Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
135. Calon Imam, Ups


__ADS_3

Sesampainya di toko bangunan, Aiza dibikin terpesona oleh toko itu. Toko tingkat tiga yang kesannya kokoh, besar dan luas. Terdiri dari lima petisi pintu yang masing- masing ruangannya menyimpan bahan bangunan dengan jumlah fantastis. Luar biasa. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke toko yang katanya milik Akhmar. Ternyata Akhmar gesit juga dalam urusan bisnis. Perkembanganya pesat.


Aiza menuju ke meja kasir, dimana seorang gadis tampak sibuk mencatat dan menghitung uang yang baru saja dibayarkan pembeli.


Aiza tertegun menatap sosok gadis berkerudung biru itu, hampir saja ia tidak mengenali gadis itu jika saja ia tidak mendapati tahi lalat kecil di dagunya. Meta. Iya, itu adalah Meta, gadis yang terakhir kali Aiza lihat masih remaja, sama seperti Aiza, tapi kini sudah tumbuh dewasa hingga terdapat banyak perubahan di wajahnya. Badannya lebih berisi hingga mukanya semakin tembem.


"Meta?" sapa Aiza.


"Eh?" Gadis itu mengangkat wajah dan mengingat- ingat. "Aiza?"


Aiza tersenyum. Mereka memang tidak begitu dekat dulu, tapi setidaknya satu sekolah dan tidak jarang pula bertegur sapa.


"Wah, banyak perubahan ya sama kamu." Meta menatap wajah cantik Aiza, enggan mengatakan bahwa Aiza semakin terlihat cantik di usianya yang sudah dua puluh tiga tahun. Rugi dong kalai dia memuji sesama jenis. "Loh, kamu kok di sini? Ngapain?"


"Mau kasih daftar bahan bangunan yang mesti diantar. Sebenarnya bisa kirim daftar via WA, tapi aku nggak catet di exel, jadi aku kasih catetan ini aja." Aiza menyodorkan kertas.

__ADS_1


"Wah, banyak banget ini. Mau bangun rumah?" Meta menatap sederet tulisan di kertas.


"Enggak. Itu untuk keperluan pondok pesantren yang baru mau proses pembangunan. Ada juga bahan bangunan untuk keperluan perusahaan ayahku yang harus aku tangani. Perusahaan ayahku sedang dalam masalah besar dan beliau meminta aku untuk ikut andil menangani."


"Oh. Ayahmu punya perusahaan juga ya? perusahaan apa?"


"Perusahaan multinasional. GreaFood. Tapi sedang dalam masalah."


"Oh. Turut berduka. semoga cepat bangkit. kamu yang semangat ya!" Meta tampak sangat gembira, mukanya ceria dan cerah bersahaja.


"Udah lama kerja di sini?" tanya Aiza yang mendapati semangat kerja di dalam diri Meta. 


Tak lama muncul seorang gadis berwajah oval, jilbab pasmina yang ujungnya dililit di leher dengan kaos lengan panjang yang agak ketat, juga celana jeans agak ketat. 


"Meta, ini catet ya!" Gadis itu meletakkan secarik kertas.

__ADS_1


"Kamu itu merintah udah kayak bos aja." Meta bersungut dan menarik kertas dengan kasar.


"Dih, sewot!" Gadis cantik berpakaian agak ketat itu mencibir tak peduli.


"Aisha, kamu di sini tuh derajatnya sama kayak aku. Jadi kalau ngomong jangan kayak memerintah begitu!" ucap Meta tak terima.


Gadis itu melempar senyum sinis. "Aku kerja di sini dibawa langsung sama Mas Akhmar loh, dia itu temen deketnya almarhum Mas Vito, kakakku. Jadi aku punya power di sini. He hee.." Gadis yang mengaku sebagai adik Vito itu menepuk dadanya sendiri.


Meta malas menanggapi. Hanya melirik pedas. Ia lalu membenahi jilbabnya saat melihat Akhmar muncul di kejauhan.


Aiza mengikuti arah pandang Meta, menatap sosok pria tampan dengan penampilan sederhana, mengenakan kaos dipadu celana cokelat. Rambutnya terlihat rapi dengan polesan minyak rambut.


Hati Aiza berdesir menatap itu, namun ia cepat memalingkan pandangan. Ingat Aiza, dia bukan milikmu! Aiza memperingatkan dirinya sendiri. Aiza menunduk, mencoba membatasi pandangan.


"Meta!" Suara bariton khas Akhmar terdengar sangat dekat di telinga Aiza. Ia mengangkat wajah, benar dugaannya. Akhmar melintasi tepat di hadapannya, pria itu mesti harus berjalan sangat dekat dengan Aiza mengingat area yang dia lintasi cukup sempit,  ada banyak bahan bangunan yang tersusun rapi di setiap rak.

__ADS_1


Aroma wangi melintasi hidung Aiza, wangi khas yang segar sekali. Bahkan sedikit pun Akhmar tak menoleh ke arah Aiza. Seperti tidak mengenal gadis itu. 


Bersambung


__ADS_2