Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
123. Bicara


__ADS_3

“Akhmar, aku perlu bicara banyak sama kamu.  Kita ini bukan orang asing yang baru kenal.  Kita dulu udah sangat dekat dan saling kenal satu sama lain,” ucap Aiza sedikit memprotes sikap Akhmar yang dingin dan datar.


“Ya.  katakan!”  Akhmar menyenderkan punggung ke badan mobilnya.


“Sebelum aku bicara banyak hal, ijinkan aku menanyakan sesuatu ke kamu.  Sebab percuma aku bicara banyak jika satu hal ini tidak aku ketahui jawabannya.”


“Apa?” tanya Akhmar dengan tatapan ke mata bulat Aiza.  Wajahnya yang tampan semakin mempesona.  Dia pasti menjadi idola para wanita jika tengah berada di keramaian.


“Apakah kamu masih menungguku?”


Akhmar menelan saliva.  Terlihat jelas leher kokoh pria itu bergerak.  Pria itu memalingkan pandangan.


“Bukankah kamu yang meminta itu padaku?”


“Ya, apakah itu artinya kamu masih menungguku?”


Akhmar kembali menatap Aiza.  Tatapannya itu membuat jantung Aiza deg- degan sekaligus berdebar tak karuan.  Setelah sekian lama, perasaan Aiza masih sama.


“Kamu udah terikat dengan kakakku.  Jangan bahas ini!” Akhmar tampak dingin, kaku.

__ADS_1


“Akhmar, kamu pasti butuh penjelasan ku.”


“Baik. Katakan!”


Aiza senang karena Akhmar masih bersedia mendengarkan penjelasannya.  "Awalnya Kak Zahra yang seharusnya menjadi calon istri Mas Aldan. Tapi batal karena tepat di hari lamaran, Kak Zahra kabur bersama dengan pria pilihannya, yaitu Adnan. Dan akulah yang dipaksa menggantikan posisi Kak Zahra. Aku bisa apa kecuali mengikuti kemauan orang tua? Mereka akan menanggung malu jika lamaran kemarin dibatalkan," jelas Aiza memberi pengertian pada Akhmar supaya pria itu memahami situasi. "Aku hanya mengatakan ini kepadamu, enggak sama Mas Aldan. Sebab aku menganggap kamu sepihak denganku."


Tatapan mata Akhmar tampak tajam, raut wajahnya pun tak berubah, tetap datar. "Lalu, apakah menurutmu penjelasan mu itu akan mengubah situasi, hm?" Akhmar membuang muka.


Ya Allah... Hati Aiza seperti diiris sembilu mendengar pengakuan Akhmar. Kok Akhmar tidak bisa memahami situasi itu? Kenapa Akhmar masih terlihat kesal? 


"Akhmar, kamu masih menyalahkan aku? Aku juga nggak mau di situasi seperti sekarang ini," ungkap Aiza, menggeser posisi berdiri supaya berada di hadapan wajah Akhmar.


Pria itu malah menghadap ke arah truk, lalu membantu anak buahnya menarik besi yang akan diturunkan.


Pria itu menyusun besi di tanah.


"Akhmar, bicaralah! Aku juga korban! Aku menyetujui permintaan abah untuk menggantikan posisi Kak Zahra juga karena abah terkena serangan jantung. Ini berat buat aku. Bukan cuma kamu yang dipojokkan di sini," sambung Aiza lagi menggebu.


Akhmar menghentikan pekerjaannya, beberapa detik menatap Aiza dengan sorot mata yang sama. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. 

__ADS_1


"Aku salah karena memintamu untuk menungguku, tapi ternyata setelah sekian menunggu, aku malah bersama dengan laki- laki lain, dan itu adalah kakakmu sendiri. Ya Tuhan, aku juga nggak mau begini. Bantu aku keluar dari masalah ini. Katakan sesuatu!" Aiza menarik lengan Akhmar hingga tubuh pria itu memutar dan menghadap Aiza.


Akhmar menatap mata bulat gadis itu. Pelipis pria itu sudah berkeringat. Bulir peluh mengalir di wajah tampan itu. 


"Menikahlah dengan Mas Aldan," ucap Akhmar membuat Aiza terkejut. "Besok datang aja ke tokoku untuk mengecek barang apa aja yang kemudian perlu diantar." Akhmar kemudian meninggalkan Aiza, masuk ke mobil yang dalam hitungan detik langsung bergerak memutar di lahan luas itu dengan gerakan cepat. Pergerakan mobil yang begitu cepat, membuat Aiza sadar bahwa Akhmar sedang tidak baik- baik saja. Apakah pria itu sangat marah?


Dari kejadian itu, mata Aiza sepenuhnya terbuka menyaksikan Akhmar yang bersikap jauh berbanding terbalik dengan Aldan. Akhmar bisa marah, kesal hingga menyetir mobil pun ugal- ugalan begitu. Aiza sadar sepenuhnya hal itu, bahwa dari segi sikap dan perbuatan, Aldan tentu jauh lebih baik. Tapi kenapa perasaan Aiza todak berubah? Perasan Aiza tetap bertumpu pada Akhmar.


Aiza masih terpaku sendirian meski mobil Akhmar sudah menghilang dari pandangan lima menit sejak tadi.


"Mbak, ini sudah selesai! Saya permisi." Supir truk berpamitan.


Aiza terkesiap mendengar itu. Ia mengangguk lalu segera mengunci pintu gudang.


Sepanjang jalan menuju pulang, Aiza memikirkan sikap Akhmar yang dingin bak salju. Wajah pria itu datar, juga tanpa ekspresi. 


Kak Zahra, ini semua ulah Kak Zahra. Dimana keberadaan mu sekarang, Kak? Aiza benar- benar pusing dengan masalah yang Kak Zahra bikin.


Ternyata benar apa kata Nayla, paham dengan ilmu agama pun manusia masih bisa berbuat kesalahan, seperti yang dilakukan Zahra sekarang. Kabur dengan laki- laki dan lari dari tanggung jawab. Padahal jika dilihat dari sisi agama, Adnan pun adalah pria yang mengerti dengan ilmu agama. Tapi kenyataannya, praktiknya tidak sesuai dengan ilmu yang tersimpan di kepalanya. 

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2