
Aiza membelalakkan mata. Ia semakin muak dengan semua penghuni angkot itu. Bagaimana mungkin mereka malah mendukung aksi Akhmar? Sementara supir hanya senyum-senyum saja sejak tadi.
Semua penghuni angkot nggak ada yang bener!
“Berarti untuk ngilangin ngambek, kamu juga maunya dicium?” celetuk Akhmar dengan datar, lalu mengintip wajah Aiza yang sejak tadi dipalingkan jauh-jauh dari wajahnya.
“Berenti, Om!” teriak Aiza memerintah supir.
Angkot menepi dan berhenti. Aiza turun, berjalan dengan langkah cepat menyusuri jalan. Gara-gara cowok resek di angkot, Aiza jadi turun sebelum sampai di tempat tujuan. Rumahnya masih agak jauh. Dan ia harus menempuh perjalanan dengan jarak lumayan. Terik matahari menyengat kulitnya yang putih. Sebentar saja, buliran keringat mencuat ke permukaan wajahnya.
Sepertinya awan di atas sana sedang berbaik hati, Aiza terhindar dari terik panas matahari tertutupi awan di atas kepalanya. Aiza tersenyum menikmati karunia si awan baik.
Oh tidak! Aiza salah, ternyata bukan awan yang menjadi pelindung kepalanya, tapi sebuah buku besar yang berada sejengkal di atas kepalanya.
Aiza sontak melompat menjauhi Akhmar yang cengengesan di sisinya sambil memegangi buku besar itu.
__ADS_1
“Kamu lagi? Ngapain sih ngikutin aku terus?” bentak Aiza sangat marah. Wajahnya yang putih bersih itu memerah akibat aliran darah yang menyembur ke permukaan wajahnya.
“Jangan deketin aku, jangan ikutin aku. Aku nggak suka sama cara gilamu. Paham?” gertak Aiza lebih keras.
Akhmar tersenyum cemeeh. “Kamu itu terlalu sombong, Za. Nggak perlu seangkuh ini untuk menunjukkan bahwa kamu itu wanita baik- baik. Aku udah nyelamatin kamu dari preman berandalan yang ngejar kamu malam itu. Kalau nggak ada aku, kamu udah di…”
Kata- kata Akhmar terputus, tak tega melanjutkannya.
Tak menanggapi perkataan Akhmar, Aiza malah terdiam dan menatap serius wajah Akhmar, juga mengawasi postur tubuh pria di hadapannya itu. Aiza mengingat kondisi mereka sangat mencekam di malam gelap gulita. Dan ya… pria itu memang menyelamatkannya, tapi juga menjerumuskannya ke masalah baru. Dan satu hal yang Aiza tidak bisa lupakan, pria itu membentak- bentak dirinya malam itu.
“Aku nggak butuh penilaian orang lain tentang diriku!” ketus Aiza. “Dan tentang surat hafalannya gimana? Udah hafal belum?”
“Kamu berhutang padaku.” Aiza melewati Akhmar.
Akhmar membiarkan Aiza pergi.
__ADS_1
***
"Jul, lu tau nggak aplikasi Al Quran? Buruan cari di app store dan kirim ke gue!" titah Akhmar saat ia nongkrong bersama dengan teman- temannya di tempat biasa, yaitu kursi tongkrongan yang kesehariannya seperti rumah kedua bagi mereka.
Bajul tertegun, kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening Akhmar.
Merasa sedang diukur suhu tubuhnya, Akhmar menjauhkan kepalanya dari tangan Bajul dengan raut sebel. "Kenapa lo?"
"Lah, gue yang mestinya nanya, lo nggak salah nanyain aplikasi Al Quran. Gue takut lo lagi kesurupan aja sama jin alim," ucap Bajul kemudian terkekeh.
Atep, Jambrong, dan Enyong bertukar pandang.
Atep mengelus dagunya sambil mengernyit heran. Wajahnya yang tampan pun jadi seperti ditekuk gara- gara kejauhan mikir.
"Gue minta lo nyariin aplikasi Al Quran, ada yang salah? Ngeliatnya kayak menghakimi begitu?" Akhmar merasa tak berdosa. Ya emang tak berdosa, hanya saja aneh. Sosok Akhmar yang jauh dari kata soleh, tiba- tiba berminat dengan aplikasi yang satu itu.
__ADS_1
"Gue berasa mimpi gitu, ini beneran Akhmar Mumtadz kan?" Bajul menepuk pundak Akhmar.
Bersambung