Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
113. Tak Pantas


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Akhmar sudah berkumpul dengan keluarganya di rumah. Demikian pula Aiza yang sudah hidup berkumpul dengan keluarganya. Ismail mulai mengubah sikapnya, ia berusaha untuk bersikap baik pada anak dan istrinya.


Ia tidak lagi sibuk ingin nikah lagi, juga tak mau menceraikan salah satu istri hanya demi menikah lagi dengan daun muda. Ia tampak lebih sering berada di rumah Qanita, juga memberi nafkah seperlunya. Ia lebih banyak meluangkan waktu bersama anak- anaknya. 


Aiza melompat girang saat mengetahui bahwa ia adalah salah satu siswa yang terdaftar sebagai siswa lulus. Iya, Aiza lulus SMA. Dan yang menakjubkan, kini ia berada di kantor kepala sekolah sesaat setelah mendapat panggilan. 


"Selamat Aiza, kamu terpilih menjadi siswi penerima bea siswa berprestasi untuk melanjutkan kuliah di Kairo." Kepala sekolah menjabat tangan Aiza semangat.


"Alhamdulillah..." Aiza girang bukan main. 


"Belajar lebih giat lagi ya. Jadilah siswa teladan dan capailah cita- citamu!"


"Terima kasih, Pak." Aiza terharu matanya berkaca- kaca. Keinginanya untuk bisa bersekolah di Kairo akhirnya terwujud juga.


Dengan senyum lebar diiringi air mata keharuan, Aiza keluar dari ruangan kepala sekolah. Nayla sudah menunggu di depan pintu. Sahabatnya itu memeluknya. Mengucapkan selamat dan menangis haru.


"Jangan nangis!" pinta Aiza meski ia pun tengah menangis karena terharu. Bayangan tentang Kairo menari- nari di kepalanya.


"Slogan yang selalu lo gaungkan tentang menuntut ilmu sampai ke liang lahat akhirnya lo praktikkan juga. Lo luar biasa, Za."


"Enggak. Ini hanya keberuntungan yang diberikan Allah. Kita punya posisi yang sama, hanya kesempatan dan nasib aja yang membedakan." Aiza menatap wajah Nayla yang dihias senyum.

__ADS_1


Keduanya mengangguk bersamaan.


"Za, selamat ya!" ucap salah seseorang membuat Aiza menoleh. Ternyata Meta. Aiza tersenyum.


"Kamu hebat."


"Kamu sendiri mau lanjut kuliah kemana?" tanya Aiza.


"Aku belum tau. Terlalu banyak rencana ini. Pinginnya sih ke Jepang, tapi ibuku malah mintanya aku ke Amerika aja," jawab Meta dengan gayanya yang aduhai bak artis papan atas. "O iya, aku nggak pernah lagi ketemu Akhmar dua bulan ini. Dia nggak ngontrak lagi di rumah ibuku. Kalau kamu ketemu dia, sampaikan salamku ke dia ya!" Wajah Meta tpak tersipu malu sat mengucapkannya.


"Insyaa Allah."


Meta kemudian berlalu pergi.


Mereka makan bakso dua untuk menghabiskan waktu bersama- sama, sebab setelah sekarang, mereka tidak tahu kapan akan bersama- sama lagi. Jarak akan memisahkan.


"Za, trus gimana sama Akhmar?" tanya Nayla. 


"Uhuk." Aiza sontak terbatuk. Keselek bakso. Untung ketelan bakso yang kecil


 Nayla nanyanya nggak kira- kira, nyebut nama Akhmar pas lagi ngunyah bakso.

__ADS_1


Aiza langsung meneguk air mineral.


"Lo tinggalin dia ya? Apa Akhmar buat gue aja? Hi hi hiii..." Nayla terkekeh.


"Hus. Ngomongin laki- laki. Apaan sih?" Muka Aiza merah seperti kepiting rebus.


"Lah, Za. Gue kan nanya doang. Nasib Akhmar gimana? Lo tinggalin gitu aja?"


"Emangnya gue dan Akhmar ada hubungan apa?"


"Ya nggak ada apa- apa sih, tapi kalian itu ada kemistri." Nayla meyakinkan.


Ekspresi wajah Aiza langsung berubah. Tak dapat dipungkiri, Aiza memang memendam rasa yang tak baisa terhadap Akhmar. Ada rasa rindu saat lama tak bertemu pria itu. Ada rasa takut kehilangan. Pun bermunculan berbagai rasa asing yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.


“Lo pernah bilang, mencari jodoh itu harus yang akhlahnya baik, dari keluarga baik- baik, dan agamanya baik.  Tapi ilmu agama itu kan bisa digali, akhlak pun akan terbentuk seiring dengan ilmu yang mengiringi,” ucap Nayla.  “Orang yang berasal dari keluarga baik- baik, ilmu agamanya tinggi, tapi akhlak rusak, moral hancur, dan perilakunya nggak beradab itu banyak banget.  Intinya, kebanyakan manusia, dengan bekal ilmunya, dia mengetahui bahwa perbuatan itu dosa, tapi tetap dilakukan.  Nah, sekarang ini kita cari yang benar- benar mengamalkan ilmu agama.  Mereka itu nggak harus terlihat alim.”


“Contohnya Akhmar?” Aiza mempercepat arah pembicaraan Nayla.


Nayla nyengir.  “Kalau lo nggak mau Akhmar, biar buat gue aja.  He heee…”


Aiza geleng- geleng kepala.  Dia malu pada dirinya sendiri saat harus mengakui bahwa ia menyukai Akhmar.  Rasanya ia masih tidak pantas untuk hal itu.

__ADS_1


Bersambung


   


__ADS_2