Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
42. Wanita Berkerudung


__ADS_3

Sejak tadi, Akhmar penasaran dengan keadaan Vito, namun ia juga tidak mau mendengar hal buruk menimpa Vito.  


“Di rumah Vito ada banyak polisi.”  Atep terlihat semakin ketakutan dan urat-urat di wajahnya kian menegang.


“Jangan becanda!”  Akhmar mendekati Atep dan menatapnya bengis.


“Sumpah, gue baru aja lewat depan rumah dia.  Ya ampun, apa kita bakalan ditangkep?”


“Diam!” Akhmar merendahkan suaranya supaya tidak terdengar sampai keluar.  “Gue udah bilang, jangan sampai kita bahas ini lagi.”


“Tapi gue takut.  Sumpah, gue takut.”  Muka Atep memucat.


“Lo kan nggak nyentuh Vito sama sekali.”


“Minimal gue menyaksikan, gue ada di lokasi kejadian dan ngebiarin semua itu terjadi.”


“Jangan panik!  Kalian semua diam!”  Akhmar berusaha menenangkan Atep.  


Sudah berkali-kali Akhmar menuang air minum ke gelas dan meneguknya hingga habis.  Dia juga mondar-mandir sampai nabrak-nabrak sisi ranjang.   Napasnya terdengar keras mengisi kesunyian.  Sesekali ia mengusap rambut kasar.


Pintu terbuka, Akhmar dan Atep serentak menoleh ke pintu.  Bajul memasuki kamar.  Satu per satu ditatapnya wajah Akhmar dan Atep dengan pandangan tenang.


“Pst, banyak polisi di rumah Vito,” bisik Bajul.


“Jangan ada yang menampilkan ekspresi mencurigakan, sejauh ini nggak ada yang tau siapa yang mukulin Vito.  Jangan ada yang buka mulut.”  Akhmar berucap tegas.

__ADS_1


Semuanya diam.  Suasana terasa mencekam.  Kepala mereka membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


“Mar, Vito meninggal,” ucap Bajul.


Akhmar sudah menduganya, namun ia tidak ingin mendengar informasi itu.  ia ingin menutup telinganya supaya tidak mendengar kabar apapun tentang Vito.  


“Kalau misalnya kita ketangkap, gimana?” celetuk Atep dengan nada frustasi.


“Entahlah.”  Bajul tampak pasrah dengan wajah memelas.  “Gue pasrah.  Mau gimana lagi?”


“Gue nggak mau keseret-seret pokoknya.  Gue nggak mau dipenjara.”  Atep terduduk lemas di lantai bersandar ranjang.  Matanya berkaca, ketakutan.


Akhmar menatap tangan Atep yang gemetaran.  Ia mendekati Atep dan duduk di sisi Atep.  “Lo tenang, Tep.  Kalau pun gue ketangkep, gue jamin lo nggak akan keseret.  Gue jamin lo tetap bebas menghirup udara segar.  Percayalah!”


Atep menoleh dan menatap wajah Akhmar gusar.


Melihat keseriusan Akhmar, Atep merasa sedikit lebih tenang.  Meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya semua kebenaran terungkap.  Akankah ia terseret atau tidak?


“Mar, kita berada di lokasi kejadian bersama-sama.  Kita akan tanggung bersama-sama.”  Bajul duduk selonjor di sisi Akhmar.


“Jangan.  Gue jamin kalian nggak akan terseret ke dalam masalah ini.  Gue yang udah bikin Vito jatuh ke lereng, gue juga yang harus menanggung.”  Akhmar menepuk bahu kedua temannya.


Bajul menatap sayu Akhmar, kemudian direngkuhnya tubuh Akhmar dan Atep lalu membawa kepelukannya.


“Hei hei…!” 

__ADS_1


Suara dari arah pintu mengejutkan Akhmar dan kedua temannya.  Akhmar menoleh ke sumber suara dan mendapati Aldan berdiri di ambang pintu dengan raut serius.  “Kalian ngapain ngejogrok di pojokan kamar, baper- baperan kayak gitu?  Udah kayak lima tahun nggak ketemu aja?”


Akhmar tersenyum dan menatap wajah kedua sahabatnya yang masih terlihat tegang.


“Ada apa, Mas?” tenya Akhmar.


“Tuh, ada yang nyariin.  Buruan temuin.”


Akhmar ingin menanyakan siapa yang mencarinya, namun Aldan sudah keburu pergi dan menghilang dari pandangan.


Akhmar dan kedua sahabatnya bertukar pandang.  Seakan- akan mereka saling tanya siapa yang datang dan mencari Akhmar malam-malam begini.


“Polisi?” celetuk Atep dengan keringat dingin yang mengucur di pelipisnya.  Matanya liar mencari-cari jendela, siapa tahu polisi datang, maka ia akan langsung melompat dari jendela.  Sayangnya jendela kamar Akhmar ada teralisnya.


“Lo tenang di sini, gue akan atur keadaan.”  Akhmar berusaha menenangkan Atep.  Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu dengan jantung deg- degan.


“Mar!” panggil Bajul dengan prihatin.


Akhmar menoleh dan tersenyum getir.  “Kalian di sini aja.”  


Akhmar berjalan menuju ke ruang depan dengan perasaan tak menentu, antara cemas dan takut berbaur jadi satu.  Saat sudah sampai di ruang depan, ia terkejut melihat beberapa orang yang ada di sana.  Jantungnya sampai berdentum sangat kuat dan ingin lepas dari tempatnya.  


“Aiza?” kejut Akhmar melihat gadis mungil yang langsung berdiri begitu melihatnya muncul.  perasaan cemas yang sejak tadi merong-rong mendadak hilang berbaur dengan kedatangan Aiza.  Gadis itu sungguh menenangkan, wajahnya seperti memberi hipnotis hingga kecemasan dalam benak Akhmar menghilang secara tiba- tiba.  Akhmar sampai terpaku dan tak bersuara.


Inikah alasan raut wajah Aldan menjadi serius saat memanggilnya tadi?  Bagaimana mungkin sosok Akhmar dicari oleh wanita berkerudung itu?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2