Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
66. Baper


__ADS_3

“Beuh yang pe de ka te- annya udah berhasil.  Pepet teros!”  Bajul menggigit selang minumannya dengan kuat.


“Adem banget dapet cem- ceman.”  Atep menyahuti sambil memakan bakso.  “Lah kita?  Jeruk makan jeruk.”


Aiza tak peduli dengan ocehan mereka.  Ia menghabiskan makanannya, lalu meneguk jusnya.


“Motormu gimana itu?  soalnya rusak.  Mesti dibawa ke bengkel,” ucap Aiza.


“Nanti aja aku bawa ke bengkel.”


“Kalau butuh biaya, bilang aja entar aku bantu,” ucap Aiza merasa bersalah karena menjadi penyebab hingga Akhmar kecelakaan, bahkan menderita kerugian financial yang netah berapa nominalnya.


“Nggak usah pusing.  Aku bisa atasi,” jawab Akhmar tanpa beban.


“Tapi kan aku penyebab kecelakaan itu.”


“Dimana- mana, pengendara motor itu selalu salah, dan kalah oleh pejalan kaki.  So, no problem.  Aku bisa atasi semuanya.”


“Kamu ikhlas?”  Aiza menatap serius.


“Keliatannya gimana?”  Akhmar menunjuk mukanya sendiri.


Aiza akhirnya tersenyum.


Masyaa Allah… senyuman itu begitu indah.  Wajah Aiza tampak sangat mempesona saat tersenyum, kejutekannya lenyap.  Akhmar terkesima menatap senyuman itu.


“Kamu mau bungkus bakso nggak?  Untuk dibawa pulang,” tawar Akhmar.

__ADS_1


Aiza sebenarnya sangat ingin menjawab iya.  Tapi gengsi.  Masak perempuan makannya sebakul.  Jaga image dong.  Mana baksonya enak banget lagi.


“Enggak,” jawab Aiza.


“Siapa tahu ada yang mau dibungkusin di rumah.  Umimu suka makan bakso nggak?  Atau kakakmu?”


Ide cemerlang.  Kenapa Aiza tidak kepikiran itu?  Kadang- kadang Akhmar rada cerdas.


“Ya udah, aku bungkusin dua ya!”  Akhmar sengaja tidak menawari bakso untuk ayahnya Aiza yang dia anggap keong racun itu.


"Mbak, bungkusin dua ya bakso kosong yang jumbo!" titah Akhmar yang langsung diangguki oleh pelayan. 


Kira- kira kalau Akhmar tidak menawarkan bakso untuk ayahnya Aiza, kebenciannya terhadap Ismail bakalan ketauan oleh Aiza nggak ya? Akhmar mulai was- was. Takut dikira benci pada si calon mertua, walau pun kenyataannya memang benci.


"Enggak usah!" jawab Aiza yang langsung ketus.


Sehati banget. Akhmar merasa beruntung.


"Kamu marahan ya sama ayahmu?" tanya Akhmar hati- hati, takut Aiza akan tersinggung.


"Dari dulu juga marahan," jawab Aiza terpancing emosi. Kesal sekali mengenang ayahnya. Mukanya yang putih mendadak memerah, cemberut.


"Ayah kamu kelihatannya baik, penampilannya aja alim banget." 


"Hati seseorang itu nggak bisa dinilai dari penampilan."


"Jadi menurutmu ayahmu itu nggak baik?"  Akhmar menatap wajah Aiza intens.

__ADS_1


"Mungkin aku yang jahat karena terlalu banyak tuntutan." Mata Aiza mendadak berembun. Ia ingat bagaimana uminya menangis saat malam hari, namun wanita itu menangis disaat sendirian dan berusaha bersembunyi dari semua orang. Aiza sangat marah saat memergoki tangisan itu. Dan taukah apa jawaban sang umi saat ia bertanya kenapa uminya menangis? Sang umi berkata bahwa ia hanya masuk angin, bawaannya menangis saja. 


Kekesalan Aiza memuncak setiap kali mengingat itu, ia ingin bicara kepada siapa saja untuk mengungkapkan isi hatinya. 


"Apakah semua laki- laki seegois itu? Apakah wanita di luaran sana terlihat lebih cantik dan indah? Apakah nggak puas sama satu wanita? Dan ujung- ujungnya dalil yang dijadikan alasan untuk melakukannya. Itulah sebabnya perlu menelaah dengan benar dalam menafsirkan ayat. Kalau enggak, ya gini, ditelan mentah- mentah dan ngambil enaknya doang." Aiza menekan sendok ke mangkuknya hingga menimbulkan suara keras dan tak enak didengar oleh telinga. Ia ingat saat uminya tersenyum padahal baru saja menangis sesenggukan. 


Dan tanpa sadar, Aiza kini pun menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Mau dipinjamin pundak?" Akhmar pindah duduk, kini berada di sisi Aiza, ia menepuk pundaknya sendiri dengan ekspresi tak berdosa.


Aiza mengusap air matanya, melirik Akhmar dan menggeleng.


"Dih, kenapa sih aku jadi cengeng dan lebai gini." Aiza tertawa sendiri, dia yang tanpa sadar sudah curhat kepada Akhmar karena terbawa emosi. Seharusnya ia tidak boleh mengungkapkan kekesalannya itu kepada sembarangan orang, apa lagi Akhmar, pria yang baru dia kenal. Tapi rasa yang mendesak di dalam sana terus memaksa untuknya bicara, dan akhirnya ia pun mengatakannya.


"Ini baksonya, Mas." Gadis yang merupakan pelayan di warung itu meletakkan sebungkus plastik berisi bakso yang dipesan.


Akhmar langsung membayarnya komplit dengan bakso yang dimakan olehnya dan juga baksonya Aiza.


"Aku bayar sendiri aja," ucap Aiza sambil sibuk merogoh uang dari tas punggungnya. Tapi kelamaan, tagihan sudah dibayar oleh Akhmar, pemilik warung pun sudah menerima uang dan masuk ke dalam.


"Ya udah, kita pulang." Akhmar bangkit bangun dan berjalan keluar, melintasi Atep dan Bajul dengan gontai, sedikit melirik ke arah dua temannya itu.


Yang dilirik menatap iri, kaki mereka saling senggol di bawah meja. Menyusul Aiza yang berjalan keluar, tak luput dari pandangan Bajul dan Atep.


 


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2