
"Kita sama- sama manusia, sama- sama makan nasi kan? Nggak perlu ada yang ditakuti. Kecuali lo makan darah, baru gue mental."
"Sialan lo!" Jamed sebenarnya ingin meninju Akhmar, tapi ia ingat kelincahan dan gerakan Akhmar yang super gesit serta tenaga anak muda itu yang ternyata patut diperhitungkan itu membuatnya berpikir dua kali. Diam- diam ternyata ada yang lebih hebat dari dirinya. Dalam hayi ia sempat memuji ketangkasan Akhmar. Tenaganya juga dahsyat.
"Yok, gua ketamuin lo ke orangnya. Tapi berhubung lo udah salah sasaran, bahkan sampe mukul gue tadi, maka lo juga harus dapet pukulan dari gue dulu!" tawar Jamed.
Akhmar mengangkat alis dengan tenang. "Oh, nggak bisa. Lo udah pinjemin motor ke orang yang nggak bertanggung jawab, motor lo juga digunakan untuk kriminal, tapi lo nggak tau. Ini lo tetap harus bertanggung jawab, Bang. Jangan lepas tangan!" Akhmar berkata dengan tegas.
Sialan! Kalah gertak gue! Gede juga ternyata nyalinya si Akhmar. Jamed membatin kesal.
"Emangnya siapa sih Aiza itu? Pacar lo? Dia diapain sampe lo bisa seserius ini?"
"Justru itu gue mau tanya ke orang yang minuem motor lo, dia udah ngapain aja sama Aiza. Gue nggak akan ampuni kalau aja dia sempet nyentuh Aiza. Gue mampusin dia!"
Melihat wajah Akhmar yang merah padam, Jamed menyadari kemarahan Akhmar.
"Bangs*t lo! Nyusahin orang aja. Buruan ikut gue! Gue tunjukin orangnya!" Jamed menunggangi motornya.
Akhmar mengikuti Jamed di belakang menggunakan motornya sendiri. Sempat terlihat Jamed menelepon di atas moyor yang melaju. Entah siapa yang dia telepon hingga sampai harus berteleponan di saat sedang berkendara.
Cukup jauh mereka mengendarai motor hingga sampai di suatu tempat.
Akhmar menghentikan kendaraannya di dekat motor Jamed. Tepat di bawah sebuah pohon rindang. Ada rumah kecil di sekitar sana. Sepi.
Hape di saku celana bergetar, segera Akhmar merogoh hape nya dan melihat penelepon. Aiza.
__ADS_1
Jantung Akhmar bergetar membaca nama itu. Sengatannya sampai ke jantung.
Aiza? Apakah dia udah siuman?
Akhmar menggeser tombol hijau?
"Za, bagaimana kondisi mu?" tanya Akhmar.
"Aku nggak apa- apa." Suara Aiza sedikit lemas. "Hanya retak dikit di pinggang, udah diberesin dokter. O ya, apa bener kamu adalah orang yang nolongin aku?"
"Ya. Udah nanyanya? Sekarang giliran aku yang bertanya."
"Nanya apa?"
"Siapa orang yang nyelakain kamu?" tanya Akhmar.
"Ciri- cirinya?"
"Dia tinggi, badannya gede, rambut gondrong, kulit hitam, dan... Ada tato ular naga warna hijau di lengannya."
Sorot mata Akhmar langsung terfokus ke lengan Jamed, tepat tato yang sama dengan yang disebutkan oleh Aiza.
Sialan! Jamed nipu gue. Ternyata dia pelakunya.
"Eh, kamu kenapa nanyain itu?" tanya Aiza.
__ADS_1
Akhmar langsung memutus sambungan telepon saat melihat empat orang yang entah munculnya dari mana, sudah mengelilinginya. Jamed duduk santai di atas motor sambil menyulut rokok, empat pria menatap Akhmar dengan penuh tantangan.
Akhmar mengantongi hape, membalas tatapan Jamed dengan tenang. "Gila! Ternyata omongan lo nggak bisa dipegang. Banci!" Raut wajah Akhmar merah padam, namun ia tetap tampak tenang.
"Beda antara banci dan cerdik. Mampus lo sekarang! Beraninya lo macem- macem sama gue!" Jamed tampak puas.
Pandangan Akhmar mengedar, mengawasi orang- orang yang mengelilinginya dengan tatapan sangar. Jika melihat postur tubuh mereka, Akhmar yakin mereka adalah orang yang sama yang telah mencelakai Aiza.
Brengs*k, mereka adalah para pelaku yang kurang ajar! Akan gue habisi mereka! Batin Akhmar mengumpat.
Namun secara fisik, Akhmar tetap tampak tenang. Ia bahkan menyilangkan tangan di dada, duduk di atas jok motor maticnya.
"Kalian mau apa? Mau ngebonyokin gue, gitu? Atau mau mampusin gue?" Akhmar tersenyum sambil geleng kepala. Ia menatap Jamed dan berkata, "Bang, lonkalo berani jangan main keroyokan. Ini banci namanya."
"Sekali lagi, berbeda ya antara banci dengan yang namanya memiliki kuasa. Di sini, gua yang punya kuasa, gua yang punya banyak anak buah."
"Trus apa tujuan lo nyakitin Aiza?"
"Maksud lo, cewek berkerudung yang kemarin gue kerjain? Banyak bacot lo. Lo nggak berhak nanya- nanyain gue." Jamed menatap anak buahnya lalu memerintah, "Sikat!"
Akhmar melirik ke samping saat menyadari bahwa para pria di sekelilingnya mulai bergerak mendekati untuk menyerangnya.
Tetap tenang, Akhmar dengan gerakan gesit, menangkis setiap serangan. Berkelit, balas menyerang, menendang dan memukul dengan gerakan tangkas. Tidak sia- sia ia belajar ilmu karate saat SMA dulu. Kini ilmu itu bermanfaat untuk membela diri.
Layaknya film laga di layar kaca, Akhmar melakukan aksi pukul, layangan tinju dan berbagai macam gerakan lainnya hingga akhirnya ia mampu melumpuhkan empat lawannya.
__ADS_1
Keempatnya terkapar dengan luka memar. Akhmar ingat perkataan Aiza, yang mengatakan bahwa ciri- ciri pelaku itu sama persis dengan Jamed.
Bersambung