Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
28. Perintah Ciuman


__ADS_3

Akhmar mengernyit heran mendengar penjelasan Jampang.  Nggak tau diri banget nih manusia alien, bisa- bisanya marah gegara ditolak cewek.  Nggak nyadar memang dia nggak pantes buat si Meta.  Dan Akhmar ingat bahwa cewek itu adalah cewek yang pernah mengajaknya berkenalan di masjid kemarin.


“Trus gue suruh ngapa?” tanya Akhmar.


“Lo datengin dia.  Trus cium dia!”


Akhmar mengerutkan dahi.  Tak merespon.  Kemudahan jelas berpihak padanya.  Tugas Jampang tidaklah sulit. Meta sudah lebih dulu menyukai Akhmar.  


“Gua bakalan dianggap ngelecehin dia karena main sosor sembarangan di depan umum.”  Akhmar mengangkat dagu dengan tampang angkuhnya.


“Iya justru itu tujuan gue.  Biar dia tau rasa, biar dia ngerasa direndahin orang.  Gue pengen ngasih pelajaran buat Meta.  Pergi sana!”  Jampang mendorong punggung Akhmar hingga tubuh Akhmar semakin mendekati pagar.


“Ngacau nih manusia. “  Akhmar geleng- geleng kepala.  Namun tak mau membantah, mengingat demi hubungan baik.  


Jampang membuka satu pagar besi yang bawahnya sudah copot hingga membuat celah menjadi lebar.  Jampang seperti paham sekali dengan situasi dan kondisi sekolah itu.  Akhmar mendekati pagar yang terbuka.  Ia terlihat ragu-ragu kemudian ia balik badan.  


“Apa nggak ada hukuman laen?  Males banget gue urusan sama cewek.”

__ADS_1


“Buktiin nyali lo gede dan pantes jadi temen gue.”


“Gue nggak butuh temenan sama lo.” 


Jampang terbahak mendnegar ucapan Akhmar.


Akhmar berpikir bagaimana caranya supaya ia berhasil melakukan tugasnya.


Meta dan kedua temannya saling pandang melihat kedatangan Akhmar.  Dari penampilan Akhmar yang mengenakan pakaian bebas, jelas Akhmar bukanlah penghuni sekolah Aliyah.  Lagi pula wajah Akhmar terlihat asing di mata Meta.  Juga tampak lebih dewasa.


“Kamu yang namanya Meta, bukan?” tanya Akhmar.


Awalnya Akhmar takut bakalan mendapat sambutan buruk karena berani muncul di sekolah seenak jidatnya, tapi Akhmar salah, karena Meta malah tersipu malu.  Bukan hanya itu, kedua teman Meta juga terlihat malu-malu kucing, menatap Akhmar dengan pandangan kagum.  Seketika, Akhmar merasa naik daun.  Itu membuktikan kalau muka Akhmar pantas dibilang sebagai penakluk wanita.  Tak heran jika dia sering gonta-ganti pasangan.


“Kamu Akhmar, kan?” tanya Meta ingin berkenalan.


“Hm.”

__ADS_1


Akhmar menoleh ke arah Jampang yang mengintip di balik pagar.  Ia bingung bagaimana caranya bisa melaksanakan tugasnya, harus mulai dari mana?  


“Boleh aku ngomong sesuatu?” tanya Akhmar pada Meta.


“Boleh… Ngomong apa?”  Meta tersipu malu- malu.


“Tapi aku nggak mau kedengeran sama yang laen.”  Akhmar melirik kedua teman Meta.  


Meta juga melirik kedua temannya yang terlihat saling berbisik.


“Gue bisikin, ya!”  Akhmar memajukan wajahnya mendekati gadis itu.  Hanya dengan berbisik di depan wajah gadis itu, tentu Jampang akan mengira kalau Akhmar sudah melaksanakan tugasnya.  Jarak antara Jampang dan Akhmar lumayan jauh, Jampang pasti tidak akan tahu jika sebenarnya Akhmar hanya berbisik saja tanpa melakukan aksi cium.


 “Kamu jangan bilang sama gurumu kalau aku masuk ke sini …..”  Belum selesai Akhmar berbisik, kakinya yang tidak seimbang akibat tubuhnya yang terlalu condong ke depan, membuatnya terhuyung hingga akhirnya tanpa sengaja tugas yang diperintahkan Jampang benar-benar terlaksana.


Bibir Akhmar mendarat di bibir Meta.  


Seketika kedua teman Meta yang semula saling bisik mengagumi ketampanan Akhmar, berubah memekik terkejut sembari menutup bibirnya sementara satu tangan mereka yang lain saling berpegangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2