Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
82. Badmood


__ADS_3

Tak pernah Qanita mendidik anaknya untuk berpacaran sebab itu tidak ada dalam sejarah hidupnya. Apa lagi mewarisinya kepada sang anak.


Qanita tak bisa bicara lagi, hanya ekspresi wajah yang merah padam yang menunjukkan betapa ia sangat marah. Kecewa. Juga terluka.


"Za, tolong jelasin ya! Aku nggak bisa ngomong apa- apa lagi selain penjelasan tadi. Aku yakin kamu lebih memahami umi kamu." Akhmar berbicara sambil melangkah pergi.


Qanita menunduk, mengelus dada sambil beristighfar.


Aiza menghambur mendekati uminya setelah ia selesai mengenakan piama.


"Umi!" Aiza menyentuh tangan Qanita dan mencium punggung tangan wanita itu.


Qanita memalingkan wajah, tak mau menatap wajah bungsunya meski ia membiarkan tangannya dicium oleh si bungsu. Kedatangannya ke kamar itu niatnya untuk memberi pengertian dan memberi ketenangan pada Aiza, malah ia mendapatkan pemandangan yang menggiring pada opini baru.


"Umi jangan langsung ambil kesimpulan buruk tentang tadi. Itu hanya kebetulan aja. Aiza nggak tau kalau Akhmar sembunyi di dalam lemari. Dia tadi pasti mau keluar dan nggak tau kalau Aiza mau ganti baju," jelas Aiza.


"Setelah sederet kejadian yang udah terjadi, inikah yang dinamakan kebetulan?" Qanita tidak meyakini kalau itu adalah kebetulan.


"Umi nggak pernah ajarkan Aiza untuk bohong kan?" Aiza menatap wajah Qanita yang terlihat sedih. Ya Allah, betapa Aiza menyesal sudah menambah kesedihan uminya. Padahal selama ini justru senyuman uminya lah yang sangat dia harapkan. Tapi ia malah menambah sederet luka itu. 


"Umi kecewa sama kamu." Qanita melenggang pergi dengan mata berkaca.


Aiza membuang napas.  Uuuugh... Ini gegara Akhmar. Kenapa sih pake menyelinap masuk lemari? Udah kayak tikus aja deh menyusup kesana sini. 


Akhmaaaar... 


Tiba- tiba suara dering ponsel membuat pandangan Aiza langsung tertuju ke hape nya yang tergeletak di atas kasur.


Aiza mendekati benda itu, melihat nama si penelepon, Akhmar. 

__ADS_1


"Nah, nelepon dia!" Aiza membanting tubuh ke kasur. Menggeser tombol merah. Mampus. Telepon mati. 


Aiza sedang badmood. Bawaannya ingin menelan apa saja, kan nggak lucu kalau hape nya malah ketelan gara- gara ia menjawab telepon Akhmar.


Eh dasar bandel, dering kembali berbunyi. Nama yang sama menelepon.


Ya ampun, nggak bosen apa mencetin nomer yang sama melulu?


Aiza kembali menggeser tombol merah.


Begitu seterusnya. Sampai enam kali. Dan yang ke tujuh, Aiza kembali melakukan hal yang sama. Menggeser tombol dalam posisi rebahan, mata terpejam. 


"Za. Aiza!"


Suara itu... Kok bisa ada suara Akhmar di kamar ini? Aiza bangkit duduk, mencari sumber suara yang terdengar sayup- sayup agak jauh.


Dimana tuh orang? Aiza ingin menjitak hidung mancung pria itu pakai sendok. Beraninya menyelinap kamar dan malah bersembunyi di lemari, ujung- ujungnya Aiza juga yang dinilai buruk oleh uminya. Tak masalah baginya dinilai buruk oleh abahnya, asal jangan umi. Sebab jantung hati uminya itu sangat ingin dia jaga. Kalau sudah begini, sama saja ia melemahkan jantung hati orang yang dia jaga selama ini.


Panggilan itu kembali terdengar. 


Kok, arahnya bersumber dari hape? Aiza menatap durasi panggilan yang terus berjalan. Wah, benar suara itu sumbernya dari hape. 


Ternyata Aiza salah menggeser tombol di hape, malah tombol hijau yang digeser, akibatnya telepon pun terangkat.


"Ngapain kamu masih berani telepon aku?" kesal Aiza geregetan. Ia pun bingung harus marah pada siapa. Ia tahu kejadian tadi hanyalah kebetulan yang tidak disengaja, alias kecelakaan.


"Kamu marah?" tanya Akhmar lembut. "Za, aku juga nggak tau kalau bakalan kejadian begini. Tadi aku kabur lewat pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain. Eh malah nyasar dan masuk ke kamar. Aku pun nggak tau itu kamar siapa. Pas aku mau keluar, aku mendengar suara labgkah kaki mendekat. Aku takutnya itu abah kamu. Dari pada kena amuk dan aku khilaf sampai membalas amukannya, makanya aku langsung sembunyi di lemari. Pertama mau sembunyi di pintu lemari satunya, tapi penuh, jadi masuk ke pintu lemari yang lain. Setelah aku pikir aman karena sepi, aku keluar, eh nggak taunya kamu sedang ganti baju," jelas Akhmar panjang lebar. 


"Trus salah siapa ini kalau semua nggak mau disalahin? Sekarang pandangan umi terhadapku jadi jelek banget. Umi sedih. Sebenernya aku nggak peduli tentang pandangan umi yang menilai aku ini gadis buruk, tapi aku nggak mau umi sedih. Dan akulah penyebabnya." Suara Aiza bergetar. 

__ADS_1


"Aku sadar ini semua salahku. Nggak apa- apa kalau kamu mau marah. Silakan marah."


"Percuma. Marah sama kamu juga nggak akan mengembalikan keadaan, apa lagi mengembalikan senyuman umi," sewot Aiza yang sedang kesal entah pada siapa.  Yang jelas ia kesal pada situasi.


"Bertubi- tubi masalah menimpa kamu, itu semenjak kenal sama aku kan?" ucap Akhmar akhirnya.


"Trus?"


"Aku nggak akan belajar mengaji lagi sama kamu.  Aku nggak akan datang ke rumah kamu lagi."


Aiza terdiam.  Separuh hatinya terasa kosong.  Itu karena muridnya mengaku akan mundur dan tak mau melanjutkan belajar mengaji.  Artinya Aiza sudah gagal.  


"Trus mau belajar ngaji sama siapa?" lirih Aiza.


"Nggak belajar sama siapa- siapa."


"Jadi kamu berhenti belajar membaca Al Quran?" tanya Aiza.


"Udahlah, aku nggak akan memaksakan situasi. Toh aku juga nggak akan mungkin bisa datang lagi ke rumah kamu."


“Belajar mengaji kan nggak harus sama aku.  kamu masih bisa belajar mengadji sama orang lain.  Ada banyak ustad di luaran sana yang bisa dijadikan guru.”  Aiza berharap AKhmar akan tetap terus melanjutkan misinya belajar mengaji, jangan sampai terputus sebelum benar- benar fasih.


“Aku nggak berminat.”


Aiza terdiam. Itu artinya dia tidak berhasil mengajari Akhmar sampai benar- benar bisa membaca Al quran. Aiza kecewa mendengar penjelasan Akhmar tapi ia juga tidak bisa bicara apa pun. Lidah masih terasa kaku untuk bicara.


"Untungnya kita nggak dinikahin," celetuk Aiza.


Akhmar tersenyum, "Biar saja kita dikawinin."

__ADS_1


"Jangan ngaco ya. Keadaan nggak akan membaik hanya karena nikah. Apaan sih masih segini udah ngomongin nikah aja." Aiza geli sendiri. Sejak kapan ia kepikiran soal nikah. Sekolah aja belum bener. 


Bersambung


__ADS_2