
Akhmar pulang dari kampus menggunakan ojek. Aldan sudah ada di teras kontrakannya. Kakaknya itu menatap Akhmar dnegan dahi mengernyit.
“Motormu mana?” tanya Aldan yang melihat Akhmar turun dari ojek.
Akhmar memutar kunci pintu dan masuk. “Sini, Mas. Masuk!”
“Mas di sini aja. Mas nggak bisa lama- lama.” Aldan bertahan berdiri di teras.
“Motor yang Mas Aldan beliin itu hancur, Mas. Dibakar sama preman.”
Aldan terkejut. Namun ia sudah sangat memahami pergaulan adiknya yang amburadul, jadi ia tidak heran kalau adiknya memiliki musuh.
“Trus bagaimana kamu pulang pergi ke kampus? Naik ojek kayak tadi?” tanya Aldan.
“Mas, tolong jangan lakukan apa- apa lagi untukku. Jangan beri aku uang, jangan beliin aku motor, dan jangan lakukan apa pun lagi. semua yang Mas alkukan untukku udah cukup!”
“Mas punya tabungan. Dan itu bisa kalau untuk beliin kamu motor harga tujuh belas jutaan.”
“Oke. Tapi ini hitungannya ngutang ya! Nanti aku bayar kalau aku udah punya penghasilan tetap.”
Aldan tersenyum simpul. Ia menepuk lengan keras Akhmar. “Serius mau kerja?”
Akhmar mengangguk.
“Mas tau kamu itu bisa bertanggung jawab. Pasti bisa,” ucap Aldan.
“Mas pasti juga butuh untuk keperluan Mas sendiri. Cepetan nikah sana! biar ada tanggung jawab! Jadi bukannya malah mikirin aku terus.”
Lagi- lagi Aldan tersenyum simpul.
“Uang pemberian Mas masih ada sama aku. dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhanku,” kata Akhmar.
“Jangan pergunakan uang itu untuk hal- hal yang nggak bermanfaat ya! pokoknya itu hanya untuk kebutuhan yang baik- baik.”
__ADS_1
Akhmar mengayunkan alis.
“Soal motor, akan Mas urus secepatnya,” ucap Aldan. “Mas pergi dulu. O ya, papa kondisinya sedang kurang sehat. Dua hari yang lalu sempat masuk rumah sakit karena sesak napas. Tapi sekarang udah di rumah dan udah mendingan.”
“Emangnya papa pernah nanyain aku?”
Aldan hanya melirik Akhmar, lalu melangkah pergi. Ia masuk ke mobilnya.
***
“Wa yu’allimuhul- kitaaba wal- hikmata wat-tauroota wal- ingjiil.” Suara Aiza terdengar sangat merdu saat membaca ayat suci, memberikan contoh pada seorang anak yang terakhir mengaji.
Si bocah mengikuti lafaz yang dibacakan oleh Aiza. Kemudian ia menyudahi bacaannya dan berlari keluar setelah mengucap salam.
Aiza menatap ke arah pintu, menunggu seseorang. Kenapa Akhmar tidak datang? Bukankah Aiza sudah mengatakan bahwa Akhmar semestinya tetap datang untuk belajar ngaji?
Gadis itu melihat arloji di tangan. Lalu meletakkan penggaris kayu yang baisa ia gunakan untuk memukul ringan anak- anak yang hafalannya tidak lancar. Ia berkemas hendak meninggalkan ruangan. Namun baru saja ia hendak bangkit berdiri, terdengar suara khas.
Aiza mengangkat wajah, ia terbengong menatap sosok yang berdiri di ambang pintu. Pria itu berpenampilan alim dengan kopiah putih, baju koko biru dan sarung warna senada. Ada kumis menempel di atas bibirnya. Tahi lalat agak besar di bawah mata, serta kaca mata yang menambah kesan culun. Pria itu lalu melangkah masuk.
“Salam nggak dijawab, ya masuk aja,” protes pria itu.
“Waalaikumsalam,” jawab Aiza meski telat. Ia masih tergugu saat pria itu duduk di hadapannya, meletakkan iqro dan tersenyum lebar.
“Akhmar?” Aiza terkekeh menatap kumis di atas bibir pria itu yang bergoyang- goyang hendak terlepas.
“Ssttt… Jangan sebut nama itu.” Akhmar merapikan kumisnya yang bandel. Sulit sekali merekatkan benda itu di atas bibirnya. Setidaknya Ismail tidak mengenalinya jika ia datang ke rumah Aiza dengan penampilan seperti itu.
“Takut ketauan abah?” Aiza masih tergelak. “Kamu lucu kalau kayak gitu.”
“Yaah… malah diketawain. Mana mungkin aku akan bersikukuh tetap di sini kalau abah kamu mengusir aku, bisa kualat nanti. Aku bukannya takut sama abah kamu, tapi takut nggak bisa ketemu kamu.”
Tawa Aiza langsung lenyap. Gadis itu mengangkat penggarisnya. “Jangan mulai modus ya!”
__ADS_1
“Maaf!” Akhmar mengangkat dua jarinya.
Mereka lalu memulai dengan basmallah. Belajar mengaji, lalu dilanjutkan dengan setor hafalan. Luar biasa, hafalan Akhmar lancar. Tidak terbata, dan lafaznya juga kini sudah tepat.
Aiza salut pada kegigihan Akhmar yang ingatannya begitu cepat dibukakan Tuhan untuk menghafal Al Qur’an.
"Shalat kamu gimana?" tanya Aiza usai Akhmar menyelesaikan hafalannya.
"Shalatnya ngapain? Mm... Aku banyak lupa bacaannya. Soalnya udah lama nggak shalat," jawab Akhmar enteng.
"Baik, kalau begitu kamu hafalin bacaan shalat." Aiza mulai mengajari Akhmar seluruh bacaan shalat. Mulai dari takbir hingga salam.
Akhmar mudah saja menghafalnya. Otaknya tok cer. Sebab memang bukan hal baru bagi Akhmar menghafal bacaan shalat, sebelumnya dia juga sudah hafal, hanya saja lupa karena terlalu lama tidak mempraktikkan shalat. Lafaznya juga sudah benar sekarang.
Aiza meminta supaya Akhmar melakukan gerakan shalat sambil melafazkan bacaannya.
Sempurna. Akhmar hafal.
“Besok hafalin dua surat!” titah Aiza.
“Astaga, banyak sekali tugasku. Ini azab atau apa?”
Aiza tersenyum mendengar Akhmar menggerutu. “Pokoknya hafalin dua surat besok ya!”
“Kok dua?” protes Akhmar.
“Soalnya suratnya pendek- pendek. Kamu mudah dalam menghafal. Aku rasa, dua surat itu bakalan kelar kamu hafal dan satu malam.”
“Ini hukuman atau perintah?”
Aiza malah tersenyum.
Bersambung
__ADS_1