
“Rasulullah bersabda, Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan dari pada Kubur, AT. Tirmidzi dan Ibnu Madzah.”
***
Kletek.
Akhmar menekan handle pintu depan. Dikunci. Sudah pukul satu dini hari, ia baru pulang. Ia tahu resiko saat harus pulang malam, pasti begini kejadiannya. Ia memutari rumah mencari jendela. Semuanya dikunci. Jendela rumah kan pakai teralis.
Rumah itu sangat besar, semuanya pakai pengaman yang mumpuni. Sulit bagi Akhmar menyelinap masuk.
Akhmar menelepon Roni, asisten rumah tangganya, ingin minta Roni membukakan pintu untuknya. Namun nomer Roni tidak aktif.
"Pasti Roni disuruh matiin hape nih biar nggak bisa gue telepon," celetuk Akhmar bicara sendiri. Ia tahu siapa yang menyuruh Roni mematikan hape, siapa lagi kalau bukan Adam, papanya.
Sial.
Akhmar lalu menuju ke arah belakang, tepat di jendela kamar Roni. Ia menggedor jendela itu.
"Ron, bukakan pintu!" seru Akhmar sambil menggedor- gedor kaca jendela.
Beberapa kali Akhmar memanggil, tak ada jawaban.
__ADS_1
Sial! Lagi- lagi Akhmar mengumpat kesal.
Kenapa Roni tidak mau menjawab, apakah Roni sampai segininya tidur ngebo dan tidak bisa dibangunkan?
Kletek!
Suara kunci diputar terdengar cukup keras akibat suasana malam yang sepi. Itu adalah suara pintu samping.
Okey, artinya Roni mendengar panggilan Akhmar tadi. Akhmar menuju ke pintu, bersiap hendak masuk.
Pintu terbuka.
Ucapan Akhmar terhenti saat menyadari bahwa sosok yang membuka pintu itu bukanlah Roni. Ia mencium aroma khas yang langsung ia ketahui siapa pembuka pintu itu tanpa harus melihat wajahnya, ruangan sangat gelap karena sakelar lampu dimatikan.
Akhmar melempar jaket ke kursi.
Klek.
Lampu terang sesaat setelah Adam menekan sakelar lampu. Ya, Adam sudah menunggu di ruangan itu sejak jam delapan tadi, menunggu kepulangan Akhmar.
“Selama seminggu tidak pulang ke rumah. Sekarang pulang jam segini. Sebenarnya apa maumu sekarang?” Adam menatap horor ke arah Akhmar.
__ADS_1
Akhmar yang mendapat hardikan keras itu hanya menghela napas, menuang air dari teko ke dalam gelas, lalu meneguknya.
“Jangan diam! Papa butuh penjelasanmu! Setiap hari kau keluyuran. Meninggalkan rumah sesuka hatimu. Pulang pun hanya sebentar, seperti hanya persinggahan semata. Apa yang kau kerjakan dengan menghabiskan waktu di luaran sana? mau jadi apa kau nanti?” adam menepuk meja keras hingga terdengar suara gebrakan.
Roni di kamarnya sampai terlonjak kaget. Untung masih muda, tidak perlu was- was akan jantungan.
Akhmar menarik kursi dan duduk. Kembali meneguk air mineral di gelas. Tampak sangat santai sekali dia. Adam protes kenapa Akhmar jarang ada di rumah, bukankah Adam juga jarang ada di rumah? Bukankah rumah juga seperti tempat persinggahan bagi adam? Lalu apa bedanya Adam dengan Akhmar? Begitulah isi pemikiran Akhmar.
“Apa tujuan hidupmu sekarang? Berfoya- foya? Atau apa? Waktumu hanya akan habis untuk hal sia- sia! Semuanya tidak bermanfaat. Kau akan mati dalam keadaan sia- sia. Pikirkan itu!” hardik Adam lagi.
Akhmar masih diam. Menatap gelas yang dia pegang.
“Sekarang jawab pertanyaan papa, apa maumu sekarang?” bentak Adam lagi.
“Aku mau bebas!” celetuk Akhmar sekenanya.
“Apakah selama ini tidak cukup bebas? Kau sudah seperti burung liar yang bebas mengepakkan sayap. Lalu apa lagi?” Adam kesal sekali. “Bahkan hidupmu sama sekali tidak bermanfaat. Hanay untuk kesenangan dunia semata. Pikirkan akhiratmu. HIngat, manusia diciptakan semata- mata hanyalah untuk beribadah! Kalau kau sia- siakan waktumu, maka kau yang akan merugi!” Adam melepas napas kasar.
“Sudah? Ada lagi?” tanya Akhmar menatap papanya dengan wajah bengisnya.
Bersambung
__ADS_1