Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
46. Hamil


__ADS_3

“Akhmar!” pekik Aldan menahan langkah adiknya.  Kedua tangannya memegangi lengan Akhmar.  “Tolong cabut kata- kata lo!  Yang lagi ngomong sama kamu tadi adalah Papa mu, orang tua mu.  Kamu nggak mau jadi anak durhaka, kan?”


“Maaf, Mas.  Mas udah denger sendiri tadi gimana Papa ngusir aku.  Aku masih bisa hidup tanpa harta kekayaan Papa, jangan kira hidupku putus hanya karena berhenti menerima jasa Papa,” ucap Akhmar dengan gigi menggemeletuk geram.  “Sejak dulu selalu aku yang salah, aku seperti anak tiri di sini.  Selalu Mas yang benar di mata Papa.  Selalu mas yang jadi anak emas.”


“Akhmar, berhenti bicara seperti itu!”


Akhmar tidak perduli dengan ucapan Aldan.  Ia menghentakkan lengannya hingga terlepas dari pegangan Aldan.  


Aldan menatap Papanya saat Akhmar sudah hilang dari pandangan.  


“Pa, plis!  Aku mohon….”


“Jangan katakan apapun, Aldan!” potong Adam dengan raut frustasi.  Wajahnya menunduk sedih.


Aldan tidak lagi bisa bicara.  Melihat Papanya terluka, ia pun ikut terluka.  Sebenarnya Aldan ingin membujuk Papanya supaya membicarakan masalah itu baik-baik, tapi sepertinya Papanya belum bisa diajak bicara. 


Akhmar menendang pintu kamarnya hingga terbuka dan menghasilkan hentakan keras saat pintu bertemu dengan dinding di belakangnya.  


Akhmar menurunkan koper dari atas lemari dan memasukkan baju-baju seperlunya ke dalam koper dengan gerakan asal-asalan hingga baju-baju yang tertinggal di lemari menjadi acak-acakan.  Menyita apa saja yang ada di dalam laci.  Meraih jaket di gantungan.  Tak lupa menyambar uang di laci meja belajar.  


Kamarnya berubah menjadi kapal pecah dalam waktu sepersekian menit singkatnya.  Tanpa menutup pintu lemari, ia keluar kamar menarik koper dengan langkah lebar.


Sesampainya di ruangan tempatnya bersitegang dengan Papanya tadi, Akhmar melenggang begitu saja tanpa menoleh lagi ke arah Adam dan Aldan yang masih berdiri di ruangan itu.


“Akhmar!  Akhmar!” panggil Aldan mengejar adiknya.  Dan ia berhasil mencegat Akhmar saat sudah sampai di teras.


Langkah Akhmar terhenti melihat Aldan berdiri gagah di hadapannya.  Pandangan mata mereka beradu.


“Akhmar, plis!  Pikirin sekali lagi, yang barusan lo marah- marah itu Papa lo, Akhmar!  Tanpa Papa, lo bukan siapa- siapa.”


“Tapi gue nggak pernah minta lahir dari benih dia.  Gue di sini juga bukan maunya gue,” jawab Akhmar dengan angkuhnya.

__ADS_1


“Akhmar, minimal lo pikirin gue.  Gue sedih ngeliat Papa sedih.  Apa lo tega ngeliat Kakak lo ini sedih terus tanpa ada lo di sini?”


“Keputusan gue udah bulat, Mas.  Gue akan buktiin kalo gue masih bisa bernapas tanpa bantuan Papa.”


“Buang sedikit keangkuhan lo itu, Akhmar.  Lo nggak tau gimana perjuangan Papa buat ngebesarin kita.”


“Maaf, Mas.  Kalo Mas cuma mau ngomong kayak gitu, percuma.”  Akhmar yang keras kepala, menyingkirkan bahu Aldan dari hadapannya dan melenggang pergi.


Akhmar menuruni teras dan menuju gerbang.  Sudut bibir Akhmar tertarik getir saat melihat gadis yang berdiri di depan gerbang.  Entah sejak kapan gadis itu berada di sana, sepertinya gadis itu baru muncul.  Tak lain Alya, gadis yang mengenakan baju tanpa lengan.


“Akhmar!” panggil Alya yang rambutnya terkibas kena angin.  Ujung dressnya yang di atas lutut, juga bergerak-gerak tertiup angin.


Alya memegang perutnya.


“Apa lagi yang kau mau, hm?”  Akhmar kesal bukan main, menatap tajam wajah Alya yang memucat.


“Akhmar, jangan marah begini!”  Alya sebelumnya tak pernah melihat pujaan hatinya itu marah.  Ini adalah pertama kalinya menyaksikan kemarahan Akhmar.


“Aa aku mau bilang kk kalau… kalau aku…”  Alya terhenti, takut melanjutkan kalimatnya melihat muka Akhmar yang merah padam.


Alya menangis, sesenggukan.  Tangannya gemetar saat mengeluarkan sebuah benda pipih yang menunjukkan dua garis merah meski terlihat samar.


“Apa itu?  Aku nggak ngerti!” kesal Akhmar.


“Ii ini tes pack,” jawab Alya gugup.


“Tes pack apaan?  Untuk apa kamu tunjukkan ke aku?”


“Ini bukti kalau aku hamil,” lirih Alya.


Tak seperti yang diduga, Akhmar menggelengkan kepala.  “Itu bukan anakku.  Kamu mau bilang kalo kamu hamil trus minta aku supaya nikahin kamu?  Itu nggak akan bikin aku luluh.  Dari kejadian ini, belajarlah untuk menjaga harga diri mu sebagai perempuan, paham?”

__ADS_1


Sontak mata Alya memerah dan air matanya langsung membanjir tanpa ampun.  “Jahat kamu!  Jahat!”


Pandangan Akhmar sekilas terpaut pada lengan polos Alya yang terekspos.  


Alya merasakan lengan tangannya yang polos meremang, ingin menampar Akhmar tapi rasanya percuma.  Ia membalikkan badan dan pergi.


Akhmar menghentikan taksi yang melintas dan memasukinya.


Aldan yang masih berdiri di teras, terpaku menatap taksi hingga hilang dari pandangan.  Dia kemudian balik badan dan menjumpai Papanya.  Aldan tidak bisa membujuk Papanya untuk bisa meralat atau bahkan menarik ulur katanya-katanya tadi.  Kekesalan Papana mungkin sudah *******.  Akhmar memang sudah sangat keterlaluan.  Namun Aldan hanya mengharapkan keluarganya utuh.  Itu saja.


Aldan kemudian kembali menemui Adam.


Tampak Adam menunduk dengan wajah merah padam, kemudian tangannya menyentuh dada dengan dahi bertaut.  Tubuhnya sedikit membungkuk menahan nyeri di dadanya.


“Pa!” panggil Aldan menatap Papanya yang terdiam.


Adam tidak menjawab.  Lelaki paruh baya berbadan gagah itu memejamkan mata sebentar, kemudian tangannya menyentuh dada dengan dahi bertaut erat.  Tubuhnya sedikit membungkuk menahan nyeri di dadanya.


“Papa!” Aldan cemas sambil meraih lengan papanya.


“Tidak apa-apa,” ucap Adam setelah berhasil mengusir rasa ngilu yang begitu dahsyat di dadanya. meski sampai detik ini rasa nyeri itu masih terasa, setidaknya sedikit terusir setelah ia melafazkan dzikir bersama dengan helaan napasnya.  Adam menyangkat tangan ke udara berusaha mengatakan kalau dia baik-baik saja.  


Desi ke arah meja dan mengambil air mineral, ia serahkan gelas kepada Adam dan membantu meneguknya.


“Papa tidak apa-apa.”  Adam melepas napas panjang.  “Akhmar benar- benar keterlaluan.”


“Nggak akan ada yang bisa memutus hubungan ayah dan anak.  Akhmar nggak akan pernah menjadi mantan anak Papa.  Akhmar tetap darah daging Papa. Akhmar memang sudah sangat keterlaluan.  Tapi aku hanya mengharapkan keluarga ini utuh.  Itu saja.”


Adam tersenyum getir menatap wajah teduh sulungnya.  Selalu Aldan yang menjadi penenangnya.  Aldan, putra pertamanya yang sangat jauh berbeda dengan Akhmar.  Aldan begitu baik, perhatian dengan orang tua, taat beribadah, dan rajin mengaji.  Tapi Akhmar?  Kenapa dua anak yang terlahir dari satu rahim bisa memiliki sifat yang bertolak belakang?  


Bersambung...

__ADS_1


Jan lupa klik like dulu yah 😘😘


__ADS_2