
Tidak salah Aiza jika dia merasa kesal pada sang Ayah, yang bukan hanya sekali atau dua kali Ayahnya berjanji akan pulang, tapi nyatanya tidak jadi pulang. Sementara Ibunya sudah masak banyak untuk menyambut suami, dan akhirnya masakan itu dihabiskan tanpa kehadiran sang suami.
Aiza sudah bosan dengan penuturan yang sama, sehingga kehadiran Ayahnya sama sekali tidak ia harapkan.
Aiza menuju ke meja makan dan melihat sebal pada aneka ragam makanan yang tersaji. Kenapa ibunya terus-terusan bersikap sehormat itu pada Ayahnya yang selama ini tidak menghargai istri menurut Aiza.
“Lain kali nggak usah masak sebanyak ini, Umi. Mubajir,” ucap Aiza dengan muka yang masih cemberut.
“Kan Abahmu mau datang.”
“Palingan dia lagi asik sama istri-istri mudanya. Nggak mungkin dia datang.” Aiza membalikkan badan meninggalkan dapur.
Ibunya menoleh dan hanya menghela napas melihat sikap bungsunya.
__ADS_1
Aiza tidak masuk ke kamar, ia memasuki kamar neneknya. Ia membenamkan wajah di pangkuan neneknya. Aiza merasa tenang berada di posisi seperti itu. Neneknya benar-benar seperti kulkas, dingin dan menenangkan.
Disaat Aiza sedang kesal begini, satu-satunya tempat bersandar adalah nenek. Entah kenapa, ia merasa terluka setiap kali Ibunya yang dilukai.
Pertama, Ayahnya mengaku akan menikah lagi dengan janda muda kaya raya beranak satu yang kecantikannya luar biasa. Hal itu tentu saja membuat Ibunya merasa tersakiti, tapi tidak ada yang bisa Ibunya lakukan kecuali mengijinkan suaminya menikah lagi.
Kedua, suaminya mengaku akan menikah lagi dengan janda cantik jelita yang tinggal di Bandung.
Lengkap sudah, ayah Aiza kini memiliki empat istri. Dan semakin jarang lelaki itu pulang ke rumah istri pertama. Bisa sebulan atau dua bulan sekali lelaki itu pulang ke rumah. Disamping dia harus membagi waktu untuk pekerjaannya, dia juga harus membagi waktu dengan para istri-istrinya. Apakah begini tabiat laki- laki jika memiliki banyak uang?
“Poligami itu nggak apa-apa. Nggak berdosa. Laki-laki diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Wanita yang membenci poligami dan menentang keras poligami,artinya menentang Al Qur’an. Ikhlas tertingginya wanita adalah saat rela suaminya menikah dengan wanita lain.”
Itu kalimat yang Aiza pernah dengar dari mulut Ayahnya sewaktu berbincang dengan Ibunya.
__ADS_1
Aiza kesal sekali setiap mengingat kata-kata itu. Ayahnya selalu saja menekan ibunya dengan Agama yang sengaja dia angkat hanya untuk memenangkan dirinya tanpa peduli dengan penjelasan indah dalam ayat- ayat Tuhan.
Entah terbuat dari apa hati Ibunya, perempuan paruh baya itu tetap terlihat sabar dan legowo. Ia juga tetap patuh dan hormat pada suaminya, meski ia sudah terlihat seperti sampah di mata suaminya.
“Katanya ustad, paham agama, tapi kok gitu?” ucap Aiza mengenang ayahnya yang menyebalkan.
“Ngomong apa, Nduk?” tanya nenek Aiza dengan logat Jawa yang kental. Ia adalah ibu dari ayahnya Aiza, yang suaminya asli orang Jawa Barat. Pendengarannya sudah mulai berkurang, usianya sudah sangat tua, hampir memasuki sembilan puluh dua tahun.
Aiza ingin bertanya, apakah Ayahnya tidak tahu kalau hobi nikahnya itu menyakiti istrinya? Apakah Ayahnya tidak tahu kalau istrinya sering menangis disaat malam hari?
***
Bersambung
__ADS_1