
Aiza melangkah gontai di depan rumah, mengenakan seragam sekolah, dengan kerudung putih dan tas di punggung. Kepalanya menoleh kea rah rumah kontrakan Akhmar yang pintu depannya terbuka. Ada dorongan dalam hatinya yang memerintahnya untuk nyamperin ke rumah itu, entah untuk apa. Yang jelas ia ingin melihat bagaimana kabar Akhmar meski sisa rasa kesal masih bersarang di benaknya.
Kemarin Aiza baru saja marah- marah terhadap Akhmar. Sekarang ia sudah ingin baikan meski sebenarnya tak rela bila harus memulai duluan.
“Assalamualaikum!” seru Aiza yang kini sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakan Akhmar.
Tak ada jawaban.
“Mar! Akhmar!” panggil Aiza.
“Hm. Kenapa?’ Akhmar menyembul keluar masih dengan tampilan wajah yang sama. Datar. Suaranya pun dingin.
Hati Aiza seperti diremas melihat sikap pria itu, entah kenapa perasaan menyebalkan itu muncul begitu saja. Seharusnya ia tidak boleh menyimpan rasa itu. tidak boleh.
“Pinjam pisau. Ada?” tanya Aiza.
Akhmar terkejut. “Untuk bunuh diri?” kemarin Aiza baru saja marah- marah karena kesal terhadap Akhmar, siapa tau sekarang mencari pisau untuk mengakhiri hidup. Kan gawat.
“Aku nggak segila itu ya!” Aiza manyun. “Mau motong cabe untuk dadar telur.”
“Oh… Aku nggak punya pisau. Dapurku nggak ada peralatan apa- apa. Aku biasanya makan di warung. Nggak jauh kok warungnya dari sini. Murah meriah lagi sarapannya. Cuma lima ribuan,” jelas Akhmar.
Aiza mengangguk. Ia menatap Akhmar dengan tatapan sendu, lalu berkata, “Aku nggak akan meminta kamu supaya belajar ngaji sama aku lagi. tapi seenggaknya aku harap kamu tetap ngelanjutin ngaji supaya lancar. Kamu kan bacanya masih terbata- bata. Kalau nggak diulang- ulang, pasti lidah nggak akan fasih. Sama halnya seperti pepatah yang mengatakan lancar kaji karena diulang.”
Akhmar hanya diam. Ia sama sekali tak berminat belajar mengaji di mana pun selain mengaji bersama dnegan Aiza. Semangatnya tumbuh besar setiap kali hendak berangkat mengaji. Apa lagi hendak setor bacaan, menghafal pun dia lakukan setiap saat. Tapi sekarang, semenjak ia memutuskan untuk tidak lagi belajar mengaji, semangat itu tidak ada lagi.
__ADS_1
Akhmar menyenderkan pundak ke bingkai pintu.
Tiba- tiba sejurus pandangan tertuju ke arah yang sama saat seorang gadis muncul membawa sepiring makanan. Aiza mengenali gadis itu, satu sekolah dengannya. Namanya Meta. Tak lain gadis yang tanpa sengaja pernah kena cium oleh Akhmar.
Dengan wajah merah merona ala- ala tersipu malu, Meta menyerahkan piring berisi lontong sayur dengan hiasan dua bakwan di atasnya.
“Akhmar, ini buat kamu,” ucap Meta.
Akhmar mengernyit heran. Lah, bisa- bisanya Meta tiba- tiba muncul nganterin makanan? Gadis itu udah kayak jatoh dari langit aja.
“Buat gue?” tanya Akhmar. “Lo kenapa tiba- tiba nganterin makanan gini buat gue?”
“Aku ini anaknya Bu Marni. Ya tinggal di sini jugalah.” Meta menyelipkan rambut di belakang telinga sambil tertunduk malu- malu.
“Oh… Anaknya pemilik kontrakan ini? Baru tau gue.” Akhmar menerima piring itu.
“Hm. Thanks.” Akhmar duduk di kursi reot yang ada di teras.
Aiza hanya bisa membisu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Namun anehnya, ia merasa tak nyaman dnegan kedatangan Meta. Apa lagi Meta seperhatian itu terhadap Akhmar. Ia sadar tak seharusnya merasakan hal konyol itu. Tapi mau bagaimana lagi, rasa itu muncul begitu saja.
“Eh, Aiza? Lo di sini?” Meta menatap Aiza.
Aiza mengangguk. Canggung.
Akhmar menatap Meta yang masih berdiri. “Ngapain masih di sini? Nggak pulang?”
__ADS_1
“Eh, iya. Ya udah aku pulang. Dimakan ya lontongnya!”
“Hm.” Akhmar mengangguk.
Meta melenggang pergi. Akhmar mulai menyantap lontong itu dengan lahap.
“Seneng ya ada yang perhatian? Dikasih sarapan.” Aiza menyeletuk.
“Uhuk uhuk…” Akhmar terbatuk. Ia berdiri dan menyendok lontong lalu mengarahkannya ke mulut Aiza. “Mau cobain? Enak, kok.”
Aiza menggeleng.
“Enak. Serius. Nyesel kalau nggak ngerasain. Ini pasti buatan tangan Bu Marni.”
Tanpa sadar mulut Aiza mangap dan lontong pun mendarat di lidahnya. Nyam nyam… lezat.
“Baguslah, kalau makanannya enak begini, kamu kan bisa kenyang makan gratisan dari si Meta.”
Akhmar kembali duduk dan menyantap lontongnya tanpa mengomentari perkataan Aiza.
Dih, dingin banget sih sekarang? Aiza cemberut.
“Mau lagi?” tanya Akhmar.
Aiza menggeleng. “Jujur aja aku kecewa sama kamu. Pikiranmu terlalu pendek dalam mengambil keputusan.” Aiza balik badan, lalu melangkah menuruni teras.
__ADS_1
Mendengar perkataan Aiza, Akhmar berhenti mengunyah, ia mengangkat wajah.
Bersambung