Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
132. Sedih


__ADS_3

Akhmar menyambar jaket, mengenakan topi jaket dan berjalan keluar rumah. Ia menyusuri jalan sepi yang basah bekas guyuran hujan tadi. Langkahnya lebar hingga sampai ke ujung perumahan. Ia melihat rumah milik Anita, ibunya Vito. Rumah itu sepi. Hanya lampu menyala yang menandakan kalau rumah itu masih berpenghuni.


Akhmar melangkah melewati halaman luas rumah itu hingga sampai ke teras. 


Matanya berembun menatap pintu itu. Ia terkejut saat terdengar suara handle pintu digerakkan lalu pintu pun terbuka. 


"Loh, Akhmar?" Wanita paruh baya yang tak lain ibunya Vito itu tersenyum menatap Akhmar. "Ada apa malam- malam begini kemari?"


Akhmar mengerjapkan mata hingga embun di matanya tak lagi terlihat. Sorot lampu malam tak begitu jelas mengarah ke wajahnya, apa lagi ia memakai topi jaket hingga matanya yang berair pun tak terlihat oleh lawan bicaranya.


"Tante, mau kemana?" tanya Akhmar yang tak tahu harus bicara apa. 


"Mau ke warung depan. Beli koyok cabe, tangan tante ngilu, kalau ditempelin koyok cabe pasti akan membaik," jawab Anita dengan senyum.


Biasanya, dulu Vito yang sering disuruh ke warung untuk membeli apa saja, tapi sekarang Anita melakukannya sendiri.


Akhmar mengawasi senyum di wajah Anita. Andai saja Anita mengetahui siapa pembunuh putranya, akankah senyuman itu masih ada lagi untuk Akhmar?


"Bukannya ada Aisha?" tanya Akhmar menyebut nama adiknya Vito, gadis yang baru saja lulus kuliah dan sekarang belum ada kerjaan.

__ADS_1


"Aisha mana mau disuruh- suruh. Biasanya kan yang rajin banget disuruh itu Vito." Kali ini Anita menyebut nama Vito dengan tegar, tanpa kesedihan seperti biasanya. Tak terbayangkan bagaimana Anita kehilangan sosok Vito, sosok yang begitu patuh. 


"Kamu ada perlu apa?" tanya Anita. 


Akhmar pun bingung mau jawab apa. Dia ke sana tujuannya hanya ingin melihat kondisi Anita, sudah itu saja. Tapi ia malah kepergok duluan. 


"Mau ketemu Aisha?" tebak Anita.


"Enggak." Akhmar cepat menjawab. "Biar aku yang beli koyok cabe." Akhmar berlalu pergi begitu saja sebelum mendapat persetujuan Anita, membuat Anita hanya bisa mengernyit heran. 


Tak lama Akhmar kembali dan membawa beberapa lembar koyok cabe seperti yang diinginkan Anita.


"Nggak usah, Tan." Akhmar menolak saat Anita hendak membayar.


"Eh, ada Mas Akhmar." Gadis yang mengenakan jilbab yang ujungnya dililit di leher itu tersenyum dan menghampiri keluar. Ia adalah Aisha, adiknya Vito. Sudah lama gadis itu mencari perhatian Akhmar, sbeab memang pesona Akhmar terkenal ampuh meluluhkan hati wanita. Ketampanannya bikin hati wanita meleleh. Termasuk Aisha yang kesehariannya kerap mencari perhatian sosok Akhmar. Gadis itu membenahi kaosnya yang sesikit ketat. "Masuk, Mas. Aku bikinin minum."


"Enggak. Aku bentar aja. O ya, kamu udah ada kerjaan belum?" tanya Akhmar.


"Belum, Mas. Masih nganggur."

__ADS_1


"Mau kerja sama aku?" tawar Akhmar yang merasa ingin menjadi pengganti Vito. andai saja Vito masih hidup, maka Vito- lah yang menjadi tulang punggung keluarganya, termasuk mencarikan nafkah ibu dan adiknya.


Aisha tampak sumringah. "Kerja apa?"


"Di toko bangunan, nginput data aja sambil mengatur anggota. Di toko bangunanku, perlu administrasi. Kamu mau?"


"Mau. Mau dong. Tapi... Ngomong- ngomong gajinya berapa, Mas?" Aisha tampak agak enggan saat melontarkan pertanyaannya. 


"UMR. Ada bonus, ada lemburan, juga ada uang makan."


"Waah gede itu. Mau, Mas. Mau."


"Alhamdulillah," sahut Anita. "O ya, uang koyok cabenya diterima ya. Tante kan nggak minta gratisan."


"Nggak usah, Tan." Akhmar menjawab sambil berjalan menjauh. Ia pergi.


Anita hanya bisa tersenyum sambil mengawasi tubuh Akhmar.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2