
Aiza hanya bisa menghela napas. Apa yang dikatakan Aldan benar. “Semua yang aku katakan nggak bisa mengubah pikiran mereka. Dan lucunya, abah selama ini besar yang kesalahan itu akan terus dibawa di sepanjang hidupnya, tapi abah nggak mau diluruskan. Lalu kenapa abah menuntut anaknya supaya bisa menjadi baik? Sementara beliau adalah imam yang diikuti. Oke, amal masing- masing. Aku nggak bisa protes atas kesalahannya karena itu menjadi amal bagi dirinya sendiri. Tapi ini nggak adil.”
“Kembali ke dalil dan hadist. Nggak peduli bagaimana mereka, yang terpenting adalah kite ke mereka,” jawab Aldan.
Aiza tertawa kecil.
“Terus ini mau kemana?” tanya Aldan.
Aiza mengedikkan bahu. “Seenggaknya, masjid adalah tempat ternyaman.”
“Pulanglah. Kamu itu perempuan. Nggak baik di luaran rumah.mana mau pulang? Aku nggak diterima lagi di rumah.” Aiza tampak enteng mengatakannya. Tak terlihat keresahan di wajahnya meski ia tidak tahu akan tidur dimana. Semuanya tampak normal.
“Siapa namamu?”
“Aiza.”
“Mau ikut denganku?”
Aiza mengernyit. Lalu menggeleng.
“Bukan tidur serumah denganku. Itu akan menimbulkan fitnah.” Senyum Aldan mengembang.
“Jadi?”
“Tinggal di kontrakan.”
__ADS_1
Aiza berpikir.
“Tenang, nanti biar aku yang bayarin kontrakannya.”
“Enggak deh.” Aiza menggeleng lagi. Tak mau merepotkan pria yang baru saja dia kenal itu. “Thanks ya udah kasih ilmu.”
Aiza melangkah meninggalkan masjid. Dan sekarang, netah kemana arah kakinya melangkah. Ia menyusuri trotoar di antara keramaian kota, hiruk- pikuk yang menjadi rutinitas keseharian di jantung kota. Lampu- lampu jalanan menambah kesan gemerlapnya ibu kota.
Aiza tersenyum melihat panorama indah gemerlap kembang api di taman. Sepertinya ada yang sedang mengadakan pesta kembang api di sana. Aiza berlari mendekati, dan berhenti di pagar taman. Menatap dari jarak agak jauh. Ia turut menjerit dan melompat girang saat kembang api dilontarkan ke udara.
Tak ada gurat sedih di wajah Aiza meski ia kini dalam keadaan sulit. Semuanya terlihat normal dan baik- baik saja. Ia bahkan masuk ke pasar malam. Berjalan mengitari keramaian, membeli bakso bakar untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Memilih- milih jilbab. Memilih- milih gamis dan memasangkan ke tubuhnya layaknya berniat untuk membeli, padahal hanya untuk selpi saja.
Seorang penjual tersenyum melihat Aiza yang tampak asik mengamati permen lolipop sambil membuka tutup penutupnya. Aiza bergegas pergi saat sadar menjadi pusat perhatian penjual.
***
Akhmar tengah membantu seorang pria tua dalam sebuah game di pasar malam. Tentu saja bukan tanpa pamrih, melainkan akan diberi upah. Akhmar kini kerja serabutan. Apa saja dia lakukan. Dan dia terbukti mau melakukan pekerjaan apa pun, termasuk seperti yang ia lakukan sekarang. Berlagak layaknya seperti marketing yang menjajakan game- nya supaya banyak orang yang bermain di lokasinya.
Sekelompok pria tampak menghampiri dan mulai memainkan game tersebut, melempar- lempar botol ke arah tabung kecil yang dipajang di jarak jauh. Mereka harus membayar lima ribu untuk setiap botol yang dilempar. Namun tak satu pun ada yang berhasil hingga mereka menghabiskan uang sampai dua ratus ribu.
Akhmar bertugas mengambili setiap botol yang dilempar dan mengembalikan ke kotak di atas meja.
“Woi, lo Akhmar, Kan?” Jamed yang ikutan main lempar botol itu menatap dnegan mata melotot.
Akhmar mengernyit.
__ADS_1
Kesal, jamed menendang meja dan mengacak- acak setumpuk botol di kotak itu hingga botol itu berserakan di tanah.
Tak terima melihat kelakuan Jamed, Akhmar punberkata, “Bisa nggak lo bersikap sportif? Kalau lo bermasalah sama gue, jangan bawa- bawa ke pekerjaan gue. Kasian bapak yang punya permainan ini.”
“Biad*b!” balas Jamed nyolot.
Dengan raut yang tampak tenang, Akhmar melayangkan tinju. Duez!
Jamed terkapar dan jatuh.
Akhmar balik badan, memunguti botol yang berserakan dan memasukkannya kembali ke tempatnya.
Tak terima dipukul, Jamed bangkit dan melayangkan tendangan ke arah Akhmar dari belakang.
Meski dalam keadaan membelakangi, Akhmar cepat berkelit lalu menangkis dengan gesit. Tiba- tiba teman- teman Jamed maju dan mengeroyok Akhmar.
Pemilik game bingung. Ia hanya bisa menarik- narik rambutnya frustasi.
“Stop!” Aiza berteriak saat melihat Akhmar dikeroyok.
Anehnya, orang- orang di sekitar sana malah menjadi penonton, tak satu pun yang bergerak untuk melerai.
Aiza terus berteriak hingga mengalihkan perhatian para pemuda itu. perkelahian terhenti.
Bersambung
__ADS_1