Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
116. Kembalinya Gadis Impian


__ADS_3

Lima Tahun kemudian…


.


Lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Aiza menimba ilmu di negeri orang.  ia bahkan berpenampilan sebagai gadis dewasa.  Tubuhnya yang dulu mungil dan kecil, kini sudah berkembang menjadi gadis dewasa.  Pertumbuhan Aiza sangat signifikan, jika saja tidak begitu jeli mengawasi wajah gadis itu, maka pasti tak akan mengenalinya.


Kepulangannya disambut dengan baik oleh Zahra.  Kakaknya itu menjemput Aiza di bandara menggunakan mobil milik Ismail.


Mereka berpelukan.  


Keceriaan di wajah keduanya terus terpancar hingga sampai di rumah.


Qanita telah menyiapkan tumpeng dengan berbagai macam lauk.  Salah satunya ayam kampung bakar.  Nyami.


Aiza langsung mencium tangan abah dan uminya penuh takzim begitu sampai di ruangan utama dimana kedua orang tuanya itu telah menunggu.


“Ya Allah… Alhamdulillah. Akhirnya penantian umi terjawab sudah.”  Umi membingkai pipi Aiza dengan mata berembun, dia tatap wajah cantik yang jelas banyak tampak perubahan.  Wajah itu semakin terlihat dewasa.  Tetap cantik, bahkan semakin cantik.  Apa lagi Aiza kini sudah pandai berdandan.  Lima tahun.  Iya, lima tahun telah berlalu, menunjukkan waktu yang tidak singkat.


“Umi, rindu sekali.”  Qanita mencium kening Aiza.  “Kamu memberi kebanggan buat umi.”


“Aiza juga kangen banget sama umi.  Makasih umi udah menjadi umi yang baik buat Aiza.”  Aiza mencium pipi Qanita beberapa detik.


Suasana benar- benar mengharukan.


“Kalau sudah punya title begini, trus kamu rencananya mau jadi apa?  Bekerja dimana?  Atau mau buka usaha apa gitu?  Atau mau jadi ustadzah?” berondong Ismail.


Aiza mengangkat alis mendengar pertanyaan abahnya yang terkesan mendesaknya supaya bisa bekerja dan menghasilkan uang, sehingga tidak sia- sia pendidikannya yang menjelajah sampai ke luar negeri.


“Nggak harus menjadi pengusaha, atau duduk di kursi penting untuk mengamalkan ilmu, Abah.  Bahkan ilmu tinggi yang Aiza raih pun bisa diterapkan meski hanya di dalam beerumah tangga,” jawab Aiza.


Qanita tersenyum mendengar jawaban cerdas itu.


“Percuma kuliah jauh- jauh, punya title bagus, biaya sekolah pun pakai beasiswa, tapi Cuma mau jadi ibu rumah tangga.”  Ismail menyeletuk.


Semuanya saling pandang, tak heran dengan pemikiran Ismail yang selalu sempit.

__ADS_1


“Abah, ilmu Aiza seenggaknya bermanfaat untuk anak- anak Aiza kelak.”  Aiza tersenyum, nyengir lebar, membuat Zahra gemas dan langsung mencubit pipi cubi adiknya.


“Memangnya kamu sudah punya calon imam?  Kok, sudah membahas rumah tangga dan anak- anak.” Kembali ismail menyeletuk.


Aiza malah terkekeh kecil.


Zahra melirik gemas ke arah Aiza.  Ia mulai melihat perubahan signifikan pada diri Aiza.  Jika dulu Aiza kerap menunjukkan sikap ketus saat menghadapi ismail, kini gadis itu terlihat lebih legowo dan selalu tersenyum.  Satu hal yang tak berubah dalam diri Aiza, tetap lincah.


“Kak Zahra tuh yang seharusnya ditanyain kayak gitu,” sindir Aiza sambil melirik Zahra.


Yang dilirik malah terlihat galau mendadak.  Zahra lalu menunduk.


Ismail mengajak makan tumpeng bersama- sama.


Inilah momen yang ditunggu- tunggu.  Makan bersama dengan keluarga.


***


Malam hari, Aiza melihat Qanita sibuk menyusun makanan di meja makan.  Ada beranake ragam menu masakan yang tersaji.


“Iya, calon suami kakakmu mau datang,” jawab Umi dengan seulas senyum.


“Calon suami?” Aiza terbelalak, lalu tersenyum senang.  “Alhamdulillah.. berarti Aiza bakalan punya kakak ipar.  Kok, Kak Zahra belum ada ngomong ya sama Aiza?”


“Ya belumlah.  Kan kalian baru ketemu beberapa jam.  Trus setelah makan tumpeng tadi siang, kamu langsung ketiduran.  Kapan Kakakmu punya waktu untuk itu?”  Qanita menuangkan minuman ke gelas dan menyusunnya di meja.  Ia begitu terampil dan rajin.


“Calonnya siapa, Umi?  Apa Aiza kenal?”


“Nanti kamu ketemu aja langsung.  Trus kenalan.”  Qanita tersenyum lalu melenggang ke dapur untuk mempersiapkan keperluan lainnya.


Isi kepala Aiza sekarang sedang diserbu banyak pertanyaan.  Kira- kira calon imam kakaknya seperti apa?  Agamanya bagaimana?  Ganteng?  Orang mana?  Ah, sudahlah.  Aiza jadi penasaran sekali.  Dan entah kenapa ia meras aturut bahagia.


Dari pada pensaran berkepanjangan, Aiza menemui Zahra di kamar kakaknya itu.


“Kak Zahra!” panggil Aiza dengan girang.

__ADS_1


Tidak ada sahutan.


“Kak!” ulang Aiza.


“Ya, Za? Kenapa, Dek?” sahut Zahra dari dalam kamar mandi.


Aiza mendekat ke arah pintu kamar mandi, menempelkan lengannya di sisi pintu.  “Idiiih… Yang mau nerima lamaran, mandinya sampe satu jam.  Gosokin apa sih?”


“Yeee… jangan ngeledekin.”


“Cepetan dong, kak.  Aiza mau nanya nih.”


“Nanya apa?” Zahra keluar menggunakan handuk.  Rambutnya basah.


“Siapa calon suami kakak?”  apa Aiza kenal?”


“Hmmm… Penasaran.  Nanti kan orangnya datang.  Kamu lihat aja sendiri.”


Aiza bersungut.  Duduk di sisi kasur, mengamati Zahra yang mengenakan pakaian.  “Kakak udah mulai rahasia- rahasiaan nih.”


“Enggak ngerahasiain.  Tapi kan nanti kamu akan langsung tahu.”  Zahra mengelap rambut pakai handuk seusai mengenakan pakaian.


“Oke, deh.”  


Suara hape Zahra terdengar sibuk sekali.  Ada banyak chat masuk.


Aiza melirik ke arah hape kakaknya.  Ada nama Adnan salah satu pengirim chat.


“Eh.”  Zahra menyambar hape dan menjauhkannya dari Aiza.  Cepat ia membuka chat.  Agak kikuk.  “Kamu bantuin umi dulu gih.  Nanti kakak nyusul.”


Aiza mengangguk dan berlalu keluar kamar.  Isi kepalanya masih dibalut dnegan banyak pertanyaan tentang sosok pria yang telah mengisi hati kakaknya.  Siapa dia?  kira- kira wajahnya seperti apa? 


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2