
Aiza merogoh hape. Belum sempat ia membuka aplikasi, sudah ada tiga panggilan tak terjawab. Dari satu nomer yang sama, tak lain Zahra yang berlalu tiga jam yang lalu. Zahra pasti cemas dengan keadaannya.
Aiza jadi bingung harus bagaimana. Apakah ia perlu menelepon Zahra untuk memberi kabar tentang keberadaannya?
Ah, tidak. Nanti saja.
"Aku capek." Aiza berhenti setelah berjalan agak jauh. Kakinya pegal. Cenat- cenut.
Akhmar ikut berhenti dan menoleh. Ia berkata dengan tenang, "Mau digendong?"
Aiza tergelak. Ia jadi teringat kejadian saat ia digendong oleh Akhmar dalam keadaan terpaksa. Situasi itu mencekam. Namun kini malah terkesan lucu. Itu akan menjadi sejarah yang tak terlupakan.
"Enggak." Aiza menggeleng. Entah berapa kali ia harus terjebak di situasi seperti ini bersama dengan Akhmar. Ini sudah yang ketiga kalinya. Semuanya dalam keadaan terpaksa alias kepepet.
Aiza duduk di trotoar. Tak jauh dari sebuah masjid besar. Kakinya selonjor, melepas penat. Wajahnya tampak letih, namun senyum di wajahnya tak pudar.
Akhmar yang sudah berjalan di depan, akhirnya balik lagi. Ikut duduk di sisi trotoar. Tentu saja ia menjarak duduknya dari Aiza. Ia sudah paham seperti apa gadis di sisinya itu.
"Udah pesen taksi online belum?" tanya Akhmar.
"Paket dataku habis." Aiza nyengir. Pandangan Aiza tertuju ke arah sebuah mobil pick up yang berhenti di seberang jalan, tepatnya di depan masjid. Sosok laki- laki yang duduk di bak, turun dan memasuki masjid.
"Ternyata nggak cuma kita yang numpang mobil di bak, tuh ada yang bernasib sama seperti kita." Aiza mengawasi si pria yang melangkah gontai memasuki masjid hingga menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Akhmar mengikuti arah pandangan Aiza. "Pria itu memang sengaja numpang mobil bak. Kita kan nggak sengaja."
Aiza hanya tersenyum. "Kamu yang pesen taksi online gih. Aku juga nggak punya uang untuk bayar taksi. cari tumpangan gratis aja."
"Hape ku lowbat. Lupa ngecas."
Aiza mengembuskan napas. "Eh.. loh itu kan Adnan." Ia bangkit berdiri saat mengetahui bahwa pria yang turun dari mobil pick up tadi adalah Adnan, tetangganya. Posisi Adnan yang tadi membelakanginya, membuatnya tak bisa mengenali pria itu. Apa lagi lampu jalanan tak cukup menerangi wajah Adnan. Dan kini Adnan berjalan dengan posisi menghadap ke arah Aiza. Pria itu berjalan keluar masjid dan menuju ke mobil jenis pick up yang masih menunggu.
"Adnan! Hei, Adnan!" panggil Aiza sambil melambaikan tangan. Wajahnya tampak sangat ceria dengan hiasan tawa.
Akhmar ikut berdiri, menoleh ke wajah Aiza yang tampak sangat gembira seperti mendapat durian runtuh.
"Akhmar, ayo kita samperin Adnan!" Aiza berlari menyeberangi jalan.
Akhmar terdiam menatap keceriaan Aiza. Dia biarkan gadis itu menghampiri Adnan. Sorot matanya yang tajam mengawasi dengan cermat.
Adnan malah menatap heran ke arah gadis itu. "Loh, kok kamu ada di sini? Malam- malam begini?"
"Panjang ceritanya. Aku nggak bisa bahas itu sekarang. Aku boleh ikut kamu nggak?" Sebelum Adnan menjawab, Aiza menghampiri supir yang duduk di bagian kemudi. "Pak, boleh numpang kan ya?"
"Boleh, Neng. Tapi di belakang ya. Soalnya di depan sudah ada anak dan istri saya." Bapak supir melirik ke arah samping, tepat dimana anak istrinya tengah tertidur pulas.
"Makasih, Pak." Aiza girang bukan main. "Asiik bisa balik."
__ADS_1
Adnan membukakan pintu bak supaya Aiza dapat dengan mudah menaiki bak.
Akhmar masih terdiam di seberang jalan. Ia lalu memutuskan untuk melangkah gontai menuju ke arah pick up yang bertengger di depan masjid.
"Ayo, naik!" ajak Aiza pada Akhmar. Gadis itu sudah duduk di pojokan, tepat menyandar di pembatas antara supir dan bak mobil.
Adnan duduk di sisi Aiza.
"Kamu yakin naik ini lagi?" tanya Akhmar ingin meyakinkan Aiza.
"Mau naik apa lagi? Ini lebih aman."
"Aman?" Akhmar bingung. Dari mana amannya, bak mobil terbuka, angin malam bisa saja membuat Aiza masuk angin.
"Kan ada kalian berdua yang ngejagain aku." Aiza nyengir menunjuk Akhmar dan Adnan.
Adnan tersenyum.
Akhmar tak mau berkomentar. Ia lalu naik dan menutup pintu bak yang kemudian pintu tersebut ia gunakan untuk sandaran punggungnya meski tak semua punggungnya mendapatkan sandaran. Sebab bagian itu pendek, hanya sebagian punggung saja yang mendapatkan sandaran.
"Mar, kamu ada bantal buat alas kepala nggak? Ini ada kardus isi indomie. Kalau kamu mau, pakai aja untuk alas kepala." Aiza menyentuh kardus.
Akhmar menggeleng dengan datar. Ia lalu memelorotkan tubuhnya hingga kini dalam posisi berbaring, kepala beralaskan kedua tangannya yang ditumpuk dalam posisi menyilang.
__ADS_1
Mobil mulai melaju di jalan raya.
Bersambung