
Usai mengaji, Aiza menutup mushaf yang selalu dia bawa kemana pun pergi.
Aiza sudah memakai baju ganti sekarang. Ia sudah membeli beberapa helai baju untuk sehari-hari tadi.
Langkahnya membawa ke arah jendela. Membukanya untuk melihat situasi di sekitar sana.
Tepat ia melihat Akhmar yang juga tengah berdiri menghadap jendela kamar. Pria itu tampak terkejut melihat wajah Aiza yang muncul di jendela.
Posisi jendela kamar mereka yang berhadapan, hanya dipisahkan dengan gang sekitar satu meteran itu membuat Akhmar dengan jelas mendapati wajah si gadis cantik.
Keduanya bertukar pandang. Wajah tampan Akhmar tampak begitu datar, tak ada ekspresi menggoda dan merayu seperti biasanya. Lempeng banget. Dia benar- benar jauh berbeda.
"Makasih ya udah usir kecoa yang tadi," ucap Aiza membuka pembicaraan. Ada sesuatu yang mencelos di hatinya melihat sikap Akhmar yang berubah. Ia kehilangan sosok Akhmar yang dulu.
"Hm." Akhmar mengangguk.
"Kamu mau lanjutin belajar ngaji nggak? Ayo duduk di teras kalau mau belajar ngaji. Jangan duduk di dalam rumah karena kita cuma berdua, takut timbul fitnah," ucap Aiza dengan senyum.
"Sepertinya nggak lagi. Aku udah katakan ini ke kamu tadi, bahwa aku nggak mau kamu terkena masalah lagi. Iya benar, kita emang nggak salah, tapi kesalah pahaman bisa aja terjadi lagi disaat kita bersama. Itu akan memperkeruh suasanamu."
Ekspresi wajah Aiza langsung berubah cemberut, wajahnya ditekuk.
"Kamu benar tapi kamu takut. Kalau kamu benar, lantas kenapa mesti takut?" kesal Aiza.
"Aku takut pada kesalah pahaman yang justru akan membuat hidupmu makin terpuruk." Akhmar bicara dengan dingin.
"Kamu mau menuntut ilmu tapi takut! Gimana mau pintar?" seru Aiza dengan suara lantang. Marah. Secepat itu Akhmar menyerah? Aiza sungguh telah gagal.
"Kepintaranku nggak akan mengubah situasi apa pun dalam hidupmu, Za."
"Pemikiran yang sempit." Aiza menutup pintu jendela dengan sentakan kuat. Brak. "Kamu melanggar aturan sebagai muridku, Akhmar. Kamu nggak setor hafalan di waktu yang tepat. Kamu melanggar perintah guru. Kamu nggak patuh. Baik, kalau memang itu maumu, kamu nggak akan bisa menjadi muridku lagi meski suatus aat kamu berubah pikiran. Sebab kamu harus hafal Al Alaq, At Tin, Al Insirah, dan seterusnya jika sebulan kamu bolos. Dan kalau setahun, dua tahun dan seterusnya, artinya kamu harus hafal 30 juz dalam kitab itu." Aiza berteriak marah, menyesalkan sikap Akhmar.
__ADS_1
Sedangkan Akhmar hanya bisa terdiam menatap jendela yang tertutup.
Aiza menyandarkan punggung ke dinding. menikmati rasa kesal yang bersarang dalam benaknya. Mukanya ditekuk.
Kenapa sih Akhmar secepat itu menyerah? Kenapa dia nggak mau berjuang untuk kemajuannya sendiri bahkan dengan alasan demi Aiza?
Tubuh Aiza melorot dan berakhir dengan duduk di lantai. Ia meremas kertas yang ada di dekatnya dan membuangnya ke sembarang arah.
Aiza tiba- tiba menangis sesenggukan. Perasaan tak karuan yang sejak tadi mendesak, membuat tangisnya pecah. Antara marah dan sedih berbaur menjadi satu.
Tinggu dulu, kenapa perasaan Aiza berubah mellow begini? Uring- uringan tak karuan? Ada apa dengannya?
Aiza termenung memikirkan perasaannya sendiri.
Setelah lama mencari jawaban, ia pun menyadari satu hal, bahwa sebenarnya ia tidak hanya takut gagal menyampaikan ilmu pada Akhmar, bukan saja takut Akhmar kembali kepada pergaulan yang tak benar. Pada hakikatnya, ia sadar bahwa ia takut kehilangan kebersamaannya dengan Akhmar yang sudah terlanjur memberinya kenyamanan.
Iya, Akhmar memberikan kenyamanan dalam diri Aiza. Yang Aiza sendiri tahu bahwa sosok Akhmar bukanlah pria soleh seperti yang dia idamkan sebagai seorang teman. TApi kenyamanan itu tak bisa dielakkan. Tetap muncul dengan sendirinya.
Ya ampun, dugaannya benar. Itu adalah tugas sekolahnya yang tadi dia kerjakan mati- matian sendirian dan sekarang tampilannya berubah menjadi keriting.
“Aaaaaaaa…” Jeritan Aiza membahana. Ingin menangis menyaksikan kertas yang mengeriting itu. Padahal tugas harus dikumpul besok.
Suara nyaring dering ponsel mengalihkan perhatian Aiza.
Nama Zahra tampil di layar hape. Jempol Aiza segera menggeser tombol hijau dan mengeklik tombol loudspeaker. Ia letakkan hape di kasur sisinya berbaring.
"Kak Zahra, jangan cemas. Aiza baik- baik aja," lirih Aiza sebelum sempat Zahra bicara.
"Dek, kakak khawatir sama kamu. Meskipun kamu bilang kalau kamu itu baik- baik aja, kakak nggak mungkin bisa tenang," sahut Zahra. "Kamu tidur dimana, makan apa, istirahatnya gimana. Semua itu bikin kakak kepikiran."
"Kak Zahra nggak usah cemas, Aiza nggak terlantar kok, tinggal di kontrakan. Semuanya aman."
__ADS_1
"Kamu share loc alamat kamu sekarang ya, nanti kakak kirimin barang- barang keperluanmu ke alamatmu lewat paketan," ucap Zahra.
"Oke, Kak."
"Kalau kamu butuh uang, kamu minta aja sama kakak ya, nanti kakak kasih uang jajan kakak ke kamu."
Aiza terkekeh. "Kak, Aiza kan punya banyak tabungan. Semua itu bisa Aiza pakai."
"Sampai kapan kamu bisa bertahan hanya dengan uang segitu?" Suara Zahra terdengar sedih sekali.
"Ada Allah yang ngejagain Aiza."
"Apa kamu nggak mau balik lagi? Kakak kangen sama kamu. Pingin peluk kamu, pingin berantem sama kamu."
Senyum di wajah Aiza mengembang. "Mau banget. Aiza mau banget pulang, tapi kan abah dan umi nggak mau terima Aiza lagi."
"Za, umi sebenernya nggak begitu. Umi tuh cuma sedang kecewa berat dan memberi hukuman ke kamu." Zahra terisak. "Umi diam- diam sering ke kamar kamu cuma buat ngeliatin baju- baju kamu. Juga ngelusin bantal kamu."
"Ya Allah... Aiza tau umi pasti sedih. Aiza janji akan kembaliin lagi kepercayaan umi ke Aiza." Perasaan tak menentu muncul di hati Aiza. Tak tega mendengar kesedihan uminya.
"Bukan cuma umi aja yang sedih, nenek juga. Setiap hari nenek nanyain kamu terus. Sekarang kamu nggak pernah lagi datang ke kamar nenek, tentu nenek kehilangan."
"Kakak bilang ke nenel ya kalau Aiza pasti akan temui nenek. Aiza kangen sama nenek."
"Ya, tentu. Ya udah. Kakak mau ngajar anak- anak ngaji. Udah dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aiza memejamkan mata. Berharap akan bisa kembali bertemu dengan neneknya.
***
Bersambung
__ADS_1