Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
67. Musuh


__ADS_3

"Buset, Si Akhmar mantul banget bisa ngeluluhin cewek sejutek dan secuek Aiza." Atep menyeletuk.


Akhmar berhenti di depan motornya.


"Kamu pulang barengan sama temen- temen kamu aja. Tuh mereka masih di dalem, lagi makan," ucap Aiza.


"Mereka bawa kendaraan masing- masing. Gimana aku bisa pulang bersama mereka?" Akhmar menunjuk dua kendaraan yang terparkir tak jauh dari motornya.


Aiza tak mau menolong setengah- setengah. Lagi pula niatnya sepenuhnya untuk menolong, apa lagi Akhmar kecelakaan karena ulahnya.


"Rumahmu masih jauh nggak?" tanya Aiza.


"Mungkin sepuluh menit sampai kalau ngebut." 


Tak mau banyak bicara, Aiza akhirnya naik ke motor milik Akhmar. Tangan mungilnya memegangi stang.


"Buruan naik!"


"Beneran ini?" Akhmar tak yakin Aiza bersedia berboncengan dengannya.


"Nggak apa- apa, kan ada tasku di belakang yang jadi penghalang. Aku niat bantuin kamu kok, bukan mau yang lain- lain." 


Akhmar menatap tas punggung milik Aiza. Ya, tas besar yang bermuatan banyak itu akan menjadi penghalang.


Akhmar pun membonceng. 


Kendaraan melaju di jalan raya sesuai petunjuk Akhmar.


Sengaja Akhmar memutar- mutar arah jalan supaya bisa berlama- lama di atas motor bersama dengan Aiza. Sampai- sampai, Akhmar pun tidak tahu jalan mana yang ditempuh. Mereka memasuki jalan asing  Niat hati ingin berduaan, eh malah nyasar entah kemana.


Akhmar mengawasi jalan di sekelilingnya yang sepi saat menyadari ia kesasar. Itulah akibatnya karena sejak tadi muter- muter nggak jelas, akhirnya tersesat tak tentu arah. Hadeeh...

__ADS_1


"Mar, ini jalannya bener nggak sih? Sepi begini? Ini kemana lagi?" tanya Aiza memelankan laju kendaraan.


Sekarang harus jawab apa? Akhmar pun bingung. Kalau dia mengaku kesasar, pasti Aiza bakalan marah. Masak menunjukkan rumah yang ditempati sehari- hari bisa kesasar?


"Hei, kok diem? Ini kemana?" Aiza menghentikan motor, menatap jalan poros yang panjang, sepi dan seperti tak ada tanda- tanda kehidupan. Sisi kiri dan kanan tak ada perumahan. Hanya ada rumput liar.


"Kita maju..."


Belum selesai Akhmar mengucapkan kata- katanya, terdengar suara gemuruh serombongan motor dari arah kejauhan.


Pandangan Akhmar pun tertuju ke sumber suara. Demikian juga Aiza yang menoleh ke belakang, melihat serombongan motor yang melaju ke arahnya.


Akhmar mengenal salah satu motor paling depan.


Itu kan jamed, pria yang terakhir kali berkelahi dengan Akhmar di masjid? 


Akhmar mengusap rambut kasar. Ia ingat terakhir kali ia membeli barang haram yang dia salah gunakan itu melalui Jamed, namun transaksi itu malah kepergok warga dan mereka diteriaki maling. 


Seketika itu, Akhmar kabur melarikan diri sesaat setelah mengambil barang sedangkan uang di tangannya belum sempat diserahkan kepada Jamed.


Demikian juga Jamed yang lari tunggang langgang dan sempat berteriak ke arah Akhmar, "Bangs*t lu! Lo nipu gue?"


Tak sempat menjawab, Akhmar hanya bisa kabur karena tak ingin menjadi bulan- bulanan warga. Sedangkan Jamed waktu itu terkepung dan digebuki warga. Dia babak belur, namun berhasil kabur dalam keadaan mengenaskan.


Sedangkan Akhmar kebetulan malam itu malah ketemu Aiza.


Sejak saat itu, Jamed menuduh Akhmar sebagai dalang dibalik kekacauan yang terjadi saat transaksi itu, mengira Akhmar hanya menipunya. 


"Kejar woi! Itu tikus yang nipu gue! Tikus yang nikung cewek gue!" seru Jamed penuh amarah.


"Za, cepat pergi dari sini! Itu bahaya!" seru Akhmar. Tidak ada jalan lain selain melarikan diri dari pengejaran lima motor yang semua penunggangnya berjumlah sepuluh orang, masing- masing motor ditunggangi dua orang.

__ADS_1


Akhmar bisa saja menghadapi mereka secara jantan, namun kali ini tidak, sebab ia bersama dengan Aiza. Keselamatan Aiza jauh lebih penting.


Mereka yang brutal itu bisa saja mengancam keselamatan Aiza. 


"Kenapa lagi?" tanya Aiza sambil menyalakan mesin motor.


"Buruan!"


"Itu mereka siapa?" Aiza panik melihat kebrutalan para penunggang motor yang berteriak- teriak sambil terus mengumpat. "Kenapa mengejar kita? Marah- marah lagi? Aiza mengegas motor dengan kecepatan tinggi. Tak peduli lubang dan jalan buruk oun diterjang.


Tubuh Akhmar di belakang sampai memantul- mantul. Terpaksa Akhmar memegangi pundak Aiza supaya tidak jatuh. 


Beberapa kali Aiza menjerit saat motor menerjang jalan berlubang dan keseimbangan motor hampir tak terkendali.  Untung saja motor masih bisa dihandle oleh aiza.  Gadis itu tetap menarik gas motor dan melajukannya sekencang mungkin.  


Pengendara di belakang terus mengejar sambil berteriak- teriak memaki.  Meminta supaya Aiza menghentikan motor.


Sial, motor yang dikendarai Aiza berbunyi- bunyi di bagian bawah.  Entah apa yang salah.  Yang jelas efek dari terbantingnya motor itu saat Akhmar tadi kecelakaan.


Semakin jauh kendaraan melaju, maka semakin jauh pula jarak yang ditempuh.  Mereka seperti telah melewati perbatasan kota.  Tidak ada persimpangan jalan, tidak ada jalan lains elain jalan itu.  


Oh… mereka sudah memasuki jalan lintas antar kota.


Ini bisa gawat kalau para begudal di belakang itu terus mengejar.  Mereka beneran bisa sampai ke luar kota.


“Kenapa banyak banget sih musuh kamu?” teriak Aiza kesal bukan main.


“Bukannya mereka itu musuhmu?”  Akhmar mulai ngulah.


“Amit- amit aku punya musuh.”  Aiza ingin sekali memarahi Akhmar habis- habisan.  Harus berapa kali ia terlibat ke dalam aksi konyol yang bisa saja mengancam nyawanya begini?


Akhmar tak lagi menjawab.  

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2