Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
103. Kalimat Mengena


__ADS_3

Akhmar menekan nama Kak Zahra.  Panggilan terhubung.


“Assalamualaikum!” Suara Zahra terdengar merdu di seberang.


“Waalaikumsalam.  Aiza ada di rumah sakit Habiburrahman sekarang.”  Akhmar mendnegar Zahra terkejut dan mengucap istighfar beberapa kali.


Hanya itu yang disampaikan oleh Akhmar.  Ia lalu kembali memasukkan hape ke dalam tas Aiza.  Langkahnya gontai menuju ke pintu, berdiri di ambang pintu menatap wajah cantik Aiza yang sedikit memucat.  Ada infuse di tangannya.


Akhmar melangkah masuk, meletakkan tas ke meja.  Dia kembali menatap wajah Aiza.  Sungguh gadis yang cantik.  Berbagai pertanyaan menyerbu benak Akhmar.  Apa yang telah terjadi dengan gadis itu?  Kenapa Aiza bisa berada di tempat asing itu?  apakah para pria yang melarikan diri itu telah melakukan hal tidak senonoh pada Aiza?  Pikiran buruk menyerang benak Akhmar.  Dadanya terasa panas membara.  Ingin memukul dan menghajar para pria itu.


Liat aja entar, gue habisin kalian semua!  Beraninya membuat Aiza menjadi seperti ini?  bangs*t kalian semua!  Tunggu gue hancurin kalian semua!


Akhmar emosi bukan main.  Ia lalu melangkah menuju pintu dengan raut merah padam, hanya kemarahan yang menguasainya.  Langkahnya terhenti di jarak dua meter dari pintu tepat saat pintu tersebut terbuka, Zahra menyembul masuk.  Ternyata Zahra tidak sendiri, di belakangnya menyusul Qanita, lalu menyusul pula Ismail.  


Bugh!


Pukulan keras mendarat di wajah Akhmar.  Darah segar mengalir melalui sudut bibir pria itu.  Kepalan tangan Ismail masih bergetar sesaat setelah mendaratkan pukulan.  Matanya menatap tajam ke wajah Akhmar.  Napasnya menderu.


“Abah!”  Zahra menjerit kecil menyaksikan pemandangan itu.

__ADS_1


Qanita meraih lengan suaminya dan menahan dada pria itu supaya tidak maju lagi.


“Kau ini!  benar-  benar laknat!  Biad*b!” maki Ismail dengan mata melebar.


Akhmar mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.  Ia memilih untuk diam, mengalah.  Hatinya sedang panas sekali, emosinya memuncak.  Ditambah lagi kedatangan Ismail yang memukulnya secara tiba- tiba.  Hampir saja ia membalas kemarahan Ismail dengan memaki, namun urung.


Dasar tua Bangka!  Udah bau tanah masih aja main labrak.  Mendingan perbanyak zikir sebelum ditimbun tanah.  Ini main pukul sembarangan.  Hadeeeh… gedeg banget.  Untung tua!


“Kau masih saja mendekati anakku?  Tidak tahu malu!  Rai gedek!” maki Ismail lagi.


Hah?  Rai gedek?  Maksudnya muka tembok?  Astaga, muka ganteng begini dibilang muka tembok?  Katarak si tua nih.  


“Anda bercermin dulu sebelum memaki orang lain.  Dosa orang lain memang selalu kelihatan.”  Akhmar melangkah pergi.  


"Begudal! Manusia tidak tahu malu! Keterlaluan! Laknat!" Ismail mengumpat muak dengan emosi yang memuncak.


"Mas, udah. Astaghfirullah." Qanita mengelus dadanya sendiri, prihatin menyaksikan suaminya yang naik pitam.


"Dia itu berandalan tidak tau diuntung. Bikin onar saja!" Ismail melangkah menuju bed dimana Aiza terbaring. Ia mengawasi bungsunya dengan raut yang tak berubah seperti terakhir kali melihat wajah Akhmar.

__ADS_1


Setelah mendapat kabar dari Akhmar tentang keberadaan Aiza di rumah sakit, Zahra langsung menyampaikan kabar itu kepada kedua orang tuanya. Mereka pun langsung ke rumah sakit tanpa banyak perundingan.


Pelan, kelopak mata Aiza akhirnya terbuka. Mata bulat itu mengedar menyaksikan orang- orang di sekitarnya. Ada Qanita yang berwajah sedih, ada Zahra yang langsung bersyukur mengucap hamdallah saat melihatnya siuman, dan terakhir ada Ismail yang mukanya tampak merah padam.


Nggak heran, selalu begitu ekspresi wajah Ismail.


"Umi!" panggil Aiza menatap sang ibu.


"Aiza, Ya Allah Nak, kenapa bisa begini? Inilah sebabnya umi sebenarnya nggak ridho kalau kamu pergi dari rumah. Seharusnya kamu menurut sama umi, jangan lagi berhubungan dengan Akhmar. Dia membawa pengaruh buruk bagimu," ucap Qanita sambil menggenggam tangan bungsunya. Raut penyesalan berbaur dengan kesedihan menyatu di wajah itu.


Zahra tersenyum menatap umi dan Aiza yang akhirnya baikan.


"Halah, sudah! Jangan dikasihani lagi," bantah Ismail dengan suara emosi. "Ya begini akibatnya kalau anak durhaka pada orang tua. Kualat. Disuruh menjauhi berandalan iti, malah makin lengket. Malahan dia yang nungguin Aiza di sini. Apa namanya itu kalau bukan membangkang dan melawan orang tua? Diusir dari rumah supaya mendapat pelajaran, tapi malah menggunakan kesempatan itu untuk bisa nempel sama berandalan itu. Kau ini tidak tau diri. Belajar jadi ****** dari mana kau ini, huh?" 


Aiza memalingkan wajah, menghindari pandangan abahnya. Lebih baik menatap ke jendela. 


"Sudah cukup, Mas!" Qanita bicara dengan geram. Sesak yang selama ini ia pendam, akhirnya muntah juga. "Jangan lagi kamu maki anakku seperti itu! Aiza selama ini hanyalah menunjukkan protes atas perilakumu."


Ismail terkejut melihat istrinya yang selama ini patuh dan taat bahkan tak pernah membantahnya, kini terlihat berani bicara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2