Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
43. Tentang Buku


__ADS_3

“Hei…. Akhmar!” panggil Aiza yang entah sudah yang ke berapa kalinya memanggil.


Akhmar tergagap dan sadar dari lamunan.


“Mm… Ya?  kenapa?”  Sejenak masalah Vito terlupakan olehnya.


“Kirain ada masalah sama pendengaran mu, dari tadi dipanggilin diem aja,” ketus Aiza dongkol.  


Pandangan Akhmar kemudian menemukan sosok gadis yang juga berkerudung dan tak kalah cantik dari Aiza duduk di sofa, Akhmar baru menyadari ternyata Aiza tidak sendiri.  Jika dilihat wajah keduanya yang mirip, Aiza dipastikan adik dari gadis itu.  


“Salam, aku Zahra kakaknya Aiza,” ucap Zahra dengan senyum.


“Ohh…”  Akhmar mengangguk.  Pasti bukan sembarangan alasan yang membuat Aiza mendatangi rumahnya.


“Aku kesini bukan mau nyari ribut,” ujar Aiza.


“Aku tahu.  Mana mungkin nyari Ribut, pasti nyariin Akhmar.”  Akhmar berkata dengan datar, namun berhasil membuat Aiza nyengir.


“Dari mana kamu tau alamat rumahku?” tanya Akhmar.


“Dari keong.  Ya nanya oranglah.”


“Kenapa kamu sejudes ini?” tanya Akhmar datar.


Entah kenapa Aiza merasa perlu bersikap judes pada akhmar semenjak kejadian di jalanan waktu itu.  “Biarin.  Urusanku itu.”


“Dek, kamu gimana sih?  Datang ke sini katanya mau ada perlu kok malah nyari ribut?  Sejak tadi Kakak liatin malah kamu yang nyari ribut mulu,” sergah Zahra.


Haduh…. Pasti kembang kempis idung Akhmar dibelain Kakak.  Aiza membatin kesal.  Andai saja Zahra tahu siapa Akhmar yang sebenarnya, tentu Zahra akan mencabut pembelaan tadi.  Kebetulan di depan Zahra kali ini, Aiza yang terlihat mengintimidasi Akhmar.

__ADS_1


“Aku mau minta balikin bukuku,” ucap Aiza tanpa berbasa-basi.


“Buku yang mana?”  Akhmar pura-pura tidak tahu.


“Nggak usah pura-pura bingung.  Kamu pasti tau buku yang kumaksud.”


“Aku nggak tahu.”  Sengaja Akhmar memperpanjang urusan supaya Aiza tahu bagaimana rasanya dikerjain.


“Astaghfirullah… Sabar sabar!” Aiza mengelus dadanya.  “Buku catetan yang disampulnya ada nama Nayla Permata.  Aku mau ambil buku itu.”


Akhmar mengangguk.  


“Dari mana kamu tau kalau bukunya ada sama aku?” tanya Akhmar.


“Iya, dek.  Jangan langsung nuduh.  Belum tentu Akhmar yang pegang bukunya kan?” sahut Zahra menengahi.


Aiza yakin buku milik Nayla ada di tangan Akhmar, sebab buku itu terjatuh di sekitar tempat tongkrongan Akhmar.  Minimal Akhmar tahu dimana keberadaan buku tersebut.


“Aku akan menjawab pertanyaan yang baik begini, pertanyaan yang diajukan tanpa pake otot. Sebab kalau ototnya keluar, bisa menjadi seperti tumor.”


“Iiiiih… Bawel.  Malah ngebahas otot lagi.  buku buku.  Yang aku tanya tuh buku.  Ada sama kamu nggak?”


“Oke, aku kasih tau bukunya ada di mana, tapi kasih tau dulu kamu tau alamat rumahku dari mana?”


“Dari tetanggaku,” ucap Aiza.


“Tetanggamu siapa?”


“Dia satu kampus sama kamu.”

__ADS_1


Akhmar mengernyitkan dahi.  Tetangga Aiza satu kampus dengannya?  Siapa dia?  Akhmar penasaran.


“Siapa?” tanya Akhmar.


“Perlu, ya?”


“Ya.”


“Tuh, dia nya di depan!” tunjuk Aiza ke arah pintu.


Akhmar mengikuti arah pandang Aiza ke pintu dan ia mendapati sosok lelaki berkaca mata dengan lingkar kaca mata hitam di sana.  Adnan, beda kelas dengan Akhmar.  Lelaki itu sedikit mengintip ke dalam kemudian menjatuhkan pandangan ke lantai saat pandangannya bertemu dengan Akhmar.


Siapa yang berani menatap mata elang Akhmar lebih lama?  Mata itu sorotannya terasa membunuh bila sedang marah.  Adnan tidak pernah berurusan dengan Akhmar.  Dia mahasiswa yang rajin dan masuk kategori mahasiswa pintar.


“Oke, akan aku ambil bukunya.”  Akhmar melenggang.


“Nah, tu kan bener bukunya ada sama kamu.”


Akhmar berhenti dan menoleh. Menatap mata bulat Aiza, kemudian melanjutkan langkah.


 “Pst, nggak boleh jutek kayak tadi sama orang.  Dosa!” Zahra menarik lengan Aiza hingga tubuh Aiza mengikuti arah tarikan Zahra.  Mereka duduk di sofa.


“Kakak nggak tau kek gimana tuh si Akhmar cabe.  Iiiih… belagunya minta ampun.  Teman-temannya itu nggak ada yang beres Aiza. Termasuk Akhmar,” celetuk Aiza.


“Jangan asal nuduh.”


“Kakak kok malah ngebelain Akhmar sih?”


“Kamu tu ya dikasih tau ngeyel.”  Zahra geleng- geleng kepala.

__ADS_1


“Udah ah, males berantem.”


Bersambung


__ADS_2