelihatan, dia sedang kuliah.
“Umi, semangat banget sih masak kuenya?” Aiza menyenggol lengan uminya. Tangannya turut sibuk mencetak kue. Hatinya sebenarnya nelangsa menyaksikan uminya mesti harus mengambil peranan suami dalam mencari nafkah saat ia masih memiliki suami.
Qanita tersenyum. “Iyalah. Ini kan supaya kamu dan kakakmu bisa kuliah. Sebentar lagi kamu lulus dan akan kuliah kan?”
Aiza tertegun dan memutar mata. Bahkan sempat menghentikan gerakan tangannya mencetak kue. “Aiza kalau bisa nggak pakai uang umi saat kuliah nanti. Aiza pingin pakai uang Aiza sendiri.”
Aiza tertawa kecil. “Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah berkehendak kan, Umi? Bahkan daun yang gugur aja atas kehendak Allah. Di dunia ini nggak ada yang kebetulan.”
Qanita mengangguk- angguk. “Luar biasa. Umi senang sekali mendengar kata- kata kamu itu. ternyata bukan hanya cantik, tapi juga pintar dan cerdas.”
“Anak siapa dulu?” Aiza nyengir. “Aiza kan pinginnya kuliah di Kairo, Umi.”
“Waah… cita- cita yang bagus. Semoga Allah mengijabah.”
Aiza tahu kalau uminya tidak memiliki uang untuk dapat memberangkatkannya ke Kairo seperti yang dia harapkan, namun ia bangga dengan jawaban uminya yang lebih meyakini Kuasa Allah. Meski sekarang nihil uang di tangannya, namun keinginan itu patut diapresiasi. Siapa yang bisa menebak jalan yang ditakdirkan Tuhan? Tidak ada.
__ADS_1
Bahkan ayahnya Aiza menolak dengan keras saat Aiza mengatakan ingin menuntut ilmu ke Kairo. Katanya ke Kairo itu butuh biaya yang tidak sedikit. Apa gunanya perempuan kuliah sampai ke seberang negeri orang sementara statusnya kelak tetap saja di dapur, mengurus anak dan mengurus suami?
Meski Aiza mendapat jawaban tak menyenangkan dari ayahnya, namun keinginannya itu tidak goyah sampai kini.
“Ini tanggal Sembilan. Ada ibu- ibu arisan yang pesan kue tadi. Udah umi natarin. Makanya jam segini umi belum selesai bikin kue. Ini untuk pesanan yang besok diantar.” Qanita menjelaskan sambil terus sibuk dengan kegiatannya.
Eh? Tanggal Sembilan? Aiza baru ingat, tanggal itu adalah tanggal dimana Akhmar seharusnya setor hafalan kepadanya. Tapi kenapa tidak ada kabar dari Akhmar?
Aiza membuka hape, mengecek email. Tidak ada email masuk dari Akhmar. Ia juga mnegecek instagram. Tidak ada DM atau pesan apa pun dari pria itu.
Aiza melepas napas panjang. Benarkah Akhmar mengabaikan kesepakatan itu? Tunggu dulu, kenapa Aiza merasa kecewa jika Akhmar benar- benar mengabaikannya? Ia mendadak galau. Harapannya untuk dapat mengenalkan Akhmar pada ayat- ayat Allah pun lenyap.
Entah kenapa aiza ingin membuat Akhmar, sosok yang baru dia kenal itu lebih dekat dengan agama. Ini aneh.
“Za, itu kuenya gosong! Cepat keluarkan dari oven!” jerit Qanita melihat Aiza yang malah terbengong di depan oven.
“Eh, iya, Umi. Bentar!” Aiza bergegas mematikan oven dan mengeluarkan kue dari kotak itu dengan gerakan terburu- buru. Punggung tangannya sampai terkena oven akibat terburu- buru. “Aduh!” Aiza meniup- niup bagian kulit yang terkena panas.
Aiza membawa kue yang sudah keluar dari oven ke hadapan uminya. “He heee… ini yang gosong Cuma beberapa buah aja kok, Umi.”
Qanita tersenyum saja melihat tiga buah kue yang menghitam. “Ya sudah. Nggak apa- apa.”
Aiza menyusun kue ke dalam kotak sesuai jumlah pesanan yang dicatat di buku.
__ADS_1
Bersambung